MEMBINA KEWIRAUSAHAAN MUSLIM

Aktifitas berwirausaha merupakan bidang kehidupan yang kurang berkembang secara memuaskan di kalangan masyarakat pribumi muslim Indonesia. Banyak factor psikologis yang membentuk sikap negatif masyarakat terhadap profesi wirausaha.

Pertama, WIRAUSAHA biasanya bersifat agresif, ekspansif, bersaing tidak jujur, kikir, sumber penghasilan tidak stabil. Image ini menyebabkan sebagian besar masyarakat tidak tertarik berwirausaha. Para orang tua umumnya menginginkan anaknya menjadi pegawai negeri, pegawai di perusahaan swasta terkenal, jadi insinyur, dokter, pilot, tentara dan jabatan keren lainnya. Hampir tidak ada yang menginginkan anaknya jadi wirausahawan. Kalaupun ada yang berminat, sangat terbatas di kalangan mereka yang tidak diterima di perguruan tinggi, pegawai, tentara dan sebagainya.

Kedua, dipicu oleh pemahaman yang terlalu dangkal terhadap ajaran agama, khususnya hadis – hadis yang secara sepintas dipahami seakan – akan tidak mementingkan kesuksesan di dunia. Misalnya : Dunia ini penjara bagi orang yang beriman, dan sorga bagi orang kafir ( Al Hadis ). Di samping itu juga ditemukan ajaran – ajaran agama, yang jika dipahami secara sempit, akan cenderung mengecilkan arti prestasi keduniaan, seperti zuhud, wara, faqir dan sebagainya. Kondisi yang memprihatinkan akibat tradisi dan pemahaman ini akhirnya membuat anak negeri kurang menyentuh kewirausahaan, dan pada gilirannya menyebabkan negeri kita sangat tertinggal. Bandingkan dengan negara – negara seperti Singapura, Jepang, Korea, Hongkong bahkan Malaysia, di mana negara tersebut mempunyai masyarakat yang memiliki jiwa wirausaha yang sangat tinggi.

Kewirausahaan perlu dikembangkan di Indonesia, dengan penduduk yang mayoritas muslim ini. Pertama,  dari sejumlah angkatan kerja yang ada, masih sangat sedikit yang tertampung dalam lapangan kerja, sehingga pembukaan lapangan kerja baru menjadi suatu keniscayaan dalam pemberdayaan masyarakat Indonesia. Kedua, Nabi Muhammad SAW yang merupakan teladan bagi ummat Islam, komunitas terbanyak negeri ini, adalah seorang pedagang yang sangat ulet dan professional, jujur, memegang amanah, dan terpercaya. Bahkan kredibilitas dan integritas pribadinya sebagai pedagang mendapat pengakuan, bukan hanya dari kaum muslimin, tetapi juga orang Yahudi dan Nasrani, dikarenakan Nabi menjalankan usahanya dengan sangat professional.

Sebagai agama yang menekankan pentingnya keberdayaan ummatnya, maka Islam memandang wirausaha merupakan bagian integral dari ajaran Islam.

Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah di muka bumi, Dan carilah karunia Allah (QS AlJumuah:10).

Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta -minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi maupun tidak. ( HR Bukhari ).

Pernah suatu saat Rasulullah ditanya oleh para sahabat, “pekerjaan apa yang paling baik ya Rasulullah ? Rasulullah menjawab, seorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih. ( HR Al Bazzar).

Pedagang yang jujur lagi terpercaya adalah bersama -sama Nabi, orang – orang shadiqin, dan para syuhada ( HRTirmidzi dan Ibnu Majah ).

Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki ( HR Ahmad ).

Hubungan timbal balik antara Tuhan dan manusia bersifat perdagangan betul, Alah adalah Saudagar sempurna. Allah memasukkan seluruh alam semesta dalam pembukuan-Nya. Segalanya diperhitungkan, tiap barang diukur. Ia telah membuat buku perhitungan, neraca- neraca, dan Allah telah menadi contoh buat bisnis – bisnis yang jujur.

Pengembangan kewirausahaan di kalangan masyarakat Indonesia memiliki manfaat yang terkait langsung dengan pengembangan masyarakat.

