Kajian Al Baqarah Ayat 14-15

Al-Baqarah, ayat 14-15 :

وَإذَا لقُوا ٱلذِيْنَ أٰمَنُوْا قَالُوْا أٰمَنَّا وَإذَا خَلَوْا إلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ قَالُوْا إنَّامَعَكُمْ إنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزءُوْنَ ۝ ٱللهُ يَسْتَهْزئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِى طُغْيٰنِهِمْ يَعْمَهُوْنَ ۝

Dan bila mereka berjumpa dengan orang beriman, mereka berkata, ”Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ”Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

Allah Subhanahu Wata’ala Memberitahukan tentang salah satu karakter orang-orangmunafik, bahwa ketika ada orang yang beriman berkata kepada mereka : “Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi, dengan melakukan kemunafikan dan bersifat loyal terhadap orang-orang Yahudi dan orang-orang Kafir.” Maka mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanya ingin melakukan dan membuat perbaikan.” Maka AllahSubhanahu Wata’ala menampik pengakuan bohong mereka itu dan menegaskan bahwasanya merekalah yang sesungguhnya membuat kerusakan, bukan orang-orang yang beriman, yang berani menentang mereka. Akan tetapi sayang sekali, orang-orang munafik tidak menyadari hal itu dikarenakan kekafiran mereka yang sudah menguasai hati sanubari mereka. Allah Subhanahu Wata’ala juga memberitahukan bahwa ketika ada orang beriman yang menasehati mereka dan mengatakan, “Teguhkanlah iman kalian, dan berimanlah sebagaimana si Fulan dan si Fulan sepertiAbdullah bin Salam.” Maka mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh yang tak punya pikiran dan yang tak tahu jalan itu.?” Maka Allah Subhanahu Wata’ala menjawab kebohongan mereka itu, dan menegaskan bahwa orang-orang yang munafik itulah yang sebenarnya bodoh bahkan tak berilmu.

Allah Ta’ala berfirman, jika orang-orang munafik itu bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Kemudian mereka menampakkan keimanan, perwalian, dan keakraban sebagai tipuan bagi orang-orang mukmin serta taqiyyah agar mereka mendapatkan kebaikan dan pembagian ghanimah (harta rampasan perang).

Dan jika mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka.”Maksudnya, jika mereka kembali dan bergabung dengan syaitan-syaitan (para pemimpin) mereka. Kata “شَـيَاطِيْـنِهِمْ” berarti orang-orang terhormat, para pembesar dan pemimpin mereka, dari para pendeta orang-orang Yahudi dan para pemuka orang-orang musyrik dan munafik.

Ayat-ayat ini masih berbicara tentang karakter orang-orang munafik. Allah Subhanahu Wata’ala memberitahukan  bahwa akibat kemunafikan dan kebusukan hati ketika mereka bertemu orang-orang yang beriman di sebuah tempat, maka mereka memberitahukan bahwa mereka beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya serta agama yang telah dibawanya. Tetapi ketika mereka sendirian bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka dalam fitnah dan kesesatan, lalu pemimpin-pemimpin itu mengutuk mereka atas pengakuan iman mereka, maka merekapun menjawab, “Kami tetap bersama kalian dalam satu agama dan sekali-kali dan sekali-kali kami tidak beriman, kami hanyalah berpura-pura beriman, berolok-olok dan bercanda dengan Muhammad Shallallahu A’laihi Wasallam beserta sahabat-sahabatnya.”

Pada ayat (15) Allah Subhanahu Wata’alamemberitahukan bahwa Dia memperolok-olok mereka sebagai bentuk balasan yang setimpal atas apa yang mereka perbuat, bahkan Allah Subhanahu Wata’ala menambah sesuai dengan ketentuan-Nya atas kejahatan mereka itu, bahwa keburukan pasti akan melahirkan keburukan pula dalam hal perbuatan mereka yang melampaui batas itu, sehingga bertambahlah kebimbangan, kekacauan hati dan keresahan akal pikiran mereka.

Dan Mereka berkata: Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian. Sungguhnya kami hanya memperolok-olok dan mencela sahabat MuhammadShalallahu ‘alaihi wa sallam.” Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia akan mengolok olok  orang munafik tersebut pada hari kiamat kelak melalui firman-Nya:

Ïيَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَآءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ Î

“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: ‘Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al-Hadiid:13)

Ibnu Jarir mengatakan, demikian itulah olok-olok, celaan, makar, dan tipu daya Allah Ta’ala terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik. Olok-olok, celaan, dan hinaan dilontarkan AllahTa’ala disebabkan berbagai kemaksiatan dan kekufuran yang mereka lakukan.

