Kaji ulang Shalat #2: Dampak Shalat*

🔃Shalat adalah ajang audiensi dan berkomunikasi dengan Allah melalui ucapan dan perbuatan.

❤Dengan Shalat, kita menghadirkan Allah sehingga menjadi kebahagiaan batin tersendiri.

🔀Shalat berperan sebagai sarana untuk membentuk akhlaq, tingkah laku dan budi pekerti yang lebih baik dalam keseharian.

☝Shalat yang tidak menghasilkan budi pekerti luhur tidak sesuai dengan keinginan Allah agar shalat untuk mencegah berbuat jahat dan keji.

_”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada engkau, yaitu Kitab Suci, dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang kotor dan keji, dan sungguh ingat kepada Allah adalah sangat agung (pahala nya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”  (Q., 29:45)._

😈Mencegah kejahatan dan kekejian  merupakan hasil pendidikan shalat. Jika shalat seseorang tidak mencapainya maka shalatnya adalah kebohohongan.

_“Sudahkah engkau lihat orang yang mendustakan agama?  Yaitu dia yang menghardik anak yatim, dan tidak dengan tegas menganjurkan pemberian makan kepada orang miskin! Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lupa akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan” (Q., 107: 1-8)._

❤Shalat seharusnya menghasilkan rasa kemanusiaan dan kesetiakawanan sosial dalam sikap penuh santun kepada anak yatim dan memperjuangkan nasib orang miskin.

👐Shalat dimulai dengan pernyataan hubungan dengan Allah (takbîr) dan diakhiri dengan pernyataan hubungan dengan sesama manusia (taslîm) yang melambangkan shalat sebagai sarana pendidikan budi luhur dan kemanusiaan.

💡Ucapan  salâm adalah doa keselamatan, kesejahteraan, dan kesentosaan kepada orang banyak yang diucapkan sebagai pernyataan kemanusiaan dan solidaritas sosial.

Dipublikasi di Ibadah, Religi, Shalat | Tag | Meninggalkan komentar

Kaji ulang Shalat #1: Shalat Puncak Ibadah*

Salah satu nikmat terbesar yang ingin didapat manusia adalah mendekatkan diri kepada sang Khalik dan Zat Yang Maha Segalanya.

Untuk itu ada banyak tarekat yang menawarkan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Namun sebenarnya puncak dari berbagai sarana pendekatan diri kepada Allah adalah melalui shalat, bukan metode-metode lain  yang diajarkan tarekat.

Sehebat apapun cara yang diajarkan tarekat, nilainya masih lebih rendah dibanding shalat. Jika saja shalat kita hayati dengan betul,  maka itulah puncak ibadat kita.

_Yang  harus di ingat, shalat bukan hanya untuk dikerjakan akan tetapi harus ditegakkan._ Perintah shalat dalam Al-Quran selalu menggunakan kata “aqimish-shalâh” (tegakkan shalat), yang berarti menghayati proses ibadat shalat secara lahir dan batin.

Secara lahiriah berupa penghayatan terhadap gerakan shalat seperti ruku dan sujud.

Secara batiniah berupa penghayatan terhadap makna yang sedang dibaca di dalam shalat.

Untuk mengetahui apakah shalat kita sudah betul maka lihatlah efek shalat terhadap kehidupan keseharian kita: baik yang berhubungan dengan Allah (hablum minallah), berhubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) dan seluruh ciptaan Allah. @def

Dipublikasi di Ibadah, Religi, Shalat | Meninggalkan komentar

Kajian Al Baqoroh 31

” Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

32.  Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami;

 

Surat Al-Baqarah ayat 31-32 menginformasikan bahwa manusia dianugerahkani Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda, misalnya fungsi api, fungsi angin dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan dimulai dengan mengajarkan kata kerja, tetapi mengajarnya terlebih dahulu nama-nama. Ini Papa, ini Mama, itu pena dan sebagainya. Itulah sebagian makna yang dipahami oleh para ulama dari firman-Nya : Dia mengajar Adam nama-nama (benda) seluruhnya.

Hal ini pun ditegaskan oleh Hadits tentang syafa’atul uzhma. Nabi saw. bersabda :“ … lalu mereka datan kepada Adam seraya berkata, Engkau adalah bapak manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan kekuasaan-Nya, Dia membuat para malaikat bersujud kepadamu, dan Dia mengajarimu nama-nama seluruh perkara ” (HR. Bukhari).

