MAHABATULLAH

 

Tingkatan tertinggi dlm beribadah kepada Allah SWT itu adalah ibadah yg dilandasi oleh rasa cinta,(mahabatullah), disertai dengan kesadaran mutlak bahwa Allah SWt adalah dzat yg memang pantas untuk diibadahi dan disembah, karena Allah SWT yg menciptakan kita menjadi ada dan yg menguasai hidup kita.

Setiap cintanya makhluk, akan menuntut balasan, sadar atau tidak sadar, mengakuinya atau tidak. Hanya Allah SWT yg terbebas dari kebutuhan untuk dihargai, karena Dia tidak membutuhkan sesuatu apapun.  Namun Kita juga jangan sembarangan ngomong cinta kepada Allah karena setiap ucapan pasti ada konsekwensi dan pertanggungan jawab, jangan karena sedang tinggi semangat beragamanya, dengan sembrono kita ucap kata cinta kepada Allah SWT,

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). [2.165]

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). [3.14]

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. [9.24]

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. [16.107]

Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. [75.20-21]

dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. [89.20]

dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. [100.8]

Bagaimana kita bisa mencintai sesuatu dzat yang sangat-sangat jauh berbeda dalam segalanya, tidak akan mampu gelora cinta kita untuk menampung semua itu, baru dibukakan setitik rahman dan rahim Nya saja sudah bisa membuat kita melupakan dunia dan seisinya,

Mahabatulloh itu adalah ridho kepada Allah SWT, ridho akan segala Qodo dan Qodarnya, ridho sebagai hamba Allah dan Ridho Allah adalah Tuhan kita. Allah itu memang sangat pantas disembah dan diibadahi,

Syahadat yg kita ucapkan dengan penuh kesadaran inilah kunci pertama dari terbukanya hijab antara kita dengan Allah SWT. Terlepas dari adanya perintah menyembah, adanya syurga dan neraka, terlepas dari adanya pahala ataupun karomah,

Sebagai makhluk wajar kita mengharapkan kasih sayang Tuhan, karena Allah sendiri senang kalau seorang hamba mengharapkan kasih sayang Nya, dan kasih sayang Nya itu akan turun manakala kita bisa beribadah secara tulus. Allah SWT sendiri menciptakan segala sesuatu termasuk juga neraka dan syurga itu sebagai bentuk kasih sayang Nya kepada seluruh makhluk. Ke-ridho-an kita kepada Allah SWT sebagai Tuhan akan memupuk kesadaran untuk beribadah, walaupun kita mengetahui akan dimasukkan ke neraka oleh Allah SWT, Insyaallah ibadah kita tidak akan terganggu, karena kita ini milik Allah, mau di apa-apa kan juga tetap milik Allah SWT, suka-suka Dia aja,

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [5.54]

Beribadahlah sesuai kapasitas kita sebagai seorang hamba, yaitu hamba yg memiliki kesadaran mutlak akan Allah SWT, bukan sekedar hamba sahaya, yg beribadah karena perintah ataupun hukuman….bukan pula hamba yg beribadah karena mengharapkan keuntungan/hadiah…”

Katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi penyanyang. (Ali Imron ayat 31)

”Cintailah sesama karena Allah dan beribadahlah setulus-tulusnya, kemudian biarlah allah SWT yg menilai pantaskah kita mendapatkan cintaNya, Semua orang boleh mengklaim mereka telah cinta kepada Allah, tetapi mereka lupa bahwa cinta kepadaNya hanya bisa diperoleh apabila Allah telah mencintaiNya terlebih dahulu, dengan kata lain kita baru bisa merasakan manisnya cinta kepada Nya apabila telah ditetesi oleh cintaNya Allah SWT kepada kita.

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, [49.7]

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. [59.9]

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, [9.120]

 “Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. “Ketika ditanya oleh para sahabat, Rosulullah saw menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah”. (HR. Tirmidzi).

Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s