Winner Takes Al…

Winner Takes All
Kamis, 02 September 2004
Oleh : Prih Sarnianto

Dalam dunia yang kompetitif, dia yang nomer satu boleh dibilang akan menikmati semuanya ? kemashuran, harta, perempuan cantik. Dan ternyata ada benang merah dari kiat para maestro berbagai bidang dalam meraih sukses.

Namanya Christiaan Barnard. Dokter dengan panggilan yang tampak kelebihan huruf ?a? ini ? Christiaan, bukan Christian ? mungkin tak akan dikenal dunia kalau hari itu tak membelah dada seorang perempuan yang mati batang otak dan memindahkan jantungnya ke tubuh seorang lelaki setengah baya, 55, yang organ pemompa darahnya hampir tak berfungsi. Memang, sang pasien cuma bertahan 18 hari. Tetapi transplantasi jantung yang dilakukan pada 1967 itu diakui sebagai sebuah terobosan besar.

 

Jantung yang dicangkok Barnard bisa memompa darah dengan baik. Kalau sang pasien menemui ajal dengan cepat, itu karena pneumonia akibat menurunnya imunitas oleh pemberian obat yang dimaksudkan buat mencegah penolakan organ dari luar. Dengan kata lain, Barnard sukses besar. Dan sejak itu, para orang kaya dari seluruh penjuru Bumi mengantri untuk mendapatkan sentuhan ajaib sang dokter.

 

Ganteng dan ramah, Barnard segera berkibar menjadi selebriti ? jauh sebelum profesi kedokteran mendapatkan glorifikasi dari film serial semacam Dr. Kildare, General Hospital, dan E.R.. Fotonya beredar di berbagai majalah dan koran, runtang-runtung dengan mahluk-mahluk tercantik dari Hollywood. Tak heran kalau Paris Match menobatkannya sebagai one of the world’s great lovers.

 

?I have a woman in my life at all times,? ujar bapak enam anak itu.

 

Tak dapat dipungkiri, keberhasilan Barnard ditopang oleh situasi dan kondisi. Belajar bedah jantung di Amerika, terutama University of Minnesota, setelah 10 tahun bekerja sebagai dokter umum di Afrika Selatan, Barnard muda pulang ke negerinya dan bergabung dengan Groote Schuur Hospital, di Cape Town. Waktu itu, apa pun ambisi para ahli bedah Amerika, mereka tak mungkin mengganti jantung yang perlu turun mesin dengan yang baru. Etika kedokteran di Negeri Paman Sam melarang pengggunaan jantung dari orang yang sudah mati otak tetapi jantungnya masih berfungsi, walau secara artifisial.

 

Kami tak punya rintangan legal seperti di Amerika,? kenang Barnard. Maka, setelah sembilan tahun melakukan eksperimen, terutama dengan anjing sebagai hewan uji, Dr. Barnard dan timnya yang berjumlah 30 orang melakukan operasi cangkok jantung yang melambungkan namanya itu.

 

Sampai September 2001, ketika Barnard meninggal pada usia 78, sekitar 100 ribu transplantasi jantung telah dilakukan di berbagai negara, kecuali Jepang yang sampai saat itu masih menganggap orang belum mati selama jantung masih berdetak. Alhasil, kalaupun tak dapat disebut sebagai pionir teknik bedah jantung, keberanian Barnard  menempatkan ?tak berfungsinya (batang) otak? sebagai definisi kematian ― sekaligus menghapus mistik tentang jantung dan menempatkan organ ini dalam fungsinya sebagai sebuah ?pompa primitif?― telah membuka harapan bagi banyak pasien untuk memperpanjang hidup.

 

Keberanian inilah yang membuat Barnard diakui sebagai maestro dunia di bidangnya, walau dia hanya menangani 75 pasien sebelum menyarungkan pisau bedah unuk selamanya karena terkena artritis pada tahun 1980-an. Dalam kurun waktu belasan tahun karirnya sebagai maestro cangkok jantung itu, para pasien Barnard boleh dibilang rela membayar berapa saja untuk jasanya ?― jauh di atas tarif ahli bedah jantung lain. Maklum, dalam urusan hidup dan mati, orang selalu mencari yang terbaik. Winner takes all. Tak ada tempat cukup layak bagi yang lain.