  1. pengembangan kewirausahaan akan memberikan konstribusi yang besar bagi perluasan lapangan kerja, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran.
  2. berkembangnya kewirausahaan akan meningkatkan kekuatan ekonomi negara. Telah terbukti dalam sejarah perjalanan bangsa kita, bahwa UKM adalah basis ekonomi yang paling tahan menghadapi goncangan krisis yang bersifat multidimensional.
  3. Dengan semakin banyaknya wirausahawan, termasuk wirausahawan muslim, akan semakin banyak tauladan dalam mayarakat, khususnya dalam aktifitas perdagangan. Sebab, para wirausahawan memiliki pribadi yang unggul, berani, independen, hidup tidak merugikan orang lain, sebaliknya malah memberikan manfaat bagi anggota masyarakat yang lain.  
  4. Dengan berkembangnya kewirausahaan, maka akan menumbuhkan etos kerja dan kehidupoan yang dinamis, serta semakin banyaknya partisipasi masyarakat terhadap pembangunan bangsa.

Memulai Usaha dengan Menata Keluarga Dahulu

Keluarga merupakan hal yang tak terpisahkan dari dunia bisnis/usaha. Permasalahan keluarga akan berpengaruh pada maju mundurnya suatu usaha. Ibaratnya,
keluarga dan bisnis adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dpisahkan. Karenanya, ketika akan mengawali usaha kita harus menata atau memenej keluarga terlebih dulu.
Anggota inti keluarga hendaknya bisa memahami tentang dunia usaha yang dipilih. Pemahaman ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya konflik dalam keluarga.
“Kaum laki – laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka ( laki- laki ) atas sebagian yang lain ( wanita ) dan karena mereka (laki – laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh karena wanita yang salehah adalah yang taat kepada Allah dan memelihara diri saat suami tidak di hadapannya. Oleh karena Allah telah memelihara mereka. (QS. An Nisaa: 34).

Menata keluarga yang baik adalah bagaimana kita menjalankan roda kehidupan keluarga berdasarkan Qur’an dan Sunnah Nabi. Apabila anggota keluarga telah menjalankan kewajiban dan memperoleh haknya, Insya Allah, akan terwujud keluarga sakinah. Suami mempunyai hak dan kewajiban ( akhlaq suami ), istri juga mempunyai hak serta kewajiban ( akhlaq istri ). Selain itu juga ada hak dan kewajiban orang tua ( akhlaq orang tua ) dan hak serta kewajiban anak kepada orang tuanya ( akhlaq anak ). Semuanya telah diatur dalam Islam. Apabila kesemuanya bisa berjalan dengan baik dan benar, iberarti kehidupankeluarga bisa berjalan dengan landasan akhlaqul karimah. Pada keluarga yang demikian, apabila menjalankan sebuahusaha, Insya Allah kemungkinan suksesnya lebih besar.

Integritas Wirausahawan Muslim

Keberhasilan seorang wirausahawan muslim berpusat pada integritas pribadinya, bukan dari luar dirinya. Hal ini selain menimbulkan kehandalan menghadapi tantangan,juga erupakan garansi tidak terjebak dalam praktek – praktek negarif dan bertentangan dengan peraturan, baik peraturan negara maupun peraturan agama. Integritas wirausahawan muslim tersebut terlihat dalam sifat – sifatnya, antara lain :

Taqwa, tawakal, zikir dan bersyukur

Seorang wirausahawan muslim memiliki keyakinan yang kukuh terhadap kebenaran agamanya sebagai jalan keselamatan, dan bahwa dengan agamanya ia akan
menjadi unggul. Keyakinan ini membuatnya melakukan usaha dan kerja sebagai dzikir dan bertawakal serta bersyukur pasca usahanya.

Niat Suci dan Ibadah

Bagi seorang muslim, menjalankan usaha merupakan aktifitas ibadah sehingga ia harus dimulai dengan niat yang suci(lillahi ta’ala ), cara yang benar, dan tujuan serta pemanfaatan hasil secara benar. Sebab dengan itulah ia memperoleh garansi
keberhasilan dari Tuhan.

Bangun Lebih Pagi

Rasulullah mengajarkan kepada kita agar mulai bekerja sejak pagi hari. Setelah sholat Subuh, kalau tidak terpaksa, sebaiknya jangantidur lagi. Bergeraklah untuk mencari rezeki dari Rab-mu. Para malaikat akan turun dan membagi rezeki sejak terbit
fajar sampai terbenam matahari.

