Penaklukan Konstantinopel Oleh Muhammad Al-Fatih

  “Ketika Rasulullah SAW ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”  [H.R. Ahmad bin Hanbal].

Pada masa itu, Kekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atau Constantinople. Constantine memilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, karena strategis di batas Eropa dan Asia sebagai pusat kebudayaan dunia.

Konstantinopel adalah sebuah kota yang kuat yang menjadi kota pusat peradaban barat. Kaisar Heraklius adalah penguasa Romawi yang hidup di zaman Nabi SAW yang menerima surat ajakan masuk Islam dari beliau SAW.  Ajakan Nabi SAW kepada sang kaisar tidak disambut dengan masuk Islam. Kaisar menolak masuk Islam, namun tidak bermusuhan, atau setidaknya tidak mengajak kepada peperangan.

Kaum Muslim ingin menguasai Byzantium selain karena nilai strategisnya, juga percaya kepada nubuwah Rasulullah SAW.  Di masa sahabat, pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu, bahkan salah satu anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. Tetapi kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya.

Kontantinopel ditaklukan 8 abad setelah Rasulullah menjanjikan nubuwwat tersebut. Tetapi Roma, sudah 15 abad sejak Rasul menyampaikan nubuwwatnya tentang penaklukan Roma, namun belum juga jatuh ke tangan muslimin.

Usaha Kaum Muslimin Menaklukan Konstantinopel

Konstantinopel adalah salah satu bandar termasyhur dunia yang didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium, Constantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya istimewa. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira penguasaan kota ini pada saat terjadinya perang Khandaq.

Para khalifah dan pemimpin Islam selalu berusaha menaklukkan Konstantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Mu’awiyah. Akan tetapi, usaha itu gagal.  Di zaman Abbasiyyah, usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190 H. Kerajaan Seljuk. Alp Arselan mengalahkan Kaisar Roma, Romanus IV, tahun 463 H/1070 M. Sehingga sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Awal abad ke-8 H, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.

Sultan Murad II dari Daulah Usmaniyah meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Tetapi terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil namun beliau bertekad agar anaknya Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah, melanjutkan usahanya.

Sultan Muhammad II Al Fatih, Penakluk Konstantinopel

Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih dilahirkan 29 Maret 1432 M. di Adrianapolis Turki. Beliau Naik tahta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 – 1481). Beliaulah sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Konstantinopel.

Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sultan Murad II menghantar beberapa ‘ulama besar untuk mengajar anaknya. Dia memberikan kuasa kepada Asy-Syeikh Al-Kurani untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya. Waktu Syeikh bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa, dia dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Muhammad II sehingga dia mampu menghafal Al-Qur’an dalam waktu yang singkat.

Sultan Muhammad II memiliki keahlian dalam Al-Qur”an, hadits, fiqih, 7 bahasa (Arab, Latin, Yunani, Ibrani, Serbia, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya. Gurunya Syeikh Syamsudin meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadits pembukaan Kostantinopel.

Beliau tidak pernah meninggalkan Shalat fardhu, Shalat Sunat Rawatib dan Shalat Tahajjud sejak baligh.  Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu

Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Konstantinopel. Beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat meneruskan cita-cita umat Islam.

Ketika naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia menyusun strategi untuk menawan Konstantinople. Akhirnya, Hari Jumat, 6 April 1453 M, Muhammad II bersama gurunya Syeikh Aaq Syamsudin,Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Konstantinopel.

Berbekal 250.000 ribu pasukan dan meriam -teknologi baru pada saat itu- Para mujahid diberikan latihan intensif dan diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Muhammad II mengirim surat kepada Constantine untuk masuk islam atau menyerahkan kota secara damai dan membayar upeti atau perang. Constantine menjawab bahwa dia tetap akan mempertahankan kota dibantu Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.

Pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih mengingatkan kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SAW. Dia membacakan ayat-ayat Al-Qur”an serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel yang memberikan semangat pada bala tentera dan mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.

Kota dengan benteng>10m sulit ditembus, Sisi luar benteng dilindungi oleh parit 7m. Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan Laut Marmara, pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat Golden Horn yang dilindungi rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, pasukan Constantine mempertahankan dan cepat menutup setiap kebocoran yang terjadi. Usaha menggali terowongan di bawah benteng,  juga gagal.

Sultan akhirnya mengetahui bahwa Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui Teluk Golden Horn yang sudah dirantai. Sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam waktu semalam, yaitu memindahkan kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Dalam semalam 70-an kapal bisa memasuki wilayah Teluk Golden Horn. Ini adalah ide ”tergila” pada masa itu namun diakui sebagai taktik peperangan terbaik di dunia.

Sultan Muhammad Al-Fatih melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium. Takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu.

70 kapal di tarik melewati bukit di daerah Galata untuk masuk ke Teluk Golden Horn yang di hadang rantai.

Rantai yang menghalangi kapal masuk Teluk Golden Horn. (koleksi Museum Hagia Sophia)

Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya membersihkan diri di hadapan Allah SAW. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan dzikir. Hingga jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan tanggal 29 Mei 1453 M, setelah sehari istirahat perang, pasukan Turki Utsmani dibawah komando Sultan Muhammad II kembali menyerang. Kaisar Constantine konsisten berperang hingga gugur di peperangan. Giustiniani meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Para mujahidin meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota.  Hingga akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel dan mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, berjaya mengantarkan cita-cita mereka.
Konstantinopel jatuh, penduduk kota berkumpul di Hagia Sophia. Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk Yahudi maupun Kristen karena mereka termasuk kafir zimmy yang harus dilindungi karena membayar jizyah/pajak, muahad (yang terikat perjanjian), dan musta’man (yang dilindungi seperti pedagang antar negara) bukan non muslim harbi yang harus diperangi. Konstantinopel diubah namanya menjadi Islambul (Islam Keseluruhannya). Hagia Sophia dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Pos ini dipublikasikan di Leadership, Tarikh Islam dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s