Kajian Al Baqoroh ayat 8 (Munafik)

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِين

Diantara manusia ada yang mengatakan: “kami beriman kepada Allah dan hari akhir.’ padahal mereka bukan orang-orang yang beriman.”

Al-Quran sebagai kitab hidayah, menjelaskan kepada kita sifat-sifat orang-orang Mukmin, Kafir dan Munafik agar kita dapat mengenali diri kita sendiri masuk golongan yang mana serta membantu mengenali orang lain agar dapat menentukan sikap sesuai terhadapnya.

Di awal Surat al-Baqarah ada 4 ayat berbicara tentang orang-orang Mukmin, 2 ayat tentang orang Kafir dan 13 ayat memaparkan manusia munafik.

Ayat 8 s/d 20 menegaskan sifat orang munafik yang berlagak seolah beriman namun hatinya menolak al Qur’an.

Arti Nifaq

Nifaq berarti menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Nifaq (اَلنِّفَاقُ) berasal dari kata النَّفَقُ (nafaq) yaitu lubang tempat bersembunyi atau sesuatu yang berada di bawah tanah sehingga tersembunyi.

Orang munafik menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. Di luarnya seperti beriman namun batinnya kufur. Sama seperti rayap yang merusak bagian dalam kayu. Bagian luarnya bagus, padahal bagian dalamnya kosong melompong.

Ada Dua Jenis Nifaq yaitu Nifaq Akbar/Nifaq I’tiqadi Dan Nifaq Ashghar/’Amali

Nifaq Akbar atau Nifaq I’tiqadi

Nifaq Akbar/ ‘Amali yaitu pelakunya menampakkan keislaman tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan bergabung dengan musuh-musuh Islam dalam memerangi Islam.

Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap Islam dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan untuk mengamankan jiwa dan harta benda mereka.

Nifaq Ashghar atau Nifaq ‘Amali

Yaitu orang yang melakukan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan menjerumukan dia ke dalam nifaq sesungguhnya. Sabda Nabi saw:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.

“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Asal mula orang Munafiq

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah di sana ada berbagai kabilah. Selain kabilah aus dan khajraj yg menyembah berhala ada juga orang-orang Yahudi yang terdiri dari tiga kabilah: Bani Qainuqa’, yang merupakan sekutu kabilah Khazraj, Bani Quraidzah yang menjadi sekutu kabilah Aus. Serta Bani Nadhir.

Kemudian beberapa orang dari kabilah Aus maupun Khazraj masuk islam. Tetapi sedikit sekali dari orang-orang Yahudi yang masuk Islam.

Pada saat itu belum ada kemunafikan, karena orang-orang mukmin belum mempunyai kekuatan yang ditakuti pihak lain.

Abdullah bin Ubay bin Salul seorang tokoh di Madinah adalah salah satu pemimpin kabilah Aus dan Khazraj pada masa jahililyah, yang ingin menjadi raja.

Ketika Islam datang lalu mereka masuk Islam,  keinginan mereka mengangkatnya sebagai pemimpin terlupakan sehingga Abdullah bin Ubay bin Salul menyimpan dendam terhadap Islam dan para pemeluknya.

Dari kejadian itu, muncullah kemunafikan di tengah-tengah penduduk Madinah dan orang-orang yang berada disekitarnya.

Meskipun hati mereka tak pernah menerima Islam, namun mereka bersyahadat demi menyelamatkan jiwa dan harta mereka, atau demi mencapai posisi dan kedudukan di antara Muslimin.

Sedangkan kaum Muhajirin tidak ada seorang pun yang munafik, karena tidak seorang pun yang berhijrah secara terpaksa, melainkan karena keinginan sendiri, di mana ia rela meninggalkan harta, anak-anak, dan kampung halaman-nya demi mengaharapkan apa yang ada di sisi Allah di negeri akhirat.

Allah Ta’ala mengingatkan  sifat-sifat orang-orang munafik agar orang-orang mukmin tidak tertipu oleh lahiriyah orang-orang munafik karena jika lengah akan menimbulkan kerusakan lantaran  menganggap mereka beriman, padahal hakikatnya mereka itu adalah kafir.

f إِذَا جَآءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللهِ وَاللهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُـهُ Ï “

Jika orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah’. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya.”
(QS. Al-Munafiqun: 1)

Allah telah mendustakan kesaksian dan pernyataan mereka melalui firman-Nya,

Î وَاللهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ Ï

“Dan sesungguhnya Allah mengetahui bahwa se-sungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar berdusta.

Orang-orang seperti ini adalah pengecut yang tidak memiliki harga diri dan keterusterangan. Tidak seperti orang-orang Kafir yang menyatakan kekufuran mereka secara terang-terangan.

Golongan ini lebih berbahaya dibanding golongan kafir sehingga Al-Quran sangat keras menceritakan tentang mereka.

Kemunafikan adalah fenomena yang selalu dihadapi oleh setiap revolusi dan perubahan-perubahan sosial.  Betapa banyak orang-orang yang pada lahirnya Islami, namun di dalam hati sangat memusuhi Islam.

Ada 3 pelajaran yang dapat dipetik:

1. Iman adalah perkara hati, bukan lidah. Oleh sebab itu untuk mengenali orang-orang tertentu, kita tidak cukup dengan pernyataan-pernyataan lahiriah mereka.

2. Dasar keimanan adalah iman kepada Pencipta dan Hari Kebangkitan.

3. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati manusia.

Pos ini dipublikasikan di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Munafik dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s