Selalu berusaha Meningkatkan llmu dan Ketrampilan

Ilmu pengetahuan dan ketrampilan, dua pilar bagi pelaksanaan suatu usaha. Oleh karenanya, memenej perusahaan berdasarkan ilmu dan ketrampilan di atas
landasan iman dan ketaqwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan seorang wirausahawan.

Semangat Hijrah

Seorang wirausahawan muslim perlu memiliki semangat hijrah. Hijrah merupakan salah satu strategi Nabi Muhammad, yang pantas diteladani dan sangat cocok
untuk diterapkan dalam dunia bisnis. Makna hijrah ini bukan hanya berarti kepindahan fisik semata, namun juga bermakna meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk menalankan perintah-Nya. Hijrah ( dalam arti fisik
dan spiritual ) dalam berbisnis akan mendatangkan semangat baru, bahkan juga peluang baru yang tidak diduga sebelumnya.

Keberanian Memulai

Keberanian seringkali bukan merupakan bawaan lahir Sebab, setiap orang dapat mengembangkan keberaniannya, dan bila dilakukan secara sungguh-sungguh, keberanian tersebut akan berkembang dan berdayaguna.

Bill Gates dalam usia 19 tahun ia memilih keluar dari kuliahnya di Harvard Business School dan memilih terjun ke dunia usaha atau mejadi wirausahawan. Akhirnya keberanian tersebut mengantarkannya pada suatu keberhasilan yang tercatat dalam sejarah kewirausahaan dunia.

Memulai Usaha dengan Modal Sendiri Walaupun Kecil

Banyak orang berpendapat, uang adalah modal utama usaha dan harus tersedia dalam jumlah yang cukup/besar. Pandangan ini tidak mutlak salah namun juga belum tentu benar. Memang uang diperlukan sebagai modal usaha, tapi bukan satu – satunya, dan
jumlahnyapun tidak selalu harus besar. Ada modal lain yang juga dangat penting, yaitu semangat, kesungguhan dan karakter serta keahlian/ketrampilan.
Banyak contoh, mereka yang semula hanya “bermodal dengkul”, namun didukung dengan kesungguhan dan kerja keras dan kecerdasannya akhirnya bisa meraih
sukses. Memulai usaha dengan modal sendiri meskipun kecil, apalagi kalau modal itu diperoleh dari hasil keringat sendiri ( bukan dari warisan apalagi meminta – minta ), merupakan awal yang baik untuk meraih sukses.

Sesuai Bakat

Setiap manusia dikarunia Allah kelebihan dan kekurangan. Kelebihan atau potensi dalam diri seseorang dapat dikembangkan atau dimenej untuk mencari rezek. Usaha yang dirintis dari hobby atau potensi/ketrampilan yanga da dalam dirinya akan lebih berpeluang untuk sukses. Sebab ia akan selalu bersemangat, pekerjaannya menyenangkan, sehingga ia akan mencintainya. Hampir semua pengusaha yang sukses memulai usahanya dari sesuatu yang dicintai dan potensi yang ada dalam dirinya.

Jujur
Kejujuran merupakan salah satu kata kunci dalam kesuksesan seorang wirausahawan. Sebab suatu usaha tidak akan bisa berkembang sendiri tanpa ada kaitan dengan orang lain. Sementara kesuksesan dan kelanggengan hubungan dengan orang lain atau pihak lain, sangat ditentukan oleh kejujuran keduabelah pihak. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa “Kejujuran akan membawa ketenangan sementaraketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.” ( HRTurmudzi )

Suka Menyambung Tali Silaturahmi

Seorang wirausahawan haruslah sering melakukan silaturahmi dengan mitra bisnis dan bahkan juga dengan konsumennya. Hal ini harus merupakan bagian dari integritas seorang wirausahawan muslim. Sebab dalam perfektif Islam, silaturahmi selain
meningkatkan ikatan persaudaraan juga akan membuka peluang – peluang bisnis baru. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW : “Siapa yang ingin murah rezekinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan silaturahmi.” ( HR Bukhari )

Komitmen Pada Pemberdayaan

Menurut perspektif Islam keberhasilan seseorang dalam usahanya bukanlah mutlak merupakan hasil kerjanya, melainkan merupakan kerja kolektif sejumlah manusia yang terkait dengannya. Oleh karenanya Islam menekankan sekali pentingnya
komitmen pemberdayaan. Sedemikian pentingnya  sehingga menurut Islam, dalam harta seseorang selalu terdapat hak-hak orang miskin (QS 51/Al Dzariyat:19)
Komitmen pada pemberdayaan memiliki arti luas, dan pelaksanaannya merupakan bagian dari tanggungjawab social pengusaha.