Manusia dianugerahi Allah potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda. Misalnya fungsi api, angin, air dan sebagainya. Dia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia (anak kecil) bukan di mulai denghan kata kerja, tetapi mengajarkannya terlebih dahulu nama-nama.

Sebagian ulama ada yang memahami pengajaran nama-nama kepada Adam dalam arti mengajarkan kata-kata. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ketika dipaparkan nama-nama benda itu, pada saat yang sama beliau mendengar suara yang menyebut nama benda itu pada saat dipaparkannya, sehingga beliau memiliki kemampuan untuk memberi kepada masing-masing benda nama-nama yang membedakannya dari benda yang lain.

Pendapat ini lebih baik dari pendapat pertama. Ia pun tercakup oleh kata mengajar karena mengajar tidak selalu dalam bentuk mendiktekan sesuatu atau menyampaikan suatu kata atau ide, tetapi dapat juga dalam arti mengasah potensi yang dimiliki peserta didik sehingga pada akhirnya potensi itu terasah dan dapat melahirkan aneka pengetahuan.

Dengan demikian salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menagkap bahasa sehingga ini mengantarkannya untuk “mengetahui”. Di sisi lain kemampuan manusia merumuskan ide dan memberi nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.

Di samping itu nama-nama segala benda yang oleh para ahli tafsir diartikan sifat segala sesuatu serta ciri-cirinya yang lebih dalam, segala sesuatu disini termasuk juga perasaan. Ciri-ciri dan perasaan tertentu yang berada di luar para malaikat oleh Tuhan diberikan pada sifat manusia. Dengan demikian manusia mampu menggunakan cinta kasih dan memahami arti cinta kasih dan dengan ini manusia membuat rencana serta berinisiatif, sesuai kedudukannya sebagai khalifah.

Setelah mengajari Adam tentang segala macam nama, Allah mengemukakan hal itu kepada para malaikat dengan itu mereka mengetahui bahwa Adam (manusia) mempunyai kemampuan untuk mengetahui apa yang tidak mereka ketahui dan manusia sanggup memegang kekhalifahan di bumi. Karakternya sebagai penumpah darah seperti dikhawatirkan malaikat tidak menghilangkan hikmah Allah menjadikan Adam (manusia) sebagai khalifah. Ucapan malaikat “Maha Suci Engkau“ yang mereka kemukakan sebelum menyampaikan ketidaktahuan mereka, menunjukkan betapa mereka tidak bermaksud membantah atau memprotes ketetapan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, sekaligus sebagai pertanda “penyesalan“ mereka atas ucapan atau kesan yang ditimbulkan oleh pertanyaan itu.

 

