Kajian Al Baqoroh ayat 4 :  Beriman kepada kitab yang diturunkan sebelumnya

Keimanan terhadap Kitab dan rasul sebelumnya adalah meyakini bahwa Allah menurunkan kitab kepada para nabi sebelum nabi Muhammad saw berupa Taurah, Zabur, Injil dan shuhuf2 yang mengajarkan Tauhidullah. Hal ini menumbuhkan keyakinan bahwa seorang muttaqin adalah pelanjut para nabi dan rasul beserta kitab sucinya.

Namun demikian keyakinan tersebut harus dengan pemahaman bahwa Hukum-hukum dalam kitab terdahulu hanya berlaku pada jamannya. Turunnya Al Qur’an menyebabkan hukum dan ketentuan kitab-kitab sebelumnya tidak berlaku lagi.

Shahabat Jabir bin Abdillah menuturkan:
“Umar ibnul Khaththab datang kepada Nabi saw dengan membawa kitab yang diperoleh dari ahlul kitab. Ternyata Nabi saw menampakkan kemarahannya kepada Umar seraya bersabda “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka, sehingga mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup niscaya tidaklah melapangkannya kecuali dengan mengikuti aku.”

Syariat agama yang dibawa Rasulullah sudah sempurna sehingga umat beliau tidak membutuhkan syariat umat terdahulu. Kalaupun para nabi dan rasul terdahulu masih hidup dan bertemu nabi Muhammad saw maka para nabi dan rasul tersebut akan mengikuti beliau dan tunduk pada syariat yang beliau bawa.

Rasulullah saw menyalahkan perbuatan Umar yang memegang dan membaca Taurat karena Allah swt mengabarkan bahwa ahlul kitab yaitu pendeta Yahudi dan nasrani telah mengubah kalamullah dan mencampurnya dengan kalam manusia sehingga susah dipisahkan mana yang haq dan mana yang batil.

Allah berfirman:
“Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)

Al-Imam Ath-Thabari berkata: “Yang Allah maksudkan dengan firmanNya adalah orang-orang Yahudi Bani Israil yang menulis kitab berdasarkan penafsiran yang menyelisihi apa yang Allah turunkan kepada Nabi Musa. Orang Yahudi menjual kitab karangan mereka itu kepada kaum yang tidak memahami Taurat serta kepada orang-orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang terdapat dalam kitabullah. Mereka melakukan hal ini, karena ingin mendapatkan dunia yang rendah.”

Ketika Nabi saw datang ke Madinah para pendeta Yahudi khawatir kehilangan kepemimpinan mereka. Maka mereka melakukan tipu daya menyimpangkan orang-orang Yahudi dari beriman kepada Nabi Muhammad.

Mereka sebenarnya memahami ciri-ciri nabi terakhir yang tersebut dalam Taurat. Di dalamnya disebutkan bahwa beliau memiliki wajah dan rambut yang bagus, kedua matanya seperti bercelak, perawakannya sedang tidak terlalu tinggi tidak pula pendek. Mereka mengubah sifat-sifat tersebut dan menggantinya dengan sifat tinggi, miring matanya, dan keriting rambutnya.

Allah swt berfirman:
“Mereka (orang-orang Yahudi) mengubah perkataan dari tempat-tempat-nya.” (An-Nisa: 46)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi suka mengganti dan mengubah makna Taurat dari tafsir yang sebenarnya.

Ibnu Hazm menceritakan sejarah Bani Israil sejak wafatnya Nabi Musa yang membuktikan bahwa kitab Taurat tidak lagi asli.

Sepeninggal Nabi Musa, Bani Israil dipimpin Yusya’ bin Nun selama 31 tahun dengan tetap istiqamah berpegang dengan agama. Kemudian mereka dipimpin Fainuhas ibnul ‘Azar bin Harun selama 25 tahun, juga masih istiqamah di atas agama. Namun Setelah wafatnya Fainuhas, seluruh Bani Israil murtad dari agama mereka dan menyembah berhala secara terang-terangan.

Sejak itu mereka dipimpin penguasa kafir, meski kadang diselingi kepemimpinan penguasa yang beriman. Namun tetap lebih dominan dikuasai penguasa kafir yang berkubang dalam penyembahan terhadap berhala.

Sejak Bani Israil masuk ke tanah yang disucikan (Palestina) sepeninggal Musa sampai masa pemerintahan raja mereka Syawul, sebanyak tujuh kali mereka meninggalkan keimanan dan menyembah berhala.

