Bekerja menjadi Yang Terbaik

Bekerja itu harus dengan high standard. Jadi kalau tidak bisa memberikan kinerja terbaik, maka kepadanya tidak diberikan kesempatan dalam perusahaan ini. Baik itu tidak cukup baik, kita harus selalu menjadi yang terbaik. 

Always the best diaktualisasikan dengan IFA. Pertama, imagine, kedua focus dan yang ketiga action.

Imagine itu adalah desireability atau keinginan kita, bukan feasibility atau sesuatu yang kemungkinan akan terjadi atau biasanya terjadi.

Kedua focus. Kalau mau singkat, intinya adalah utamakan yang utama. Ini mudah diucapkan tetapi kenyataannya belum semua melakukannya.

Yang ketiga action. Action berarti juga implementasi atau eksekusi. Eksekusi yang efektif adalah dengan menetapkan milestone atau quick win. Hanya imajinasi dan aksi yang dapat merubah dunia.

 Dalam Buku  Good to Great, Jim Collins mengatakan secara lebih terus terang bahwa baik itu musuh dari hebat, baru kita bisa hebat. Jadi baik saja tidak cukup, apalagi bekerja seadanya. Di buku Good to Great diajarkan konsep landak (hedgehog concept). Kalau mau menjadi hebat, pertama, haruslah menjadi yang terbaik/ the best; kedua, harus menjadi economic engine; dan yang ketiga adalah passion. Tiga jurus itu akan membuat perusahaan menjadi yang terbaik. Kalau tidak menjadi economic engine tapi menjadi yang terbaik, itu namanya hobi namun tidak akan menjadikan perusahaan itu hebat. Jim Collins mengajarkan bagaimana cara menjadi yang terbaik. Kita tidak perlu menjadi yang terbaik dalam segala hal, fokuslah hanya pada hal-hal dimana kita bisa menjadi yang terbaik.

Untuk menjadi hebat, harus menjadi yang terbaik. Mengapa harus menjadi yang terbaik?  Ujung sebuah bisnis adalah creating value, yang dalam bahasa sehari-harinya diterjemahkan sebagai making money. Kita bisa menjadi hebat jika creating value tersebut bisa dilakukan secara terus menerus atau sustain.

Mengapa harus nomor satu ? menurut Jack Welch, kalau kita nomor satu dan nomor dua, terutama pada kondisi sulit, kita akan bisa tetap sustain. Bila kita berada di nomor 4, 5 atau 6 maka di masa sulit kita tidak bisa sustain. Makanya Jack Welch menekankan harus selalu menjadi yang terbaik. To be number one, to be number two, or to be gone. Dalam bisnis Jack Welch mengatakan kalau tidak nomor satu dan nomor dua, harus pergi. Keep, Fix, Sell.

Untuk imagine , Pertama, cara berpikir harus benar dulu, baru cara bertindaknya benar. Kalau cara berpikirnya sudah benar, maka hampir pasti bertindaknya juga benar. Kalau kita menyadari kita tidak memiliki ide yang lebih baik dari atasan, ikuti saja atasannya. Jangan pretend kita juga bisa.

Kedua, berawal dari akhir. Mau kemana, dari mana dan bagaimana caranya. Yang penting kita mau kemana dulu tidak peduli dimanapun kita berada. Orang yang start-nya dari mana, bisa tidak kemana-mana karena dia terlalu berat dengan legacy-nya.

Sebagai ilustrasi. Kita diberi dua kertas, kertas pertama diisi apa yang kita miliki dan mau kemana. Kertas kedua, tanpa memikirkan apapun, tulislah apa yang ingin dicapai. Apa yang terjadi? Pegang dua kertas itu di kiri dan di kanan. Kertas yang di kiri itu kertas berisi apa yang kita miliki dan kita mau kemana. Yang di kanan tanpa memikirkan apapun kita boleh menuliskan apa yg kita inginkan. Ternyata yang memberikan cita-cita pemimpi besar itu yang sebelah kanan. Apa yg harus dilakukan? Ambil kertas kiri dan sobeklah kertas tersebut.

Ketiga, if you imagine, you can get it. Ada cerita bagus tentang Walt Disney ini. Suatu ketika saat peresmian Disneyland yang datang bukanlah Walt Disney, melainkan isterinya. Dalam pidato isteri Walt Disney, dia mengatakan, “ia sudah melihatnya. Inilah yang diimpikan oleh suamiku”. Ketika itu Walt Disney sudah tidak ada. Kata-kata paling terkenal dari Walt Disney tersebut adalah if you imagine, you can get it. Kalau kita bisa membayangkannya, maka kita akan dapat meraihnya. Sun Tzu juga mengatakan hal yang senada, ”Kemenangan itu direncanakan”. Maka saya katakan juga, seorang pemenang itu menang sebelum peperangan.

Pemimpin itu ibarat seorang arsitek yang ingin membuat sesuatu seperti yang dia rencanakan. Energi terbesar dari seorang arsitek atau pelukis itu ketika lukisannya belum selesai. Ia tidak akan berhenti. Hal tersebut sama seperti apa yang saya bayangkan “Saya ingin tahun ini segera berakhir karena ingin melihat mimpi saya di akhir tahun menjadi kenyataan”.