Dipublikasi di Religi | Meninggalkan komentar

Kajian Al Baqoroh : 30

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, ”Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana. Sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 30)
Ayat ini menceritakan awal keberadaan dan eksistensi manusia di muka bumi ini.  Di hadapan para malaikat  Allah menyampaikan keputusan-Nya kepada para malaikat tentang rencana penciptaan manusia di bumi dan akan mengangkatnya menjadi khalifah pengganti Allah dalam memakmurkan bumi.
Penyampaian kepada malaikat ini penting, karena malaikat akan di bebani sekian banyak tugas menyangkut manusia. Ada yang akan bertugas mencatat amal-amal manusia, ada yang bertugas memeliharanya, ada yang membimbingnya dan sebagainya. Penyampaian ini bisa jadi setelah penciptaan alam raya dan kesiapannya untuk di huni manusia pertama (Adam) dengan nyaman.
Mendengar rencana tersebut, tidak seperti biasanya para malaikat yang selalu berkata sami’na- wa at.a’na- terkejut mendengar pernyataan iradah Allah Swt.  sehingga tercetus pertanyaan ”Apakah Engkau akan menjadikan seorang yang merusak bumi dan menumpahkan darah sebagai khalifah di bumi?”
Inilah reaksi para malaikat yang mempertanyakan kebijakan Allah Swt. mengangkat Manusia sebagai  khalifah sehingga terjadilah dialog antara Allah dan para malaikat perihal penciptaan manusia di bumi karena adanya perbedaan pandangan.
Para mufassir sepakat bahwa pertanyaan para malaikat itu bukan bermaksud untuk membantah kehendak Allah Swt. atau dilandasi sikap hasud terhadap Adam as. Sebab, mereka adalah hamba Allah yang mulia, taat, dan tidak pernah membangkang perintah-Nya (QS at-Tahrim: 6; al-Anbiya’: 26-27). Perkataan mereka semata-mata bertujuan untuk meminta kejelasan atau untuk mengungkap hikmah tersembunyi di balik penciptaan itu.
Dari manakah para malaikat mengetahui sifat-sifat buruk manusia itu, padahal manusia belum diciptakan?
Mereka menduga berdasarkan ilmunya bahwa khalifah ini akan merusak dan menumpahkan darah. Dugaan itu mungkin berdasarkan pengalaman terhadap banû al-jân yang sebelumnya menghuni bumi; bisa juga dari pemahaman mereka terhadap tabiat basyariyyah, bahwa mereka diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS al-Hijr: 26); atau dari pemahaman mereka dari kedudukan khalifah yang bertugas menyelesaikan kezaliman yang terjadi di antara manusia dan mencegah manusia dari perkara haram dan dosa, atau bisa juga berdasarkan asumsi bahwa karena yang ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, maka pasti makhluk itu berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih mensucikan Allah SWT.
Menurut Muhammad Abduh, ayat ini mengisyaratkan bahwa setelah menciptakan bumi, mengelola dan mengaturnya, memberikan kekuatan-kekuatan rohani yang dikehendakinya yang menjadi penegak bumi, serta menjadikan semacam kekuatan bagi masing-masing yang senantiasa berada padanya, Allah pun menciptakan manusia dengan dilengkapi kekuatan yang mampu membuat mereka dapat mengelola dan menata segala bentuk kekuatan serta menundukkanya untuk kemakmuran bumi.
Dengan kemampuan akal, manusia bisa mengelola alam semesta dengan penuh kebebasan. Manusia dapat berkreasi, mengolah pertambangan, tumbuhtumbuhan, dapat menyelidiki lautan, daratan dan udara serta dapat merubah wajah bumi yang tandus menjadi subur dan bukit yang terjal bisa menjadi dataran atau lembah yang subur. Dengan kemampuan akalnya, manusia juga dapat merubah jenis tanaman baru sebagai hasil cangkok, sehingga tumbuh pohon yang sebelumnya belum pernah ada. Semuanya ini diciptakan Allah yang maha kuasa untuk kepentingan umat manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia dianugerahi oleh Allah dengan bakat-bakat dan keistimewaan dalam dirinya. Sehingga ia akan mampu melaksanakan funfsinya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan segala kemampuannya, manusia akan dapat mengungkapkan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah.
Kedudukan manusia dimuka bumi ini adalah sebagai khalifah Allah atau pengganti Allah, yang diberi tugas untuk memelihara dan melestarikan alam, mengambil manfaat, serta mengelola kekayaan alamnya sehingga terwujud kedamaian dan kesejahteraan segenap manusia. Menurut malaikat dirinyalah yang lebih baik berhak memikul tugas tersebut dengan bukti bahwa mereka tidak mempunyai nafsu, selalu bertasbih dan memuja Allah.
Mendengar pertanyaan mereka, Allah menjawab singkat tanpa membenarkan atau menyalahkan, karena memang akan ada diantara yang diciptakannya itu berbuat seperti yang diduga malaikat. Allah hanya menjawab singkat, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Makna Khalifah 
Khalifah memiliki dua makna, yaitu menggantikan dan menguasai. Makna menggantikan dapat kita lihat pada ayat 30 Surah al-Baqarah ini. Manusia ditunjuk Allah Swt. sebagai pengganti Allah Swt. dalam mengolah bumi sekaligus memakmurkannya. Manusia diberi tugas dan tanggung jawab untuk menggali potensi-potensi yang terdapat di bumi ini, mengolahnya, dan menggunakannya dengan baik sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah SWT.
Makna khalifah yang kedua adalah menguasai atau menjadi penguasa. Makna ini dapat kita temukan dalam kata khalifah yang terdapat dalam Surah S.ad [38] ayat 26 yang artinya: ”(Allah Swt. berfirman) Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.” Pada ayat ini disebutkan bahwa Allah Swt. menjadikan Nabi Daud a.s. sebagai khalifah di bumi dengan arti menjadi penguasa di kalangan Bani Israel. Saat di antara kaum Bani Israel terdapat perselisihan, Nabi Daud selaku penguasa diperintahkan untuk memberikan keputusan dengan adil. Selaku penguasa, seorang khalifah dituntut untuk senantiasa berbuat adil kepada masyarakatnya. Ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa akan memberikan akibat buruk bagi korbannya dan masyarakat secara umum.
Terlepas dari kedua makna khalifah, manusia menempati kedudukan istimewa di muka bumi ini. Bukan berarti manusia diistimewakan kemudian boleh berbuat semaunya, melainkan sebaliknya. Kedudukan istimewa manusia menuntut kearifan dan tanggung jawab besar terhadap alam dan masyarakatnya. Amanah ini merupakan tugas bagi semua manusia. Dengan demikian, setiap manusia harus melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Melakukan tindakan yang dapat merusak alam menyebabkan manusia lalai terhadap tugas yang diembannya.
Perspektif Ke-Khilafahan
Pembahasan khalifah dalam dunia Islam tidak hanya berhenti pada saat Nabi Adam dijadikan khalifah seperti dalam surat Al- Baqarah 30. Karena arti khalifah sendiri adalah pengganti atau wakil, maka dalam sejarah perkembangan Islam pasca Nabi Muhammad, kata khalifah sering kali di pakai oleh pala pemikir kemudian,
Generasi awal khalifah adalah khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar bin Khattab,Ustman Bin Affan dan Ali bin Abu Thalib), generasi ini sering disebut al-khulafa al-rasyidin, pasca generasi ini tidak disebut lagi khalifah rasyidah, bahkan seringkali disebut Dinasti (Dinasti Umayah, Abbasiyah, Saljuk, Buwaih, dll).
Ketika Allah menjadikan Adam (juga anak cucunya), sebagai wakil Tuhan di muka bumi, tidak semana-mena menjadikannya, pasti dibekali engan beberapa potensi, yaitu fihtrah,yaitu kecondongan kepada kebenaran. Dari sinilah maka manusia akan selalu berusaha menuju Tuhan, karena Tuhan merupakan puncak Kebenaran, dan tidak mungkin ada dua puncak Kebenaran, inilah nilai pertama, ke-Tauhidan.
Dari tugas manusia sebagai pemegang amanat wakil Tuhan di muka bumi ini, Ali Syariati mengutip pendapat Jalal Al-Din Rumi, bahwa Amanat itu berarti kehendak bebas (free will) manusia. Namun secara logika, manusia tak mungkin bebas seutuhnya, jika bebas seutuhnya, maka Tuhan akan terbatas dan tak mungkin Tuhan akan dibatasi oleh ciptaannya, dari kebebasan yang seperti inilah akan memunculan rasa tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di muka bumi.
Lalu ketika Adam di beri “ujian” menyebutkan nama-nama Adam hafal secara utuh, jika melihat teks tersebut bahwa Adam di bekali potensi ingatan, penurut penulis adalah rasio, dari rasiolah manusia memiliki pengetahuan, dan ilmu pengetahuan akan menuntun manusia untuk bisa membangun beradapan di muka bumi, sebagai salah satu pengejawantahan memikul tugas wakil Tuhan di muka bumi.
Dipublikasi di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Kitab, Malaikat, Religi | Tag | Meninggalkan komentar

