Kajian Al Baqoroh ayat 10

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS. 2:10)

Jiwa manusia, sama sebagaimana tubuhnya, kadang-kadang terkena penyakit, yang jika tidak diobati akan semakin parah dan terus berkembang sampai suatu saat, kemanusiaan orang itu pun akan musnah pula.

Manusia yang sehat tidak memiliki lebih dari satu wajah,  lahir dan batinnya terdapat keserasian yang baik dan sempurna. Lidahnya mengatakan hal-hal yang ada di dalam hatinya, dan tingkah lakunya sesuai dengan pikiran-pikirannya.

Menurut Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat Rasulullah SAW yang dimaksud penyakit di dalam hati orang munafit yang dimaksud ayat tersebut adalah keraguan, lalu Allah menambah keraguan itu dengan keraguan lagi. Sedangkan menurut Ikrimah dan Thawus, penyakit itu adalah riya.

Penyakit ini adalah penyakit yang bersifat maknawi. Orang beriman selalu dihadapkan pada dua jenis penyakit yaitu penyakit Syubhat dan Syahwat.

Salah satu efek dari penyakit syubhat ini akan melahirkan generasi yang memiliki persepsi yang salah terhadap islam. Ada sebagian masyarakat yang memandang perbuatan syirik itu adalah tauhid sehingga mereka melakukan tabarruk dari kuburan, bahkan dari hewan dan sebagainya. Hal ini diakibatkan karena penyakit syubhat yang menjadikan salah persepsi dalam memahami islam.

Efek dari penyakit syahwat ini akan menjegal seseorang dari tujuannya. Terkadang seorang paham sunnah, persepsi terhadap islam benar, paham konsep kebenaran islam, namun tidak sampai kepada tujuan karena terjegal oleh penyakit syahwat ini.

 Terkait penyakit Syahwat (hawa nafsu), Allah Ta’ala melarang isteri-isteri nabi khususnya dan kaum mukminah umumnya untuk merendahkan suara kepada non muhrim demi menekan timbulnya penyakit syahwat.

يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً

“Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al Ahzab: 32)

Penyakit syubhat dan syahwat ini adalah virus yang menyerang hati manusia, dan terkadang manusia tidak menyadarinya karena tidak mau mendeteksi penyakit hati. Padahal ini adalah virus yang jika tidak segera diobati akan menjalar menjadi hati yang sakit (Qalbun Maridh) dan puncaknya adalah hati yang mati (Qalbun Mayit). Satu indikasi bahwa hati seseorang sakit adalah tidak sensitive lagi terhadap kemaksiatan dan sudah terbiasa meninggalkan kewajiban.

Para ulama’ mengambil kesimpulan dari ayat ke-10 dari surah Al Baqarah di atas, bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang jika tidak segera berusaha untuk diobati maka akan memunculkan kemaksiatan berikutnya. Tontonan atau pemandangan yang kita saksikan terkadang menumpulkan sensitifitas keimanan. Khususnya tontonan yang bersifat kemaksiatan bahkan kemusyrikan.

Obat dari penyakit syubhat adalah dengan ilmu. sementara obat dari penyakit syahwat adalah dengan bersabar.

Kemunafikan atau nifak adalah penyakit jiwa yang paling berbahaya yang mengancam jiwa dan hati kita semua.

Penyakit nifak mempersiapkan lahan yang subur bagi penyakit-penyakit jiwa lain, seperti kikir, dengki dan tamak. Dan bagaikan akar-akar penyakit kanker ia akan semakin menghujam di hati dan jiwa si munafik.

Al-Quran menyebut sumber utama yang menumbuhkan penyakit nifak ini ialah watak suka berbohong dan akan berkembang terus bersamanya. Tentu saja bohong tidak terbatas hanya pada lidah.

Suatu perbuatan pun, yang dilakukan tidak sesuai dengan akidah seseorang (dengan tujuan dan niat jahat kepada pihak lain) juga merupakan kebohongan perbuatan.

Bangkai binatang yang terjatuh ke dalam air, lalu menebarkan bau tak sedap, setiap kali hujan menyiraminya, bukannya hujan tersebut menghapus polusi yang ditimbulkan oleh bangkai tersebut, tapi hujan itu justru semakin menyebarkannya.

Nifak bagaikan bangkai, yang jika bersemayam di dalam hati manusia, setiap petunjuk yang datang dari Allah Swt, meskipun berupa rahmat, seorang Munafik hanya menunjukkan sikap riya dan bukannya menerima petunjuk tersebut dengan serius. Akhirnya penyakit nifaknya semakin bertambah parah.

Nifak memiliki makna yang luas mencakup segala sikap mendua di antara perkataan dan perbuatan, lahir dan batin. Makna seperti ini kadang kala juga muncul dari seorang mukmin; seperti riya dan sikap pamer dalam melaksanakan ibadah. Artinya, ia melakukan ibadah dan perbuatan-perbuatan baik lainnya adalah karena selain Allah. Maka yang demikian ini pun termasuk sejenis nifak.

Rasulullah Saw bersabda, “Tiga sifat jika salah satunya terdapat pada seseorang maka ia adalah seorang munafik, meskipun ia berpuasa, melakukan shalat dan menganggap dirinya sebagai seorang muslim. Tiga sifat tersebut ialah khianat dalam memegang amanat, dusta ketika berbicara dan ingkar janji.”

 Ada dua adzab yang diterima oleh orang-orang munafiq. Di dunia, mereka dibiarkan dalam kemunafikannya dan diakhirat diancam dengan siksa pedih. Dalam surah An Nisa’ ayat 145 disebutkan,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (An Nisa’: 145)

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَاباً أَلِيماً (النساء

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih” (An Nisa’: 13

Maksudnya, mereka bersama-sama dengan orang-orang mukmin di beberapa tempat di mahsyar, dan jika hari yang telah ditetapkan Allah itu tiba, maka perbedaan mereka tampak jelas dan akan terpisah dari orang-orang mukmin.

Ï يُنَادُونَهُـمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ قَالُوا بَلَـى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ اْلأَمَانِيُّ حَتَّى جَآءَ أَمْرُ اللهِ Î

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?’ Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datang-lah ketetapan Allah.’” (QS. Al-Hadid: 14)

Pos ini dipublikasikan di Manusia, Munafik dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s