Spiritual Capital Management. from character to commerce, from believe to business.

(Inspiration from AY)

Semua yang kita lakukan pada dasarnya merupakan ibadah kepada Allah. Bekerja untuk dan atas nama Tuhan. Kalau sudah mencapai derajat tersebut, maka dampaknya adalah adanya integritas yang tinggi karena seluruh aktivitas kita merupakan ibadah kita. Itulah Spiritual Capital Management.

Spirit itu lebih hebat dari strategi.  Spirit berkaitan dengan hati dan character, sedangkan strategi berkaitan dengan competence. Kenyataan menunjukkan bahwa hati dan character memberikan pengaruh yang sangat besar pada sebuah kesuksesan. John Kotter dalam bukunya Heart of Change menyebutkan “70% transformasi yang pernah dilakukan ternyata gagal karena hanya menggunakan kepala (head) tanpa hati (heart). Menurutnya, pemimpin yang berhasil dalam melakukan transformasi adalah mereka yang melibatkan aspek hati (heart).

Roosevelt menyatakan, “Character is the foundation for all true success”. Character itu merupakan fondasi dari keberhasilan yang abadi.  Character berpengaruh terhadap kesuksesan setiap individu, keluarga, organisasi, komunitas dan negara. Kesuksesannya tergantung pada kesuksesan hubungan yang dibangun dengan orang atau organisasi lain, dan hal tersebut dimulai dengan character.

Tentang culture atau character, CEO Wells Fargo John Stumpf menyatakan, “I could leave our strategy on an aeroplane seat and have a competitor read it and it would not make any difference”. Walaupun strateginya diketahui dan dicontoh kompetitor, tidak akan membuatnya khawatir.  Yang membuat beda adalah culture atau character.

Stumpf menyebut, character  dipengaruhi oleh top leader. Menurutnya, organisasi tidak dapat melakukan transformasi kecuali bila pemimpin puncaknya (top leader) mengadopsi nilai-nilai baru (new values) dan melakukan perubahan perilaku (change their behavior). Culture atau character dari sebuah organisasi merefleksikan personality dari kepemimpinan saat ini dan juga personality dari kepemimpinan sebelumnya.

Great leader-lah yang akan menjadi driver untuk perubahan dalam sebuah organisasi. Great leader akan men-drive vision & mission perusahaan, yang kemudian akan menggerakan komponen-komponen lainnya. Ada 3 hal yang diperlukan sehingga terbangun kohesivitas dan rasa saling percaya antar para pimpinan (leader), yakni the shared vision (semua memiliki tujuan yang sama), the shared values (selalu mengacu pada nilai sebagai panduan dalam pengambilan keputusan), dan the culture of trust (mempercepat proses pengambilan keputusan dan kemudahan untuk segera beradaptasi terhadap perubahan).

 

Dalam perjalanan pembentukan culture atau character pada sebuah organisasi, muncul apa yang disebut cultural entropy, yakni energi yang terpakai untuk kegiatan tidak produktif di sebuah lingkungan kerja. Tinggi rendahnya entropy menunjukkan tingkat konflik, friksi, dan frustasi di lingkungan tersebut. Ia tidak akan pernah melihat orang lain dengan pandangan mata lalat yang hanya akan melihat  kelemahan (“kotoran”) orang lain

Culture/character akan menghasilkan individu-individu  atau orang yang berpikir positif (positive thinking). Individu demikian mampu melihat sesuatu yang tidak tampak (sees the invisible), merasakan sesuatu yang tidak nyata (feels the intangible), dan mencapai sesuatu yang tidak mungkin (achieves the imposible). Individu yang berpikir positif senantiasa melihat orang lain dengan pandangan mata lebah. Ia melihat bahwa dalam setiap keberhasilannya selalu ada kontribusi orang lain.

  

 

4 R (Raga, Rasio, Rasa, Ruh)

Terdapat 4 komponen dasar manusia yakni Raga (badan), Rasio (akal), Rasa (hati), Ruh (Kalbu). Setiap tingkat di atasnya mengatasi kelemahan tingkat di bawahnya. Rasio mengatasi kelemahan Raga, Rasa mengatasi kekurangan Rasio, dan Ruh mengatasi kelemahan Rasa.

Raga terbuat dari tanah dan cenderung menarik kita ke bawah. Raga selalu cenderung menggiring kita untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek (short term) dan ingin memuaskan semuanya. Pada akhirnya raga akan kembali menjadi tanah. Sedangkan Ruh ibarat cahaya yang membawa kemuliaan, yang cenderung membawa kita ke atas.

 

Derajat manusia yang mempunyai Raga, Rasio, Rasa dan Ruh tersebut mempunyai kedudukan yag berbeda-beda di hadapan Tuhan. Bila ingin mengetahui derajat kita di hadapan Tuhan,  maka lihatlah bagaimana kita menempatkan Tuhan pada diri kita. Dalam hidup kita seringkali dihadapkan pada berbagai ujian.  Jabatan, kedudukan dan kekayaan yang kerapkali diperebutkan orang, hanyalah soal-soal ujian. Kelak kita tidak ditanya tentang soal-soal ujian itu. Pertanyaan yang pasti harus kita jawab, adalah hasil ujian itu sendiri, apakah kita lulus atau tidak.  Kita tentu saja berharap dapat lulus dari ujian tersebut.

  

Strategic Thinking

Dalam kerangka berpikir strategis (strategic thinking), ketika orientasi berpikir kita hanya sebatas company (berpikir micro) maka kita hanya akan memperoleh result yang bersifat short term. Sedangkan ketika kita memperluas orientasi berpikir dengan memikirkan kepuasan Customer atau starts and end (berpikir macro) maka keuntungan (result) akan bersifat long term(jangka panjang).  Dan ketika kita mampu berpikir MEGA yang berarti memikirkan komunitas, maka otomatis kepuasan customer dan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang yang bersifat sustain dapat dicapai.

Kita hanya bisa sampai ke level MEGA dengan baik bila sudah mencapai spiritual level, telah terbentuk the spirit of givingyang menganggap bahwa apa yang dilakukan akan  memberikan rahmat bagi alam semesta. Ketika telah mencapai level tersebut, yakinlah bahwa semakin banyak memberi, kita akan semakin banyak menerima, the more you give the more you get. Dan level tersebut hanya bisa dicapai oleh individu-individu yang berkarakter. Untuk level yang lebih tinggi lagi, ketika kita tidak punya kepentingan sama sekali, ketika kita ikhlas, kita akan mendapatkan semuanya. Disitulah justru paradoksnya. Saat kita tidak mengharapkan semuanya, justru kita akan mendapatkan semuanya. Google dan Facebook membuat hidup manusia lebih mudah. Tidak lagi berpikir  dengan batas-batas geografis sebuah negara. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya hidup manusia dapat lebih mudah.

Pos ini dipublikasikan di Filosofi, Leadership, Manajemen, Personal Development dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s