Kajian Al Baqoroh 29

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّٮٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَٲتٍ۬‌ۚ وَهُوَ
بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيمٌ۬
“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian kemudian Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(Al-Baqarah 29)

Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bukti keberadaan dan kekuasaan-Nya kepada makhluk-Nya melalui apa yang mereka saksikan sendiri pada diri mereka, lalu Dia menyebutkan bukti lain melalui apa yang mereka saksikan, yaitu penciptaan langit dan bumi.

Istawaa ilas samaa (berkehendak atau bertujuan ke langit), makna lafadz ini mengandung pengertian kedua lafadz tersebut, yakni berkehendak atau bertujuan, karena ia di-muta’addi-kan dengan memakai huruf “ilaa”. Fasawwaahunna sab’a samaawaat (lalu Dia menciptakan tujuh langit), lafadz “as-samaa” dalam ayat ini merupakan isim jenis, karena itu disebutkan sab’a samaawaat. Wahuwa bikulli syai-in ‘aliim (Dia Maha Mengetahui segala sesuatu), yakni pengetahuan-Nya meliputi semua makhluk yang telah Dia ciptakan. Pengertiannya sama dengan ayat lain, yaitu firman-Nya :

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kalian nampakkan dan yang kalian rahasiakan?) .” (Q.S. Al-Mulk : 14) 

Rincian makna Q.S. Al-Baqarah ayat 29 ini diterangkan di dalam surat Hamim Sajadah yaitu melalui firman-Nya :

Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kalian adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa?”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Fushshilat : 9-12) 

Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala memulai ciptaan-Nya dengan menciptakan bumi, kemudian menciptakan tujuh langit. Memang demikianlah cara membangun sesuatu, yaitu dimulai dari bagian bawah, setelah itu baru bagian atasnya.Para ulama tafsir menjelaskan hal ini, keterangannya akan dikemukakan sesudah ini, insya Allah.