Mereka menampakkan terhadap kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin. Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat ghanimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.

Waidza khalau ilaa syayaathiinihim”, Apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, makna yang dimaksud ialah bilamana mereka kembali dan pergi bersama setan-setan mereka tanpa ada orang lain. As-Sa’adi mengatakan dari Abu Malik, khalau artinya pergi menuju setan-setan mereka. Syayathin artinya pemimpin dan pembesar atau kepala mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin-pemimpin kaum musyrik dan munafik. Ad-Dahak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah apabila merka kembalia kepad teman-temannya. Ibnu Jarir mengatakan bahwa syayatin artinya segala sesuatu yang membangkang, adakalanya setan itu dari kalangan manusia dan jin.

Qaaluu inna ma’akum”, Mereka berkata, ”sesungguhnya kami bersama kalian”. Menurut Muhammad Ibnu Ishak, maknanya ialah ”sesungguhnya kami sependirian dengan kalian”. ”Innamaa nahnu mustahziuun”, Sesungguhnya kami hanya mengajak mereka dan mempermainkan mereka. Ad-Dahak mengatakan dari Ibnu Abbas, Mereka mengatakan ”sesungguhnya kami hanya mengejek dan mengolok-olok teman-teman Muhammad”. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ Ibnu Anas dan Qatadah.

Sebagai bantahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap perbuatan orang-orang munafik itu, maka Allah berfirman, ”Allahu yastahziu bihim wa yamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuun”, Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dialah yang akan melakukan pembalasan terhadap orang-orang munafik itu kelak di hari kiamat.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

  1. Mencela pengakuan yang dusta, yang biasanya merupakan karakter orang-orang
  2. Membuat perbaikan di bumi adalah dengan beramal, berupa ta’atkepada AllahSubhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Sedangkan membuat kerusakan di bumi yaitu dengan durhaka kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
  3. Orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, biasanya melegitimasiperbuatannya itu dengan alasan bahwa mereka hanyalah membangun (memperbaiki), bukan merusak.[] Redaksi.

Ayat-ayat ini masih berbicara tentang karakter orang-orang munafik. Allah Subhanahu Wata’ala memberitahukan pada ayat (14), bahwa akibat kemunafikan dan kebusukan hati ketika mereka bertemu orang-orang yang beriman di sebuah tempat, maka mereka memberitahukan bahwa mereka beriman kepada Allah Subhanahu Wata’aladan Rasul-Nya serta agama yang telah dibawanya. Tetapi ketika mereka sendirian bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka dalam fitnah dan kesesatan, lalu pemimpin-pemimpin itu mengutuk mereka atas pengakuan iman mereka, maka merekapun menjawab, “Kami tetap bersama kalian dalam satu agama dan sekali-kali dan sekali-kali kami tidak beriman, kami hanyalah berpura-pura beriman, berolok-olok dan bercanda dengan Muhammad Shallallahu A’laihi Wasallam beserta sahabat-sahabatnya.”

Pada ayat (15) Allah Subhanahu Wata’ala memberitahukan bahwa Dia memperolok-olok mereka sebagai bentuk balasan yang setimpal atas apa yang mereka perbuat, bahkan Allah Subhanahu Wata’ala menambah sesuai dengan ketentuan-Nya atas kejahatan mereka itu, bahwa keburukan pasti akan melahirkan keburukan pula dalam hal perbuatan mereka yang melampaui batas itu, sehingga bertambahlah kebimbangan, kekacauan hati dan keresahan akal pikiran mereka.

Pada ayat (16) Allah Subhanahu Wata’ala memberitahukan bahwa mereka yang sudah terlampau jauh dalam kesesatan itu telah memperjual-belikan keimanan dengan kekafiran serta keihlasan dengan kemunafikan. Oleh karena itu, perniagaan mereka tidak akan mendatangkan keuntungan dan mereka tidak akan menemukan jalan keberuntungan itu.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL

Diantara petunjuk yang terkandung dalam ayat-ayat ini adalah,

  1. Kecaman keras untuk orang-orang Munafikdan peringatan terhadap perilaku mereka yang bermuka dua.
  2. Sebenarnya ada diantara manusia yang menjadi setan, mereka mengajak kepada kekafiran dan kemaksiatan, menyeru kepada kemungkaran dan mencegah orang berbuat kebaikan.
  3. Menerangkan tentang beberapa kutukan Allah Subhanahu Wata’alayang ditimpakan kepada musuh-musuh- Allah.
Pos ini dipublikasikan di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Kitab, Manusia, Munafik, Religi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s