KHAWARIJ, SYI’AH DAN MU’TAZILAH

Oleh: Dr. Khairan M. Arif

Dalam beberapa tahun terakhir ini tiga kelompok ini cukup menghebohkan dan juga merepotkan umat Islam dalam memahami dan mengamalkan Islam. Tiga paham Islam yang sangat kontroversial ini, sangat memberi andil terhadap pudarnya nilai-nilai Islam dan pengaruhnya terhadap masyarakat dunia, melahirkan Islamophobia, stigma teroris, sekularisasi dan rapuhnya ukhuwah/persaudaraan Islam di dunia.

Mungkin juga munculnya tiga kelompok ini adalah bagian dari skenario Allah SAWT untuk membangunkan umat dari tidur panjangnya, sehingga para ulama melihat kembali dan mengevaluasi proses dakwah Islamiyah selama ini, mengapa tiga aliran yang pernah muncul di abad pertama sampai ketiga Hijriyah ini, subur kembali ditengah umat? Atau mungkin agar umat Islam secara umum dapat tersadar dan bergeliat kembali mengkaji Islam lewat Alqur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Wallahu a’lam.

Khawarij dan Syi’ah adalah kelompok paham Islam yang saling kontradiksi dalam memahami dan mengimplementasikan Islam. Khawarij (yang menjelma ISIS sekarang) memahami Islam dengan pandangan kaku, ajeg, rigit dan dangkal, kelompok ini sangat komitmen pada Alqur’an dan As-sunah, tanpa melihat makna-makna implisit dari keduanya, mereka menafikan perbedaan pendapat dan pandangan ijtihad baik ta’wil maupun istinbath terhadap nash-nash syari’at dan cenderung mengklaim paham merekalah yang paling benar serta memonopoli kebenaran, akhirnya mereka menilai kelompok lain adalah salah bahkan berani mengeluarkan muslim lain yang berbeda dengan mereka sebagai murtad, kafir dan keluar dari millah.

Kelompok Syi’ah memahami bahwa kepemimpinan (Al-wilayah) dalam agama setelah Nabi Muhammad SAW adalah harus lewat keturunannya, sehingga suksesi kenabian dan kepemimpinan Islam dan umatnya, adalah wasiat, keputusan Allah dan wahyu dariNya, menafikan wasiat ini adalah kemurtadan, kelompok Islam lain yang berbeda dengan mereka dicap berada diluar Islam. Karenanya kelompok ini berani, bahkan telah menjadi kepercayaan mereka mengkafirkan para Sahabat Nabi yang mereka anggap tidak melaksanakan suksesi ilahiyah ini, sehingga mereka berani mengkafirkan para Sahabat ra, walaupun mereka tidak lain adalah mertua, menantu bahkan isteri isteri tercinta Nabi saw.

Mu’tazilah memahami Islam adalah agama akal dan logika, yang harus kontekstual logic dan rasional, Islam menurut kelompok ini tidak boleh tekstual (nashiy), dan oleh karenanya Syariatnya bisa fleksibel dan relevan bagi perkembangan hidup manusia. Mu’tazilah melihat bahwa Nash (Teks agama) hanya mengatur sedikit dari kehidupan manusia seperti akidah dan ibadah, selain itu adalah bagian akal manusia. Dan oleh karenanya syariat, bisa berubah sesuai kondisi zaman dan tuntutan logika. Kelompok ini meyakini bahwa bila nash dan logika berbenturan tentang suatu masalah kehidupan manusia, maka yang diutamakan adalah akal dan logika rasional ilmiah.

Letak perbedaan tiga kelompok ini adalah bahwa khawarij melihat Islam tidak lain adalah komitmen kuat pada Zahir Nash Syari’at walaupun bertentangan dengan akal dan realitas manusia, karenanya tiada agama kecuali Nash. Sementara Syi’ah melihat Islam adalah Alwilayah (suksesi dari Nabi kepada para Imam) tidak ada agama tanpa Imam, dan Mu’tazilah melihat Islam adalah logika rasional kontekstual, karenanya tidak ada agama tanpa relevansi logika dan kontekstualnya.

Lalu bagaimana paham Islam orisinil yang dipahami oleh Nabi Muhammad dan generasi Sahabat? Mayoritas Ulama Islam dan umat ini memahami bahwa Islam adalah agama wahyu dan akal, keselamatan umat bergantung pada komitmennya pada Alqur’dan As-sunnah, namun dalam memahami keduanya harus melihat pada pemahaman Nabi dan para Sahabatnya yang menerima langsung agama ini dari NabiNya.

Posisi akal adalah penguat dan penjelas Nash yang multi interpretasi, sesuai rambu-rambu yang Allah dan RasulNya tetapkan. Mayoritas ulama Islam dan umatnya melihat bahwa tidak ada ekstrim kanan dan kiri dalam Islam, karena Islam adalah agama yang adil, proporsional, komprehensif dan integral. Islam adalah Alqur’an dan As-sunah, sebagaimana dia adalah akal dan emosional, Islam adalah akidah dan syari’ah, sebagaimana dia adalah Dunia dan Akhirat. Karenanya perbedaan dalam furu’ (cabang agama) adalah niscaya, selama ada sumber nashnya, tidak ada kekafiran bagi pengucap syahadat, kecuali dengan pengakuan verbal yang disertai pengabaian syariat.

Pos ini dipublikasikan di Ghazwil Fikr, Tarikh Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s