Adapun mengenai firman-Nya :

“Apakah kalian yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah Telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, Dan dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.” (Q.S. An-Naazi’aat : 27-33) 

Maka sesungguhnya huruf tsumma dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 29 ini hanya untuk menunjukkan makna ‘ataf khabar kepada khabar, bukan ‘ataf fi’il kepada fi’il yang lain.

Menurut suatu pendapat, ad-dahaa (penghamparan) bumi dilakukan sesudah penciptaan langit dan bumi. Demikianlah menurut riwayat Ali Ibnu Thalhah, dari Ibnu Abbas.

Dia menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini sebagai suatu kebaikan dan kasih sayang untukmu agar diambil manfaatnya, dinikmati, dan dijadikan pelajaran.

Ayat yang mulia ini merupakan sebuah dalil yang menunjukkan bahwasanya setiap hal itu pada dasarnya adalah mubah dan suci, karena disebutkan dalam kerangka suatu anugerah. Dengan nash tersebut, maka hal-hal yang kotor tidak termasuk di dalamnya, dan sesungguhnya keharaman hal-hal yang kotor itu pun telah diambil dari pemahaman utama ayat ini (fahwa al-ayat), penjelasan akan maksudnya dan bahwasanya Allah menciptakannya untuk kemaslahatan kita, maka apa pun yang ada bahayanya dalam hal itu maka tidak termasuk di dalamnya, dan sebagai penyempurnaan nikmatnya, Dia melarang kita dari hal-hal yang kotor demi untuk membersihkan kita, dan firmanNya,

Dipublikasi di Religi | Meninggalkan komentar

Kajian AL Baqoroh 28

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah : 28)

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita untuk  melihat kembali tentang asal-usul kita. Dari tiada kemudian kita diadakan, entah darimana asal kita dahulu. Mungkin di bayam atau sayur-sayuran, di ranting-ranting, atau di air yang mengalir, di serangga, dan lain sebagainya, kemudian dihidupkanlah kita. Terbentuknya mani dalam shulbi ayah dan taraib dalam tubuh ibu kita, yang berasal dari darah, dan darah itu berasal dari makanan, hormon, calori dan vitamin. Kemudian kita masuk dalam rahim ibu kita, dikandungnya dalam sekian bulan lalu diberi akal. Mengembara di permukaan bumi berusaha untuk mencukupi seluruh kebutuhan hidup. “Kemudian Allah mematikan kamu.” Dicabut nyawa kita untuk dipisahkan antara jasad dan ruh kita.

Kemudian badan kita akan diantarkan kembali kepada asal kita. Asalnya dari tanah akan dikembalikan ke tanah. Yang asalnya dari ranting akan dikembalikan ke ranting. Yang asalnya dari air akan dikembalikan ke air.

Lalu Allah menghidupkan kamu” Yaitu hidup untuk yang ke dua kalinya. Sebab nyawa yang terpisah tadi tidak kembali ke tanah, akan tetapi pulang ke tempat yang telah ditentukan buat menunggu panggilan Hari Kiamat. Itulah hidup yang ke dua kalinya.

Kehidupan yang ke dua akan lebih baik dan mulia, atau sebaliknya akan lebih sengsara dan hina. Dalam kehidupan yang ke dua akan ditentukan oleh bagaimana pengembaraan kita selama hidup di alam dunia. Apa yang sudah kita usahakan, kita cari dan kita raih? Sebab kita semua akan kembali kepada-Nya sesuai dengan ujung ayat 28, “Kemudian kepada-Nyalah kamu akan kembali.

Artinya, setelah kita semua dihidupkan-Nya kembali, kita akan dipanggil kembali kehadirat Allah SWT. untuk diperhitungkan baik-baik, dicocokkan dengan catatan yang telah di tulis oleh Malaikat terhadap seluruh amal dan perbuatan kita. Kemudian setelah itu ada keputusan dari Allah ke tempat mana kita akan digolongkan. Kepada golongan orang-orang yang bahagia atau kepada golongan orang-orang yang celaka. Disinilah keadilan yang sebenarnya akan berlaku dan tidak ada lagi kedzaliman. Karena sudah tidak ada lagi suap-menyuap, tidak  ada lagi makelar kasus, tipu muslihat dan lain sebagainya. Di sini tidak ada lagi belas kasihan dari siapapun, termasuk yang datangnya dari Allah. Jika mendapatkan celaka tidak lain adalah karena kesalahannya sendiri selama menempuh kehidupan di dunia. Begitu juga apabila mendapatkan kebahagiaan adalah karena bekal yang bisa dibawanya selama hidupnya di dunia.