 

Setelah tak melakukan operasi jantung lagi, Barnard menjadi peneliti dan pembicara tentang ?ilmu memperpanjang usia.? Dan, seperti biasa, seminar sang maestro laku keras walau audiens harus membayar mahal untuk mendengarkan dokter yang awet muda ini memberi nasehat banyak makan sayur, istirahat, hidup santai dan… melakukan aktivitas seksual.

 

Fenomena ?dia yang nomer satu akan mendapatkan segalanya? juga berlaku di banyak bidang lain, termasuk bisnis. Para dokter perusahaan nomer wahid selalu mendapat kompensasi jauh lebih besar ketimbang eksekutif dengan reputasi bukan the number one. Para maestro turnaround itu bahkan beroleh ?parasut emas? kalau dia gagal membuat perusahaan yang dibenahinya tinggal landas.

 

Bahkan di bidang yang tak menyangkut hidup dan mati, kompetisi ketat membuat orang menghargai sangat lebih pada yang terbaik. Tengok saja dunia olah raga, termasuk yang amatir seperti Olimpiade Athena. Negara dengan medali emas terbanyak, tak peduli diperoleh dari cabang olah raga apa, akan bertengger di posisi puncak ? walau medali lainnya cuma segelintir. Nama atlit yang berhasil menyabet medali emas juga akan abadi dalam sejarah kompetisi olah raga terakbar itu. Tawaran sebagai endorser berbagai produk akan membuat mereka kaya raya.

 

Para pemegang medali perak dan perunggu? Mohon maaf, mereka akan segera dilupakan begitu obor kompetisi padam.

 

Di bidang entertainmen yang kompetisinya kian mencekik, fenomena winner takes all juga mulai merebak. Simak saja kisah sukses Wade Jeremy Robson.

 

Lahir di Brisbane pada 17 September 1982, Robson telah bisa meniru dengan sempurna semua gerakan dalam video kesayangannya, Thriller, bahkan memenangkan kontes tari nasional gaya Michael Jackson di negaranya, Australia, pada usia 5 tahun. ?I want to be a star and make everybody happy while doing it,?  ujar sang Bocah Ajaib waktu itu.

 

Buat memudahkan cita-cita Robson, sang Ibu memboyong anak lelakinya itu ke Los Angeles bersama anak perempuannya, Chantal, dengan bekal sekadarnya yang dimuat dalam enam buah koper. Ketika itu, Robson yang baru delapan tahun memenangkan kontes tari yang mempertemukannya dengan sang Idola, Michael Jackson. Sangat terkesan, Jackson ini lalu mengajaknya dalam tiga video klip terbesarnya: Jam, Heal the World, dan Black and White.

 

Di bawah arahan Michael Jackson, Robson menemukan bakat lain yang terpendam ? ngerap dan nyanyi ? sampai-sampai sang Raja Musik Pop itu mengikat Robson dalam sebuah kontrak rekaman dengan label miliknya, MJJ. Duet rap QUO yang dimotori Robson itu sempat pentas selama dua tahun, sebelum dia memutuskan untuk memfokuskan energi di bidang lain.

 

Robson masuk ke dunia akting, memainkan peran kecil di serial TV (Full House, Picket Fences, Pacific Blue) dan fillm fitur (Kazaam, EdTV) sambil terus menyempurnakan keahliannya mencipta musik dan lagu (We Genie, sebuah lagu dengan Shaquille O?Neal dalam soundtrack film Kazaam). Kecuali itu, yang terpenting, dia memberi perhatian lebih pada koreografi.

 

Telah mengibarkan diri penari profesional yang diperhitungkan, Robson mulai menjadi guru pengganti di Millenium Dance Complex, studio tari beken di North Hollywood. Dan tak tanggung-tanggung, yang diajarnya adalah tingkat profesional dan kelas tari hip-hop yang notabene didominasi orang kulit hitam. Hebatnya lagi, Robson menggunakan musik yang dia remix sendiri. Padahal, waktu itu umur Robson baru 12!