Jurus pertama untuk fokus, jika kita ingin menang kirim pasukan, bentuk winning team dan pilih pasukan terbaik. Berikan dukungan sumber daya yang cukup, terutama waktu. Kalau ingin menang, kirim pasukan dan alokasikan resources.

Point kedua dari fokus adalah buat bukit-bukit kemenangan. Ada peperangan dan ada pertempuran. Peperangan itu terdiri dari beberapa pertempuran, war and battle. Dalam peperangan, pilih bukit-bukit pertempuran manakah yang harus kita menangkan. Buatlah bukit-bukit kemenangan. Tidak harus seluruh bukit. Fokuskan kekuatan utama untuk merebut bukit-bukit utama.

Point yang ketiga dari fokus adalah utamakan yang utama. Jika kita menginginkan semuanya maka kita akan kehilangan semuanya. Jangan punya program yang banyak. Tetapkan saja 3 yang utama. Kerjakan dulu ‘yang utama’ sebelum mengerjakan yang lainnya. Jangan sampai kita telah mengerjakan semuanya kecuali yang utama. Kita harus hafal hal-hal yang utama. Kita bisa membayangkan ada orang jago silat tetapi tidak hafal jurusnya. Berapa program utama Anda. Kalau tidak bisa menjawab secara langsung, kemungkinan besar Anda salah. Itu karena terlalu banyak di kepala Anda. Kalau Anda menginginkan semuanya Anda tidak akan dapat semuanya.

Jack Welch mengajarkan leadership itu adalah 3E yakni Energy, Energize, Edge. Suatu ketika Jack Welch melakukan turba (turun ke bawah) dan bertemu dengan seseorang yang sangat bagus di lapangan, tetapi kinerja tim yang dipimpinnya tidak terlalu bagus. Jack Welch ketika itu menyadari ternyata ada satu E keempat yang belum dilakukan yaitu Execution, maka dia menambahkan dalam prinsip leadershipnya menjadi 4E.

Point pertama untuk action adalah benchmark. Benchmark adalah cara paling efektif menjadikan perusahaan menjadi yang terbaik.  Benchmark dapat dilakukan antar divisi, antar direktorat, atau ke perusahan lain. Setelah benchmark, Anda tidak akan menjadi lebih buruk dan tidak lebih miskin, malah jauh lebih kaya. Semua yang terbaik yang ada di unit atau perusahaan lain akan ada di perusahaan Anda. Tidak percaya? Einstein bahkan berkata, ”Orang biasa itu belajar dari kesalahan diri sendiri, sedangkan orang pintar belajar dari kesalahan orang lain”. Jangan gengsi melakukan benchmark, memangnya Anda paling pintar? Semakin Anda merasa pintar, maka Anda semakin menjadi orang biasa.

Jangan berpikir bahwa kita telah menemukan sesuatu yang baru, karena di suatu tempat, di suatu masa, seseorang telah berpikir atau telah membuatnya. Jack Welch mengatakannya sebagai NIH (Not Invented Here). NIH adalah budaya lama yang berakar sangat kuat di GE lama, yang berasumsi jika gagasan tidak berasal dari dalam GE, maka hal tersebut tidak berharga untuk diketahui. Jack Welch membalikkan paradigma tersebut. Jack Welch marah sekali kalau ada yang tidak mau benchmark. Benchmark merupakan cara paling efektif menjadikan perusahaan yang kita pimpin menjadi yang terbaik. Di MBNQA juga diajarkan itu, ’quest for excellence’.

Point kedua untuk action adalah membentuk mental pemenang. yaitu membuat Quick Win. Quick win lebih untuk membentuk self confidence. Oleh karenanya ciri-ciri quick win itu likelihood atau kemungkinan untuk terjadinya tinggi dan impact atau dampaknya besar. Namun, kalau Anda tidak bisa mencari Quick Win yang impactnya besar pilihlah Quick Win yang likelihoodnya tinggi. Karena sesungguhnya kepentingan utama dari quick win ini adalah self confidence. Jiwa pemenang dapat dibentuk dengan self confidence baik untuk pemimpinnya maupun untuk yang dipimpinnya.

Quick win sering saya contohkan agar bagaimana pasukan kita percaya pada pemimpin kita. Katakanlah di bukit A ada perunggu dan terbukti ada perunggu. Di bukit B ada perak dan terbukti ada perak. Di bukit C ada emas dan terbukti ada emas. Lalu ketika Anda katakan yang sebenarnya dicari adalah berlian di balik bukit yang jauh di sana, semua orang akan percaya.  Sebagian besar diantara kita memiliki pemikiran “seeing is believing”, melihat dulu baru percaya. Bagi orang yang keyakinannya hebat, “believing is seeing”, percaya dulu baru melihat. Itulah visionary leader.

Terakhir, bagaimana cara menilai orang? Orang yang nilainya D. Dia gagal dan tidak tahu mengapa dia gagal. Nilainya C, dia menang tapi tidak tahu mengapa dia menang. Yang boleh itu hanya yang kelas A atau kelas B. Orang yang menang dan tahu mengapa menang, dan orang yang kalah tetapi dia tahu kenapa kalah.

Inspiration by Arief Yahya.

Pos ini dipublikasikan di Leadership, Manajemen, Motivasi, Personal Development, Sukses. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s