Itulah Allah yang telah membuat tingkat kehidupan yang ditempuh oleh manusia. Dari situ akankah kita menjadi orang yang kufur kepada-Nya? Atau akankah kita berbuat sesuka hati dalam kehidupan yang pertama ini? Bukankah kita tidak mungkin akan bisa membebaskan diri kita dari garis yang telah ditentukan Allah? Namun Allahpun tidak menyia-nyiakan kita, diantara kita ada yang diutus untuk menjadi Rasul, kemudian Allah menurunkan-Nya wahyu lewat Rasul itu, masih juga kita diberi petunjuk lewat agama sebagai pegangan hidup kita. Semenjak kita lahir dan bisa membuka mata, kita selalu dibimbing.
Patutkah kita yang telah diberikan rahmat, nikmat, dan hidayah oleh Allah seperti itu masih memungkiri dan mengkufuri? Mari pergunakan akal sehat kita untuk tafakkur, sudah patutkah perbuatan kita seperti ini!

Dipublikasi di Religi | Meninggalkan komentar

Kajian Al-BAQARAH:26-27

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:”Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, [26]. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”.[27]

Sebab Turun Ayat

Tatkala Allah Ta’ala memberikan dua permisalan terdahulu, yaitu permisalan api dan air,* orang-orang Munafiq berkata: “Allah adalah Maha Tinggi dan Maha Mulia ketimbang sekedar memberikan permisalan seperti ini!”. Lalu Allah menurunkan ayat ini {“Sesungguhnya Allah tiada merasa malu…” }; sebagai bantahan atas pernyataan mereka tersebut.

(26). (Sesungguhnya Allah tiada merasa malu membuat perumpamaan) ; Allah Ta’ala menurunkan ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir manakala mereka berkata: “Allah adalah Maha Mulia dan Maha Agung daripada hanya sekedar memberikan permisalan-permisalan tersebut”. Selanjutnya mereka berkata lagi: “Sesungguhnya di dalam al-Qur’an disebut nama lebah (an-Nahl), laba-laba (al-‘Ankabuut) dan semut (an-Naml) padahal semuanya ini tidak layak dibicarakan oleh orang-orang yang fashih”. (berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu) ; yakni lebih kecil darinya seperti sayapnya. Bisa juga yang dimaksud dengan itu, yang lebih besar darinya. (Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa hal itu) ; yakni perumpamaan itu. (benar); dan tsabit (tetap/eksis), yaitu lawan dari bathil. [Zub]. Sesungguhnya orang-orang yang menyikapi perumpamaan yang diberikan oleh Allah tersebut terbagi menjadi dua kelompok: ada kelompok orang-orang beriman yang mereka itu yakin hal itu adalah benar (dari Rabb mereka), juga ada kelompok orang-orang Kafir yang mengingkarinya dan berkata seperti halnya para penentang (kebenaran): (“Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”). [Ays] . (Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk) ; yakni dengan perumpamaan ini Allah menghendaki untuk menyesatkan banyak kaum, dan juga memberikan petunjuk kepada yang lainnya. [Zub]. (Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik) ; ini adalah bagian dari Kalam Allah Ta’ala – dan maknanya: mereka itu berbuat fasik maka Allah menyesatkan mereka karena kefasikan mereka dan telah meremehkan Kalam Rabb mereka – . Kata al-Fisq dalam terrminologi syara’ maknanya adalah keluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala; bisa terjadi terhadap orang yang keluar karena kekufuran atau keluar karena kemaksiatan.

(27). ((yaitu) orang-orang yang melanggar) ; kata an-Naqdh (pelanggaran) -dalam ayat tersebut- maknanya adalah merusak sesuatu yang telah dikuatkan/dikokohkan baik berupa bangunan, tali ataupun janji. Dan firmanNya: (melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh); yaitu perjanjian yang telah dikokohkan kepada mereka di dalam al-Qur’an dan mereka telah menyetujuinya – serta mereka komitmen untuk ta’at dan mutaaba’ah (follow up) – kemudian mereka kufur lantas melanggarnya. [Zub]. (dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya) ; yakni (menghubungkan) rahim/silaturrahim dan kekerabatan. [Zub]. (dan membuat kerusakan di muka bumi) ; mereka melakukan perbuatan maksiat diatasnya. [Zub]. (Mereka itulah orang-orang yang rugi) ; mereka adalah penghuni neraka – jadi, hal ini bukan sebagaimana yang mereka sangka bahwa dengan melanggar perjanjian tersebut, mereka akan mencapai kemaslahatan yang mereka idam-idamkan. Artinya, bahwa menepati perjanjian dengan Allah adalah (justru) merupakan kemaslahatan yang paling besar sedangkan mereka malah menyia-nyiakannya -. [Zub]