 

Demand yang tinggi dan popularitas kelasnya yang melesat, membuat Robson muda harus mengajar secara rutin. Tak heran kalau dia lalu jadi guru tetap, mengajar tiga kali seminggu di kelasnya sendiri. Kecuali itu, dia juga diminta mengajar di Tremain Dance Studios yang prestisius dan melakukan perjalanan ke seluruh negeri buat mengajar di berbagai konvensi tari. Kadang, dai mengajar pula di The Edge Performing Arts Center, Los Angeles.

 

Semua ini membuat namanya sebagai ?dance whiz? berkibar tinggi. Maka, para penyayi dan entertainer berebut untuk melakukan kerja sama dengannya. Tercatat, nama-nama seperti Immature, Youngstone, IMX, A-Teens, mandy More, dan Take-5 menyewa jasanya. Dia manggung di The Kid’s Choice Awards, bahkan ajang piala Oscar yang bergengsi itu. Dia menciptakan danmembawakan koreografi iklan GAP yang ngetop itu. Pada 2001, dia bahkan dipercaya merancang koreografi para kampiun pop dan R&B seperti Pink, Usher, dan Mya buat MTV dalam acara Tribute to Janet Jackson.

 

Bintang Robson dijagat musik pop mulai bersinar ketika dia dipertemukan oleh seorang teman dengan Britney Spears pada 1998. Spears yang waktu itu mencari seorang koreografer mulanya tak percaya dengan kemampuan Robson yang masih berusia 16. ?He’s going to do my tour?? He can?t! He’s just a baby!? ujar sang bintang.

 

Tetapi, setelah menyaksikan sendiri kejeniusan sang Maestro belia, Spears segera mengangkat Robson sebagai komandan seksi tari, bahkan lebih dari itu. ?Dia kasih aku kesempatan buat membuktikan diri,? tutur Robson. Setelah itu? ?She wanted to use me for everything she did!?

 

Maka jadilah Robson orang kunci di balik sukses Spears yang diakui sebagai ?titisan? penyanyi Madonna itu. Dia mengerjakan hampir semua hal yang berbau kreatif, mulai dari koreografi tari yang rumit sampai remixing musik, penyutradaraan segmen video, bahkan perencanaan desain kostum dan perancangan detil panggung. Robson pula yang menyutradarai tur Spears yang mendapat sambutan spektakular itu (Oops! I Did It Again pada 2000 dan Dream Within A Dream pada 2001).

 

Di luar panggung, Robson menyutradarai musik video, penampilan dalam show untuk penerimaan award, menciptakan koreografi Spears di iklan Pepsi, bahkan ikut berperan menampilkan citra Spears yang lugu (sampai waktu itu, 2001, berani mengaku masih perawan) namun seksi. Sebagai pencipta lagu dan produser, Robson ikut menulis dan memproduksi lagu What It’s Like To Be Me dalam album ke-3 sang Diva Belia.

 

Salah satu koreografi Robson yang sensasional adalah Slave 4 U yang ditampilkan pada MTV Video Music Awards. Dalam setting bernuansa rimba itu, Spears muncul dengan lima cheetah hidup dan seekor ular phyton albino di pundaknya.

 

Sekarang, Robson sudah tak banyak terlibat dalam kegiatan konser dan pertunjukan panggung Britney Spears lagi. Kendati demikian mereka tetap dekat, sebagai sahabat maupun mentor.

 

Bintang lain yang menggunakan jasa Robson bertebaran di langit musik dunia. Paula Abdul dan Debbie Allen pernah mempercayakan koreografinya kepada sang Maestro muda. Juga *NSYNC ketika membuat video dan melakukan tur No String Attached yang meledak itu. Dia pula yang menciptakan konsep dan koreografi, serta menyutradai, segmen video untuk tur *NSYNC yang bertajuk Pop Odissey, pada 2001. Dalam album yang diluncurkan bersamaan dengan tur ini, Celebrity, Robson ikut menulis dan menjadi produser empat lagu, termasuk Gone yang mendapat nominasi Grammy Award. Pendek kata, begitu dekatnya Robson denga *NSYNC, sampai dia dijuluki sebagai ?unofficial sixth member of *NSYNC.?

 

Sekarang? Kalau rajin menyimak MTV, kita bisa melihat penampilan Robson di reality show bertajuk The Wade Robson Project. Di sisi bisnis, dia mendirikan WaJeRo Entertainment Inc. (yang antara lain melingkupi WaJeRo Sounds, sebuah rumah produksi). Dia juga teken kontrakdengan Ralph Libonati Company guna meluncurkan lini produk dance footwear, ?Power Dance Shoes?, dan meng-endorse lini produk ?What’s Next. Now? dari U.S. Electronics.

