Kajian Al Baqoroh ayat 5 : Orang Yang Beruntung

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Allah menyatakan bahwa orang bertaqwa akan mendapat petunjuk dari tuhannya dan akan mendapat keberuntungan.

Makna keberuntungan pada setiap orang akan berbeda sesuai latar belakang masing2.  Demi meraih keberuntungan setiap orang akan berjuang dengan mengorbankan apapun.

Namun keberuntungan yang sebenarnya adalah ketika amal kita ditimbang di akhirat ternyata kebaikannya lebih berat dari keburukannya.

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan timbangan pada hari itu adalah hak adanya, maka barang siapa yang berat timbangan(kebajikan) mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS.Al-A’raf: 8.

Keberuntungan dalam al qur’an disebut dengan istilah “Falah” yang selain bermakna keberuntungan juga berarti kebahagiaan atau kesuksesan. Orang yang beruntung disebut Muflihun.

Dalam surat al mukminun ayat 1 sd 6 Allah menyatakan bahwa orang beruntung adalah mereka yg :
1. Menjaga shalat dan melaksanakan dengan khusyu.
2. Menjauhi perbuatan sia2.
3. Menunaikan zakat
4. Menjaga kemaluan
5. Menjaga amanah dan janji.

Keberuntungan dimulai dari karakter pribadi yang beriman dan beramal shaleh. Setiap adzan berkumandang mengajak shalat pada dasarnya juga mengajak kita untuk mendapatkan keberuntungan.

Ayat lain menunjukkan bahwa orang beruntung adalah yang tunduk dan patuh terhadap segala keputusan Rasulullah dan mencintai rasulullah saw.

إنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya hendaklah perkataan orang-orang beriman tatkala diseru kepada Allah dan Rasulnya agar menjadi pemutus perkara antara mereka berkata:”kami dengar dan kami patuhi, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.QS. An-nur: 51.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

“Dan orang-orang yang mengikuti Rasul dan Nabi yang Ummi yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil yang memerintahkan mereka untuk berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat mungkar dan mengharamkan atas mereka segala yang keji dan melepaskan dari mereka belenggu dan rantai yang mengikat mereka,maka bagi orang-orang yang beriman padanya, membelanya dan menolongnya serta mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS. Al-A’raf: 157.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Engkau tidak pernah mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasulnya sekalipun mereka adalah bapak-bapak mereka,Anak-anak mereka, saudara-saudara mereka ataupun kerabat mereka, mereka itulah orang-orang yang Allah tetapkan dalam hati mereka iman dan memperkuat mereka dengan pertolongan dariNya dan memasukkan mereka kedalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan Allah meridhoi mereka dan merekapun ridho terhadap Allah mereka itulah golongan hamba-hamba Allah dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS.Al-Mujadalah: 22.)

Keberuntungan tidak bisa diperoleh dengan berdiam diri dan berleha leha karena harus didapatkan dengan berjuang dan berjihad dengan harta dan jiwa.

لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Namun Rasulullah dan orang-orang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka dan bagi mereka disiapkan kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.QS. At-Taubah: 88.

Keberuntungan tidak hanya menyangkut kepentingan diri sendiri melainkan melibatkan orang lain melalui upaya mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkarab.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون

“Dan hendaknya ada diantara kalian satu golongan orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mengajak manusia berbuat perkara ma’ruf dan mencegah mereka dari perkara mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.QS. Al-Imran: 104.

Ketika kita menginginkan keberuntungan, Allah meminta kita untuk tidak berorientasi dan mementingkan pada diri sendiri. Keberuntungan bahkan diperoleh dengan membantu orang lain yang miskin dan membutuhkan pertolongan.

فَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“ Maka berilah hak kerabat dekat, orang-orang miskin dan Ibnus sabil, yang demikian itu lebih baik bagi orang-orang yang menginginkan wajah Allah dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”QS.Ar-Rum: 38.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“ Dan orang-orang yang menyiapkan kampung halaman mereka dan mereka beriman, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tidak mendapati dalam dada mereka ada keberatan atas apa yang mereka berikan dan mereka lebih mendahulukan kepentingan saudara mereka atas diri mereka sekalipun mereka membuthkan apa yang mereka beri,maka barang siapa yang dipelihara dari sifat kikir maka merekalah orang-orang yang beruntung. QS. Al-Hasyar: 9.

Ciri-ciri orang yang beruntung

Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa ciri-ciri keberuntungan pada seseorang itu dapat diukur dengan sikapnya dalam menghadapi tiga hal di dunia ini.

Pertama adalah bersyukur dikala bergelimang nikmat.

Ketika memiliki kekayaan, jabatan, popularitas, pengikut…dst. Orang beruntung mampu menghadapi  kenikmatan tersebut dengan syukur kepada Allah yang dibangun diatas tiga pilar yaitu:

1)meyakini sepenuh hati bahwa seluruh nikmat adalah milik Allah dan datang dari Allah, tiada daya upaya hamba sedikit juapun keculi dengan bantuan Allah,serta memahami bahwa hal tersebut adalah ujian Allah baginya.

2)menampakkan nikmat yang Allah berikan dalam bentuk ucapan dan sikap.

3)mengunakan nikmat Allah untuk berbakti menghambakan dirinya kepada Allah swt untuk kebaikan dan kepentingan orang banyak demi terwujudnya masyarakat yang beriman dan beramal sholeh.

Kedua adalah dengan bersabar tatkala berkubang ujian dan musibah

Hidup ini tidak selalu menyenangkan, terkadang kita harus menghadapi ujian dan cobaan kehidupan seperti : kemiskinan, penyakit, bencana alam, kehilangan orang  yang dicintai, kelaparan dan kekeringan dll. Hamba Allah yang beruntung adalah yang mampu menghadapi penderitaan dan musibah yang datang dari Allah dengan bersabar.
1) meyakini bahwa semua yang digariskan Allah atasnya adalah ketentuan yang harus dia terima dengan ikhlas dan ridho dengan meyakini bahwa Allah ingin menguji imannya untuk memuliakannya dan mengangkat derajatnya seandainya dia bersabar.

2) Menahan lisannya untuk tidak mengeluarkan kekesalan yang menghujat takdir Allah swt  dengan ungkapan-ungkapan semisal ”kenapa kau turunkan musibah ini padaku ya Allah…apa salahku, …mana keadilanMu ya Allah…dst.

Ketiga dengan beristighfar tatkala tenggelam dalam dosa-dosa dan maksiat. Seluruh anak Adam senantiasa bersalah dan berdosa, karena dorongan hawa nafsu serta syaitan yang tidak berhenti menggoda.

Nabi Adam pernah tergelincir dan tersalah, padahal Adam mendapatkan bimbingan langsung dari Allah. Namun dia mohon ampun dan kembali kepada keimanan. Sahabat Rasulullah pun ada yang pernah berzina dan Minum khamar. Namun Allah mensucikan mereka dengan taubat dan istighfar.

Orang beruntung adalah apabila ia melakukan dosa kemudian dia menyesal kemudian menggantikan dosa-dosa dengan amal sholeh. Bukanlah Allah mengampuni semua dosa jika seseorang bertaubat darinya?

Pos ini dipublikasikan di Al Qur'an, Kajian Al Baqoroh, Sukses. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s