Bahwa rasa malu hendaknya tidak mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan ma’ruf/baik, mengatakannya dan memerintahkan untuk melakukannya. Sangat baik sekali memberikan permisalan-permisalan dalam upaya mendekatkan akal kepada makna-makna yang ingin dipahami. Bila Allah menurunkan suatu kebaikan berupa petunjuk dan lainnya maka orang-orang yang beriman akan bertambah intensitas mereka dalam mengikuti petunjuk dan melakukan perbuatan baik sedangkan orang-orang kafir sebaliknya, akan bertambah intensitas mereka dalam mengikuti kesesatan dan melakukan perbuatan jahat. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan kesiapan mental dari masing-masing kelompok tersebut.

Peringatan terhadap sifat al-Fisq (kefasikan) dan implikasinya yang berupa pelanggaran terhadap perjanjian, pencegatan terhadap kebaikan dan pencegahan terhadap perbuatan ma’ruf.

Dipublikasi di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Kitab, Religi | Meninggalkan komentar

Kajian Al-BAQARAH:25

“ Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:”Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS. 2:25)

Tatkala Allah Ta’ala menyinggung tentang neraka dan penghuninya, maka adalah sinkron bila Dia Ta’ala juga menyinggung tentang surga dan penghuninya sehingga at-Tarhib wat Targhib (ultimatum dan sugesti) dapat menjadi sempurna. Kedua metode ini (at-Tarhib wat Targhib) merupakan sarana dalam memberikan hidayah dan ishlah. [Ays]

(25). (Dan sampaikanlah berita gembira (at-Tabsyir) kepada mereka yang beriman) ; makna at-Tabsyiir adalah memberitakan sesuatu yang bekas/pengaruhnya tampak di kulit (raut muka) lantaran gembira dan senang. (dan berbuat baik [ash-Shalihat]) ; perbuatan-perbuatan yang lurus (dilakukan secara istiqamah), yang mereka dituntut untuk melakukannya dan diwajibkan atas mereka – atau yang dianjurkan oleh Allah Ta’ala untuk dilakukan – sebab surga hanya dapat diraih dengan keimanan dan amal yang shalih. (bahwa bagi mereka disediakan surga-surga) ; surga-surga (jannaat) maknanya adalah al-Basaatiin (kebun-kebun/taman-taman), yaitu nama rumah pahala secara keseluruhan yang menaungi surga-surga yang banyak. (yang mengalir sungai-sungai di dalamnya) ; yakni mengalir dibawah pepohon-pepohonannya dan rumah-rumah tinggal didalamnya. (Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu ) ; dari berbagai jenisnya. (mereka mengatakan:’ Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ‘ ) ; bahwasanya ia berupa (buah-buahan) yang serupa, sebanding dan sejenis dengannya, dimana warnanya serupa meskipun berbeda dalam ukuran, citarasa dan aromanya. Bila mereka memakannya, mereka mendapatkan rasa yang bukan seperti rasa yang dulu (pernah mereka nikmati). (Mereka diberi buah-buahan yang serupa) ; dalam kualitasnya dan tidak ada yang rusak sedikitpun. (dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci); yang dimaksud dengan isteri-isteri yang suci adalah bahwa mereka tidak seperti wanita-wanita lainnya yang mengalami haidh dan nifas serta kotoran-kotoran lainnya. (dan mereka kekal di dalamnya) ; kekal (al-Khuluud) artinya tinggal didalamnya secara kontinyu dan tidak terputus lagi. (Zub)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya agar memberitakan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang istiqamah tentang rizki yang disediakan-Nya untuk mereka berupa surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, yang didalamnya ada isteri-isteri yang suci, bersih serta terbebas dari seluruh kotoran-kotoran dan penyakit-penyakit; mereka kekal didalamnya. Dia Ta’ala juga memberitakan tentang mereka yang saat disediakan kepada mereka berbagai jenis buah-buahan, lalu berkata: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu ketika di dunia’. Demikian pula, Dia Ta’ala memberitakan bahwa yang diberikan kepada mereka itu adalah serupa warnanya namun tidak serupa rasanya akan tetapi memiliki kualitas plus dari sisi keindahan dan kesempurnaannya serta kelezatannya yang tak terkira. [Ays]

Keutamaan iman dan amal shalih yang karenanya – setelah keutamaan dan rahmat yang diberikan oleh Allah – kenikmatan seperti yang tersebut dalam ayat diatas dapat dirasakan oleh para pelakunya.