 

Pada 2004 ini, Robson memerankan diri sendiri dalam film You Got Served. Lalu, sebagai penulis dan produser lagu, dia menggandeng Carly Simon. ?Wade itu hebat,? ujar sang Penyanyi Legendaris. ?Dia bukan jadi produser, tapi juga bisa kasih saran aku seberapa vibrato yang aku gunakan…?

 

Koreografer berbakat, yang sekaligus dapat menata panggung dan menulis lagu, memang tak sedikit. Kendati demikian, maestro yang mampu menghasilkan karya yang secara konsisten digandrungi masyarakat tak banyak. Itulah sebabnya, Robson yang dihubungi oleh Backstreet Boys ketika kelompok (yang pernah) beken ini ingin bangkit lagi, di paggung maupun dunia rekaman ? dan bukan yang lain.

 

Untuk jadi seorang maestro, terutama di dunia kreatif, diperlukan originalitas. Dan ini tak perlu harus datang dari kejeniusan. Russell Simmons membuktikan hal ini. Lahir sebagai anak ke-2 sebuah keluarga kelas menengah, sejak awal Simmons sudah menyadari tak akan menempuh jalan karir ayahnya, seorang guru, ataupun ibunya, seorang recreational director.

 

Simmons muda malas sekolah, senangnya hanya pakai pakaian bagus. Sebab itu, pemuda hitam ini lalu turun ke jalan ? jual ganja buat mendapatkan uang ekstra. Dia bahkan bergabung dengan gang preman yang ditakuti, The Seven Immortals. Setelah melihat abangnya, Danny, masuk bui karena memakai narkoba, dia lalu kerja di gerai jus jeruk Orange Julius di Greenwich Village. Tetapi karena fulus yang diterima kurang, dia lalu jual kokain palsu sampai lulus kuliah.

 

?Coke palsu tidak ilegal dan marginnya lebih tebal,? tutur Simmons. ?Plus, satu-satunya pihak yang mesti dikhawatirkan adalah pelanggan yang tertipu.?

 

Kebandelan yang cukup keterlaluan ini berubah total pada suatu hari, di tahun 1977. Ketika itu, Simmons muda melihat bagaimana seorang lelaki bernama Eddie Cheeba membuat segerombol orang bergairah dengan meneriakkan rhymes. Kenang Simmons dalam otobiografinya, Life and Def: Sex, Drugs, Money + God (Crown Publishing, 2002): ?Just like that, I saw how I could turn my life in another, better way.?  Saat itu dia bertekad, seluruh entrepreneurship jalanan yang dia pelajari dari menjual ganja, menjajakan kokain palsu, sambil berupaya menghindari penjara, akan difokuskan untuk mempromosikan musik.

 

Maka, Simmons pun lalu putar haluan dari seorang bandar narkoba menjadi promotor konser di kawasan New York dan akhirnya kemudian seorang manajer yang membantu mengudarakan singles rap di radio. Bintang Simmons mulai bersinar ketika dia jadi ko-produser Run-DMC, kelompok rap yang antara lain beranggotakan adiknya. Run-DMC melejit jadi kelompok rap pertama yang berhasil menemus MTV, dan yang pertama meluncurkan hit ?blasteran? yang bisa diterima oleh audiens kulit putih. Keberhasilan ini antara lain berkat kolaborasi Walk This Way dengan dedengkot heavy metal Aerosmith. Saat ini, musik campuran hard rock dan rap sudah biasa. Tetapi, pada tahun 1980-an, ide bahwa anak jalanan kulit hitam dan remaja suburban kulit putih bisa punya selera musik yang sama adalah sesuatu yang tak terpikirkan.

 

Belajar dari Run-DMC, Simmons tahu bahwa sukses yang diraih justru karena kelompok tersebut sama sekali tak melakukan upaya buat memblasterkan diri. Tak seperti para rapper lain ketika itu, para personel Run-DMC tak mengenakan pakaian ala superstar melainkan jaket kulit, topi, dan sepatu kanvas Adidas ? pakaian sehari-hari rapper jalanan. Memang, ini menentang rumus sukses yang ada. Tetapi, dengan membidik audiens yang terbatas dengan gaya milik sendiri yang autentik, mereka justru melejit jadi bintang mainstream.