Taurat yang ada sekarang terputus sanadnya sebelum zaman raja Yusya’ bin Amun yang berkuasa pada tahun 638 SM. Manuskrip Taurat yang didapat setelah 18 tahun ia berkuasa, tidak bisa dijadikan sandaran Karena dibuat-buat oleh Al-Kahin (dukun) Hilqiyya. Ketika Bukhtanashar menaklukkan negeri Palestina pada tahun 587 SM. Dia juga memusnahkan Taurat dan seluruh kitab Perjanjian Lama sehingga tidak tersisa. Walaupun orang Yahudi berdalih bahwa Uzair telah menulis lagi lembaran-lembaran Taurat namun maskah yang ditulisnya ini pun hilang ketika Anthaikhus IV menaklukkan negeri Palestina.

Ketika Suraya berkuasa antara tahun 175-163 SM, ia memusnahkan agama Yahudi dan mewarnai Palestina dengan ajaran Helenisme Yunani.  20 ribu tentara mengepung dan menyerbu Al-Quds pada hari Sabtu ketika orang Yahudi berkumpul untuk mengerjakan shalat. Mereka merampas Al-Quds, meruntuhkan rumah dan sinagog, membakarserta membunuh semua orang yang ada di dalamnya kecuali orang yang lari ke gunung-gunung atau bersembunyi dalam gua-gua.”

Ibnul Qayyim berkata: “Taurat yang berada di tangan orang Yahudi di dalamnya terdapat tambahan,  penyimpangan dan pengurangan yang kentara bagi orang yang mendalam ilmunya. Dan mereka (ahlul ilmi) yakin bahwa hal itu tidak terdapat dalam Taurat yang Allah turunkan kepada Musa.

Beberapa kedustaan dalam Taurat.

1.  Taurat mehikayatkan bahwa Allah berfirman: “Ini Adam, ia telah menjadi seperti salah satu dari Kami dalam mengetahui kebaikan dan kejelekan….”

Ucapan ini menunjukkan bahwa mereka meyakini ilaah atau sesembahan itu lebih dari satu dan Adam termasuk ilaah tersebut.

2. Disebutkan dalam Taurat: “Ketika manusia telah banyak memenuhi muka bumi dan lahir putri-putri Adam. Maka saat putra-putra Allah melihat putri-putri Adam yang cantik-cantik, putra-putra Allah pun memperistri sebagian dari mereka.”

Bagaimana mungkin Allah dijadikan memiliki anak laki-laki yang menikahi putri-putri Adam. Berarti Allah dan Adam berbesanan. Maha Suci Allah dari kedustaan ini.

3. Dalam Taurat disebutkan bahwa Nabi Luth digauli dua putrinya secara bergantian setelah beliau yang telah renta dibuat mabuk dengan diminumi khamr. Sehingga kedua putrinya hamil dari hasil hubungan dengan ayahnya.

Na’udzubillah… tuduhan keji mereka membuat gemetar kulit orang-orang yang beriman yang mengetahui hak-hak para nabi.

Perubahan dalam Injil.

Injil yang dipegang orang Nasrani ditulis oleh beberapa orang yang kemudian disebut Injil Yohanes, Injil Markus, Injil Lukas maupun Injil Matius. Kempat Injil ini ditulis jauh dari masa diangkatnya Nabi ‘Isa.

Di dalamnya terdapat tambahan, perubahan, penyimpangan dan pengurangan yang mengandung banyak pertentangan yang tidak bisa disembunyikan dari mata orang yang ilmunya dalam. Hal ini menjadi bukti ketidakotentikan Injil dan bukan Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa.

Orang Nasrani sepakat tentang ketidak-shahihan kitab-kitab meteka Sehingga ada kitab yang diterima penganut Katholik, namun ditolak orang-orang Yahudi dan Protestan….”

Jaminan terhadap otentitas Al Qur’an

Allah tidak memberi jaminan terhadap keaslian dan otentitas kitab terdahulu. Namun terhadap Al qur’an,  Allah memberikan jaminan penjagaan tidak dapat dipalsukan sampai kalamullah itu diangkat kembali dari lembaran dan dada-dada manusia menjelang hari kiamat.

FirmanNya:
“Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Adz-Dzikra (Al-Qur`an) dan sungguh Kami-lah yang akan menjaganya.” (Al-Hijr: 9)

Al-Qur`anul Karim adalah penjaga bagi kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur`an menampakkan al-haq yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya dan mendukungnya, serta menampakkan kebatilan yang ada di dalam kitab-kitab tersebut dan menolaknya.

Bantahan Al Qur’an atas Taurat dan Injil  tidak ditujukan kepada Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Musa dan ‘Isa. Namun yang dibantah adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang dikatakan sebagai wahyu dan ilham.

Taurat yang Allah turunkan kepada Musa hanya satu dan Injil yang Allah turunkan kepada ‘Isa hanya satu pula.  Bagaimana mungkin ada tiga Taurat yang berbeda dan ada empat Injil yang juga berbeda?.

Pos ini dipublikasikan di Aqidah, IMAN, Kitab. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s