Kajian Surat al Baqoroh ayat 2

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”

Ayat yang serupa ternyata ada juga di surat al Sajadah ayat 2.

·        تَنْزِيلُ الْكِتَابِ لا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (السجدة  )

“Turunnya Al Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, (adalah) dari Tuhan semesta alam”. (QS. Al Sadajah

Sebagai mukjizat kepada Rasulullah Muhammad saw dan bukti atas kenabiannya, Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang tegas menyatakan bahwa dirinya jauh dari keraguan.

ALLAH menjamin bahwa isi al Qur’an adalah firmanNya dan akan menjaga  isinya tetap asli hingga akhir jaman.

Tidak ada yang akan mampu membuat tandingan serupa al Qur’an baik kandungan isinya maupun keindahan sastranya.

Allah menantang siapapun untuk membuat tandingan al Qur’an dan ternyata tidak ada yang mampu membuatnya hingga kini.

Isinya mengandung ilmu pengetahuan, kebijakan, penerangan, kebenaran hakiki serta petunjuk hidup menuju jalan yang lurus.

Petunjuk dalam Al Qur’an ini hanya bisa dirasakan dan dimanfaatkan oleh orang-orang beriman dan bertaqwa saja. Bagi orang-orang kafir, Al Qur’an ini hanya akan menambah kerugian bagi mereka.

<< وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَارًا >>

” Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” ( QS Al Israa’ : 82

Sikap manusia terhadap al qur’an terbagi menjadi 3 kelompok: ada yang meyakini, ada yang mengingkari, dan ada yang bermuka dua mengaku beriman namun di dalam hati kecilnya ingkar dan mengolok-olok.

Adanya orang yang tidak mengambil al Qur’an sebagai petunjuk bukan berarti al Qur’an bukan petunjuk. Ibarat matahari, ia akan tetap bersinar, walaupun orang buta tidak melihatnya, dan tidak memanfaatkan sinarnya yang terang-benderang.

Orang-orang yang tidak bertakwa selalu meragukan kebenaran dan keaslian Alquran terutama pada sebagian orang Islam yang teracuni pemikiran para orientalis yang benci kepada Islam.

Keraguan tersebut  menggerogoti keimanan mereka  sehingga tidak lagi meyakini Alquran sebagai kitab suci dari Allah yang benar. Mereka menganggap Alquran hanya sebagai naskah kitab biasa yang bisa dikritik dan diragukan kebenarannya.

Orang yang ragu terhadap al Qur’an hatinya buta, keras dan tidak mau tunduk pada kebenaran. Mereka lebih tertarik mengikuti hawa nafsu atau pemikirannya semata.

Walaupun nabi Muhammad saw membawa petunjuk melalui Al Qur’an namun sebagai rasul dia hanya memberi peringatan.

“Dan sesungguhnya kamu benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”(QS. AsySyuura:52).

“Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan. Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS. ArRa’ad:7).

Muhammad saw dan siapapum tidak bisa memberikan petunjuk kepada yang tidak mau menerimanya walaupun orang itu adalah yang dicintainya. Karena petunjuk adalah hak prerogatif Allah. DiberikanNya kepada yang dikehendaki.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai.” (QS. Al Qashash:56).

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapatkan petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkanNya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi:17).

Kajian Al Baqoroh ayat 2
(Lanjutan)

Seorang muslim yang tidak bisa menikmati petunjuk atau tidak bisa menjadikan Al Qur’an sebagai penerang dalam menghadapi berbagai tantangan di dalam kehidupan dunia ini, maka dapat dipastikan bahwa keimanan dan ketaqwaannya berada dalam kadar yang rendah.

Dia harus senantiasa memperbaharui keimanan dan ketaqwaannya serta berusaha sekuat mungkin agar hatinya agar luluh dan lunak dengan ayat- ayat Al Qur’an.

Makna Taqwa

Salah satu makna Taqwa adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw: ”Bahwa seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang ” (Hadist Hasan, tiwayar Tirmidzi,Ibnu Majah, Baihaqi) .

Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang Taqwa . Ubai balik bertanya : ”Apakah anda pernah melewati jalan yang banyak durinya ?
”Pernah ” Jawab Umar.
Ubai bertanya kembali : ”Bagaimana ketika anda melewatinya ?”
Umar menjawab : ”Saya bersungguh- sungguh serta berhati- hati sekali supaya tidak kena duri ” .
Ubai akhirnya mengatakan : ”Itulah arti Taqwa yang sebenar-benarnya. ”

Hakikat taqwa adalah kesungguhan dan kehati-hatian terhadap apa yang dilarang Allah swt. Orang yang bertaqwa adalah orang yang sungguh-sungguh menjauhi segala larangan Allah dan berhati-hati sekali supaya tidak terjerumus di dalamnya, walaupun ia harus meninggalkan apa yang tidak dilarang, jika hal tersebut akan menyeretnya kepada apa yang dilarang.

Berbuatlah bagai orang yang melangkah di atas tanah berduri,  berhati-hati dengan apa yang dilihat. Tinggalkan dosa-dosa kecil dan yang besar, dan itulah taqwa

Janganlah meremehkan dosa kecil, sesungguhnya gunung itu berasal dari batu kerikil.

Definisi taqwa yang paling sederhana adalah “Menta’ati perintah dan menjauhi laranganNya”.

Siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang yang bertaqwa. Orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah, berarti ia tidak menjaga dirinya dari dosa.

Orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang dilarangNya, dia bukan termasuk orang-orang yang bertaqwa

Orang yang menceburkan diri kedalam maksiat sehingga mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.

Dampak taqwa secara individu

Kepada orang yang bertaqwa Allah menjanjikan dua hal sebagaimana firmannya.
“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” [At-Thalaq : 2-3]

Janji pertama : Allah akan mengadakan jalan keluar baginya dari masalah kehidupan. Manusia hidup selalu menghadapi permasalahan. Kadang manusia bisa menyelesaikannya kadang mentok. Kepada orang bertaqwa Allah menjanjikan solusi ketika kita sudah mentok. Solusi tersebut datang dari arah yang tidak terduga ketika kita sudah menyerah dan tidak berdaya.

Janji kedua : Allah akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”. Seringkali manusia mempunyai kebutuhan mendesak padahal dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Saat kepepet itulah Allah memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Allah menjadikan ketaqwaan di antara sebab-sebab rizki dan menjanjikan untuk menambahnya bagi orang yang bersyukur,

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmatKu atasmu” [Ibrahim : 7] [Tafsir Al-Qurthubi, 6/241]

Setiap orang yang menginginkan rizki yang cukup hendaknya ia menta’ati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya dengan menjaga diri dari yang menyebabkannya berhak mendapat siksa, seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan kebaikan.

Taqwa secara berjamaah.

Ketaqwaan akan memberikan dampak yang yang luar biasa jika dilakukan secara jamaah oleh sekelompok manusia. Allah akan melimpahkan keberkahan kepada penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa yang datang baik dari langit maupun dari bumi. Janji Allah ini dalam al Qur’an sbb:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri” [Al-A’raf : 96]

“al-barakat” adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka berupa kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apapun atas mereka sesudahnya.

keberkahan langit dengan turunnya hujan, keberkahan bumi dengan tumbuhnya tanaman dan buah-buahan, banyaknya hewan ternak serta  keamanan dan keselamatan. Hal ini karena langit adalah laksana ayah, dan bumi laksana ibu. Dari keduanya diperoleh manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah.

Janji Allah berlaku bagi seluruh ummat manusia baik ummat mabi Muhammad dan juga ummat sebelumnya. Firman Allah:
“Dan sekiranya mereka sunguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka” [Al-Ma’idah : 66

Ayat lain yang senada :
“Artinya : Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas jalan itu (agama Islam), banar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)” [Al-Jin : 16]

“Artinya : Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi” [Al-A’raf : 96]

Pos ini dipublikasikan di Al Qur'an, Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s