 

Jurus ini kemudian jadi formula sukses Simmons di semua bidang usaha yang dimasukinya. ?You have to tell the truth,? ujarnya. ?Hal itu akan mendekatkan Anda dengan komunitas. Masyarakat bisa tahu mana yang benar, mereka jauh lebih pintar ketimbang orang-orang yang menerbitkan rekaman.?

 

Yakin dengan formula sukses yang ditemukannya, pada 1985 Simmons bermitra dengan Rick Rubin mendirikan Def Jam Record. Dengan label ini mereka mengorbitkan bintang rap seperti Public Enemy, The Beastie Boys, LL Cool J. Buat menjalankan usahanya ini, Simmons mengumpulkan sebarisan kecil mitra dan karyawan yang pintar dan loyal ?yang justru berkembang di tengah gaya manajemen yang tak terorganisasi.

 

?Semua orang di sekelilingku lebih pintar dariku,? ujar Simmons. ?Sehingga aku nggak usah mikir yang berat-berat dan nggak perlu khawatir apa pun.?

 

Def Jam bermitra dengan Sony sebelum 60% sahamnya dilego ke Polygram dan, pada 1999, sisa saham yang 40% dijual senilai US0 juta. Sekarang Simmons hanya berperan sebagai figur ayah terhadap para rapper Def Jam, seperti Ludacris dan Jay-Z. Melalui Rush Communications, perusahaan holding yang sejak didirikan pada 1990 tak hanya berkiprah di bisnis musik, dia menerapkan formula originalitas untuk merambah banyak bisnis lain, termasuk pakaian (Phat Fashions).

 

Untuk bersaing dengan Tommy Hilfiger dan Ralph Lauren, Simmons mempromosikan mereknya, Phat Farm, dengan kampanye iklan yang khas ? agak etnik dan mengusung pesan politik. Kecuali itu, dia juga meneken kerja sama dengan Federated Department Stores Inc., pemilik Macy’s dan Bloomingdale’s. Dengan strategi ini, Phat Fashions mencetak penjualan US5 juta pada 2003 dan tumbuh sampai 30% per tahun.

 

Dan Simmons tak berhenti di fashion. Dia punya banyak proyek lain, termasuk DefCon3 (minuman soda yang didistrusikan secara eksklusif melalui 7-Eleven) dan Rush Card (kartu prabayar, bekerja sama dengan perusahaan jasa keuangan Unifund). Secara berkala dia juga memberikan ceramah bisnis, termasuk di tempat bergengsi seperti Harvard Business School, dan tak jarang berbagi mimbar dengan maestro sekaliber Jack Welch, mantan CEO General Electric.

 

Majalah bisnis Fast Company mencatat, lingkaran terdalam pertemanan Simmons memang meliputi nama-nama besar, dari Donald Trump (yang dia anggap sebagai panutan personal branding) dan Tommy Hilfiger (yang juga pesaing di bisnis fashion) sampai Hillary Clinton (Senator New York) dan George Pataki (mantan Gubernur New York) yang menjadi teman politik. Kecuali itu, sebagai praktisi yoga, dia juga dekat dengan Sharon Gannon (pemilik Jivamukti Yoga yang dia anggap sebagai mentor spiritual) dan Louis Farrakhan (Pemimpin Nation of Islam). 

 

Mengapa pertemanan Simmons bisa terjalin dengan para tokoh dari berbagai latar belakang. Sekali lagi, karena dia jujur dengan dirinya sehingga original dan bisa membangun trust. Kecuali itu, dia juga dermawan ? banyak menyumbangkan hartanya buat kaum dhuafa dan berpenampilan sederhana (arlojinya hanya Timex, padahal Simmons punya saham di Grimoldi, perusahaan jam Swiss yang produknya bertabur berlian) walau tak menyembunyikan kesenangannya akan hidup mewah (rumahnya bak istana).

 

?Susah nolong orang miskin kalau kita sendiri miskin,? akunya jujur.