Mengimingkan orang-orang yang beriman akan kenikmatan yang ada di Daarus Salam (rumah kedamaian, surga) dan kenikmatan berdiam didalamnya sehingga keinginan mereka terhadapnya dan amal yang mereka lakukan untuk mendapatkannya semakin bertambah, yaitu dengan berbuat kebajikan-kebajikan dan meninggalkan semua bentuk kemungkaran.

Dipublikasi di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Kitab, Religi | Meninggalkan komentar

Kajian Al Baqoroh 23-24

“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. (23).

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir (24) “.

Tatkala Allah Ta’ala dalam ayat sebelumnya menetapkan pokok agama (Ashluddin), yaitu tauhid yang merupakan kegiatan spritual beribadah kepada Allah semata; maka pada ayat ini Dia menetapkan pokok agama kedua, yaitu kenabian RasulNya, Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam.

Hal ini terjadi melalui cara pembuktian (berupa tantangan) ; “Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, Rasul Kami, Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam maka buatlah satu surat (saja) dari yang semisal surat-surat yang ada dalam al-Qur’an atau dari seorang yang buta huruf semisal hamba Kami dalam kebutahurufannya; Maka jika kamu tidak mampu membuatnya karena kelemahan kamu maka jagalah diri kamu dari api neraka dengan beriman kepada wahyu ilahi dan beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah disyari’atkanNya”. [Ays]

Dari Abu Hurairah radhiallaahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang nabipun dari para nabi melainkan diberikan kepadanya semisal ayat-ayat yang karenanya manusia beriman, dan sesungguhnya yang telah diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadaku; maka aku berharap menjadi (nabi) yang paling banyak pengikutnya diantara mereka (para nabi) pada hari Kiamat”. (manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir) ; [Zub]

Pengukuhan kenabian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam yang dimantapkan dengan turunnya al-Qur’an.

Menguatkan akan kelemahan manusia untuk membuat satu surat saja semisal surat-surat yang ada dalam al-Qur’an al-Karim setelah berlangsung selama 1406 tahun. Tantangan untuk itu tetap berlaku namun belum ada mereka yang mampu membuat satu surat saja semisal surat-surat yang ada dalam al-Qur’an tersebut.

Hal ini (sebagai bukti kebenaran dari) firmanNya: “dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)”.

Dipublikasi di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Kitab, Religi | Meninggalkan komentar

Kajian Al BAQARAH:21-22

“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. (21).

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui “. (22). [al-Baqarah: 21-22]

Setelah berbicara tentang orang-orang mukmin yang beruntung dan orang-orang kafir yang merugi, serta kaum Munafiqin yang menipu Allah dan orang beriman. Kemudian Allah menyeru ketiga golongan tersebut dengan ungkapan “an-Naas” (manusia) yang berlaku bagi manusia semuanya di setiap tempat dan masa, dan memerintahkan mereka agar beribadah kepadaNya untuk menjaga diri mereka dari kerugian.

Allah memulai dengan nikmat penciptaan mereka  karena tanpa penciptaan maka tidak akan ada nikmat yang lainnya. Seluruh manusia baik beriman maupun kafir pada dasarnya mengakui bahwa Allah adalah yang menciptakan mereka (al-Khaliq) sebagaimana dalam ayat:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:”Allah”…, [QS. 43/az-Zukhruf:87]

Diantara petunjuk kedua ayat diatas adalah:

  1. Wajibnya beribadah kepada Allah Ta’ala karena ia (ibadah) merupakan ‘illat adanya kehidupan secara keseluruhan. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘wahai anak cucu Adam! Sungguh Aku telah menciptakan segala sesuatu karena-Ku, dan Aku menciptakanmu juga karena-Ku ‘; yakni untuk beribadah kepadaNya. Dalam al-Qur’anul Karim, Allah berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan bangsa jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku”.
  2. Wajibnya ma’rifatullah Ta’ala ** (mengenal Allah Ta’ala) melalui asmaNya dan sifat-sifatNya
  3. Haramnya segala bentuk kesyirikan; syirik kecil, besar, yang nampak dan tersembunyi.
Dipublikasi di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Kitab, Religi | Meninggalkan komentar