Spiritual Leadership – The Power of Character

Inspiring CEO Message (AY)

Tantangan berat ke depan memerlukan standar kualitas kepribadian dan kepemimpinan yang prima yaitu: kokoh secara spiritual, dewasa secara emosional, luas secara intelektual, kuat dan cerdas secara operasional. Pendek kata, diperlukan keseimbangan antara Olah Ruh (Spiritual), Olah Rasa, Olah Rasio dan Olah Raga (4R). Olah Ruh dapat membuat hidup lebih berkah, Olah Rasa dapat membuat hidup lebih indah, Olah Rasio dapat membuat hidup lebih mudah, dan Olah Raga dapat membuat hidup lebih bergairah.

Kekuatan spiritual dalam mendorong sukses seseorang sangatlah dominan. Sebagaimana ditegaskan juga oleh Daniel Goleman mengenai kontributor sukses, yaitu: intellegence Quotient (6%), Emotional Quotient (20%), dan Spiritual Quotient (74%). Hasil penelitian Daniel Goleman tersebut menunjukkan spiritual-lah yang memberikan kontribusi terbesar. Pada dasarnya sesungguhnya manusia merupakan makhluk spiritual. Misbahul Huda dalam bukunya “Dari Langit Turun ke Bumi” juga menyebutkan hal yang senada “Anda bisa saja kuat secara fisik, cerdas secara intelektual, dan dewasa secara emosional. Tetapi jika anda lemah secara spiritual, maka Anda tidak akan pernah bisa melampaui krisis kehidupan Anda. Jangankan mengatasi banyak hal atas banyak orang, mengatasi masalah diri sendiri saja tidak sanggup”.

Kepemimpinan spiritual adalah menjadi individu dengan senang hati dan dengan penuh keyakinan diikuti orang lain karena kekuatan pengaruhnya. Kejujuran menjadi prinsip utama dalam kepemimpinan spiritual kapanpun dan dimanapun sang pemimpin berada. Hal tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Kouzes dan Posner di 10 negara maju yang dilakukan secara periodik lima tahunan yang membuktikan bahwa kejujuran (honest) atau integritas menempati urutan pertama untuk kualitas pemimpinnya, disusul oleh karakter lainnya. Ada empat karakter tertinggi yang diharapkan menjadi kualitas pemimpin negaranya: honest, visioner, inspiring, competent. Kebetulan hal ini sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu shiddiq (honest), amanah (visioner), tabligh (inspiring), dan fathanah (competence). Karakter inilah yang mampu menghantarkan bangsa dan negaranya (community) menjadi bangsa dan negara (community) yang maju.

Pada April 2002, Harvard Business School, kiblat bagi para pebisnis dunia dalam konsep penyelenggaraan bisnis, mengadakan forum diskusi leadership dengan tema “Does Spirituality Drive Success? (Apakah spiritualitas bisa membawa seseorang pada kesuksesan?)”. Forum diskusi ini dihadiri oleh sejumlah CEO dari perusahaan-perusahaan terkemuka di Amerika Serikat. Hasil dari forum diskusi ini menunjukkan bahwa spiritualitas terbukti mampu membawa seseorang menuju tangga kesuksesan dengan lima hal, yaitu: integrity atau kejujuran; energy atau semangat; Inspiration atau inisiatif; wisdom atau bijaksana; serta bravery atau keberanian dalam mengambil keputusan.

Hasil yang sama juga diperoleh pada survey kecil yang dilakukan pada FHCI-BUMN, senin kemarin – 10 Juni 2013, dimana integritas menjadi karakter utama yang diharapkan dari seorang pemimpin. Hampir keseluruhan survey diatas menyiratkan suatu pola yang sama dan dapat menjadi karakter standar universal yang berlaku di seluruh dunia tentang syarat kesuksesan.

Universalitas Potensi Spiritual

Ary Ginanjar Agustian telah menulis dengan baik tentang Universalitas ini dalam buku “Spiritual Company”. Spiritualitas dalam hal ini tidak dipandang sebagai praktik-praktik menjalankan ritual ibadah dalam agama, melainkan suatu potensi built in dalam setiap pribadi manusia, apapun agama dan keyakinannya. Sebagai contoh William W. George memimpin Medtronic (perusahaan yang bergerak di industri medis) dengan menempatkan spiritualitas sebagai energi utama penggerak institusi bisnis meraih sukses. George mengajarkan bahwa Medtronic bukanlah bisnis untuk memaksimalisasi nilai pemegang saham, melainkan nilai pasien (pemakai alat-alat medis perusahaan tersebut). Kekayaan atau keuntungan finansial diyakini sebagai hasil alamiah dari pelayanan total kepada konsumen, yakni pasien. Who wins the customer wins the games. Di Telkom, kita mengenal konsep ini dengan “Mega Thinking”, spirit of giving.

Yang menarik, karena sifatnya yang universal, ide-ide tentang spiritualitas dari suatu tempat terkadang bisa bersentuhan dengan ide-ide spiritualitas di tempat lain melampui keterbatasan bahasa maupun perbedaan agama. Survey yang dilakukan oleh The Leadership Challenge, lembaga survei kepemimpinan internasional, pada tahun 1987, 1995 dan 2002 meneliti karakteristik CEO ideal di enam benua, yaitu Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Asia, Eropa dan Australia. Masing-masing responden diminta memberi angka dan memilih 7 karakteristik CEO ideal mereka. Hasilnya, karakter integrity atau kejujuran secara konsisten menempati tempat teratas dalam tiga kali survey tersebut. Apapun kebangsaannya, apapun agamanya, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun, semua memandang kejujuran adalah nilai dasar.

Pos ini dipublikasikan di Leadership, Manajemen dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s