 

Originalitas dalam artian jujur dengan akar budaya dan dirinya sendiri, merupakan faktor sukses yang lebih besar lagi dalam diri Oprah Winfrey. Lahir dari keluarga miskin di Kosciuko, Mississippi, pada 29 Januari 1954, Oprah tak pernah menyembunyikan masa kecilnya yang pahit. Orang tuanya bercerai ketika dia kecil, sehingga Oprah harus tinggal dengan neneknya sebelum pindah dengan ibunya pada usia enam tahun.

 

Diperkosa oleh kerabat dekat pada usia yang masih sangat muda, Oprah kecil bisa bertahan dalam impitan derita sampai usia 14, ketika diambil oleh ayahnya. Mendapat cinta yang besar dari sang ayah, dia sebetulnya cukup bahagia hidup di Nashville, Tennessee. Toh, Oprah terlibat dengan narkoba dan pergaulan bebas sehingga sempat keguguran. Untungnya, didorong standar tinggi yang ditetapkan sang ayah ? dan dipagari displin tinggi ? Oprah muda berhasil melepaskan diri dari perilaku liar yang membuatnya tak karuan. Pelan-pelan, hidupnya mulai mapan ketika dia mendapat bea siswa di Tennessee State University.

 

?Aku tahu ada jalan keluar,? tuturnya. ?Aku tahu ada jalan hidup yang lain karena aku telah membaca tentang hal itu. Aku tahu ada banyak tempat lain, dan aku tahu ada cara lain untuk menunjukkan jati diri.?

 

Keyakinan kuat itulah yang membawa Oprah muda ke dunia pertelevisian ? sebagai pembawa berita dan reporter. Dan dengan kerja keras, dia berhasil menjadi perempuan kulit hitam pembawa utama berita (news anchor) di Nashville (WTWF-TV), pada usianya yang ke-19. Tetapi Oprah lebih menikmati kerjanya ketika kemudian pindah menjadi host acara People are Talking, di WJZ-TV, Baltimore. Alasannya sederhana, di talk show yang diselenggarakan setiap pagi ini Oprah dapat bebas mengekspresikan opininya dan berbagi rasa tentang topik yang menyentuh hatinya.

 

Tetapi, karir Oprah baru melejit setelah dia pindah untuk jadi host di AM Chicago, pada 1984. Acara talk show dini hari di WLS-TV ini segera meroket ke peringkat ke-1 ketika setahun kemudian dia ubah namanya jadi The Oprah Winfrey Show, merontokkan Donahue yang selama satu dasawarsa lebih merajai bisnis talk show. Saat ini, acara yang diproduksi oleh Harpo Production Inc. tersebut telah ditonton oleh 20 juta pemirsa Amerika setiap minggu dan disiarkan di 100 lebih negara, di seluruh dunia. Sukses ini membuat tak kurang dari US0 juta mengalir ke brankas Harpo setiap tahun.

 

Bermodalkan dana yang cukup melimpah dan nama besar, sang ratu talk show lalu mengembangkan sayap bisnis Harpo ke film (melalui Harpo Film yang pada 2002 mendatangkan US juta), multimedia (O, The Oprah Magazine yang, dengan tiras 2,5 juta, pada 2001 meraup pendapatan US0 juta, 8% saham Oxygen Media, opsi saham Viacom), dan real estat (di berbagai tempat, senilai US juta pada 2001).

 

Daya pukau Oprah mampu menggerakkan pemirsa, terutama kalangan perempuan yang terbangun keprcayaan dirinya oleh sang Ratu Talk Show, untuk merogoh kocek ketika dia menggelar acar bincang-bincang bertajuk Live Yor Best Life di empat kota besar Amerika. Pada 2001 itu, 8.500 tiket yang dijual dengan harga US5/lembar mendatangkan US,5 juta lebih.

 

Tentu tak semua bisnis dijalankan sendiri oleh Oprah, walau dia selalu memeriksa setiap detil produknya sebelum diluncurkan ke masyarakat. Untuk memilih mitra, Oprah selalu mulai dengan pertanyaan ini: ?Dapatkan Anda saya percaya?? Kecuali itu, dia juga tak mau sekadar jual nama. Bagi Oprah jual nama tak beda dengan jual diri.