Menunaikan Zakat, Infaq dan Sadaqah ( ZIS )

Menunaikan zakat, infaq dan sadaqah harus menjadi budaya wirausahawan muslim. Menurut Islam sudah jelas, harta yang digunakan untuk membayar ZIS, tidak akan hilang, bahkan menjadi tabungan kita yang akan dilpatgandakan oleh Allah, di dunia dan di akhirat kelak.

Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah bagai sebutir biji yang
tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada tiap tangkai itu berbuah seratus bijih dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang luas lagi Maha Mengetahui (QS 2/Al Baqarah : 261 )
“ orang – orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang – orang yang beriman dengan sebenar – benarnya. Mereka akan memperoleh derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat ) yang mulia. ( QS Al Anfal : 3-4 ). Pengertian sebagian dari rezeki, sebagaimana ayat di atas, idealnya adalah sekitar 35 persen. Karena itu, bagi wirausahawan muslim, nilai ZIS yang dibayarkan semestinya tidak kurang dari 10 %.

Mengasuh Anak Yatim

Sebagai pengusaha, mengasuh anak yatim merupakan kewajiban. Mengasuh atau memelihara dalam arti memberikan kasih sayang dan nafkah ( makan,sandang,
papan dan biaya pendidikan ). Lebih baik lagi bila juga kita berikan bekal ( ilmu/agama/ketrampilan) sehingga mereka akan mampu mandiri menjlani
kehidupan di kemudian hari.

Memampukan Orang Miskin

Allah SWT telah mewahyukan kepada Daud a.s. : “Kelak pada hari kiamat akan datang seorang hamba menghadapKu dengan membawa bekal amal kebajikan, maka pasti Aku serahkan segala kenikmatan sorga kepadanya. Daud berkata :”Ya Rabbi, siapaka
hamba itu ?” Allah menjawab : ” Yaitu orang mukmin yang berusaha memenuhi keperluan sesamanya sampai berhasil ataupun tidak berhasil.” ( HR Al Khathib &
Ibnu Asakir yang bersumber dari Ali ra ).

Pepatah mengatakan, “Kalau kita menanam padi, maka rumput akan tumbuh, tetapi kalau kita menanam rumput, padi tidak akan tumbuh.” Memampukan orang miskin adalah pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah danmerupakan tabungan kita untuk akhirat. Kalau kita menabung untuk akhirat (padi ), maka dunia otomatis bisa diraih. Jadi dengan kata lain, kalau kita ingin dikayakan oleh Allah maka kita harus mau dan berani mengayakan orang lain. Atau, dengan jalan memampukan orang miskin.

Mengembangkan Sikap Toleransi.

Toleransi, merupakan sikap yang penting dimiliki wirausahawan. Dengan demikian, tampak orang bisnis itu supel, mudah bergaul, fleksibel, pandai melihat situasi dan kondisi, teguh memegang prinsip namun tidak kaku dalam berhubungan dengan pihak lain ( termasuk dengan pelanggannya ).

Kesimpulan
Pengembangan kewirausahaan merupakan bagian integral dalam pelaksanaan ajaran Islam, dan dalam tingkatan tertentu merupakan solusi alternatif dalam mengatasi krisis ketenagakerjaan di Indonesia. wirausahawan muslim memiliki peluang besar untuk sukses dalam usahanya apabila ia meyakini benar bahwa agamanya merupakan jalan hidup yang benar dan merupakan pendukung keunggulan seorang wirausahawan. Kesuksesan seorang wirausahawan muslim tidaklah semata -mata ditentukan oleh ilmu dan ketrampilan serta kecanggihan menejemennya tetapi juga oleh integritas pribadinya yang Islami.

 

Pos ini dipublikasikan di Bisnis, Financial, Leadership, Manajemen, Personal Development dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s