 

?Kalau saya kehilangan kontrol atas bisnis, berarti saya kehilangan diri saya atau setidaknya kemampuan untuk menjadi diri saya. Memiliki diri saya adalah cara menjadi diri sendiri,? ungkapnya seraya menegaskan tak ingin seperti Martha Stewart yang megizinkan namanya digunakan oleh orang lain.

 

Menjadi diri sendiri, kata lain dari menjaga originalitas, inilah yang menurut Fortune menjadi kunci sukses Oprah. Sikapnya yang percaya diri (walau tak cantik) dan selalu berani bertanggung jawab terhadap kehidupan sendiri membuat Oprah memiliki filosofi bisnis yang kuat, yang belakangan disejajarkan dengan filosofi McDonald’s (kenyamanan) dan Wal-Mart (setiap hari lebih murah).

 

Ketika mengetahui management by instinct yang dianutnya tak memberikan kenyamanan kepada karyawan, Oprah juga tak segan melakukan perombakan besar. Dia segera merekrut eksekutif TV yang dikaguminya, Tim Bennet, sebagai COO yang menangani akunting, legal dan SDM. Hasilnya? Turnover karyawan dapat ditekan sampai tinggal 10% per tahun.

 

Untuk bangkit dari comberan kehidupan seperti Oprah, jelas diperlukan optimisme besar. Keyakinan untuk bisa melakukan sesuatu yang terbaik ? bahkan di saat yang paling pesimistis ? adalah energi utama yang memungkinkan lahirnya sukses, bahkan keajaiban.

 

Simak saja apa yang dilakukan Sudha Shah, perempuan mungil yang lahir dari keluarga Nepal yang konservatif di sebuah kampung tanpa listrik, di Kathmandu. Walau disekolahkan di sekolah berasrama yang dikelola para biarawati katolik dari Jerman, Sudha sudah dipersiapkan untuk dikawinkan pada usia 17. Tetapi, dia punya rencana sendiri yang sangat membuat khawatir orang tuanya: Ingin meneruskan kuliah di Amerika.

 

?Aku ingin pergi ke kolam yang lebih besar, megeksplorasi lebih banyak dan melihat lebih banyak, dan menentukan arah hidupku sendiri. Aku nggak mau melakukan apa yang disuruh lakukan kepadaku,? ujar perempuan yang bernama lengkap Shah-tsou.

 

Berkat upayanya yang keras, Sudha mendapat bea siswa di Mills College, perguruan tinggi kecil khusus perempuan di Oakland, California. Menyabet gelar sarjana di bidang ekonomi dan komunikasi bisnis pada 1991, dia lalu bergabung dengan Nady Systems sebagai tenaga penjual. ?Aku suka bicara dan mengenal banyak orang? ujarnya.

 

Empat tahun kemudian, Sudha pindah dari perusahaan manufaktur telepon nirkabel itu ke Oracle. Waktu itu, uang masih gampang,menjual perangkat lunak database sangat gampang. ?Bahkan pembeli yang mendatangi kami,? kenangnya. Pada 1998, ketika dia pindah ke SAP, keadaan ini masih belum berubah.

 

Tetapi kemudian resesi menghantam, dan gelembung dotcom pecah. Semua perusahaan memangkas belanja IT, dan menjual perangkat lunak tiba-tiba jadi pekerjaan tersulit. Sudha menelepon sana-sini, kirim e-mail sana-sini, tetapi semua tak berjawab. Dia sampai memenangkan kontes sebagai sales rep yang teleponnya paling banyak tak mendapat jawaban. Padahal, dalam dunia penjualan, rekor masa lalu tak berarti apa-apa. Setiap tahun Sudha harus membuktikan diri mampu mengegolkan proyek. Memang bagus juga kita bisa membina hubungan, tetapi apa masih bisa mendatangkan fulus setelah melakukan pembelian cukup besar ? berapa banyak?

 

Perempuan itu putus asa? Sama sekali tidak. Sudha terus membujuk. ?Kalau Anda beli sekarang, Anda akan punya sistem yang siap lari kencang begitu perekonomian membaik nanti,? ujarnya selalu. ?Kami menawarkan solusi, bukan sekadar produk.?

 

Kalau teleponnya tak tembus, Sudha selalu mencoba cari jalan lain. Ketika mendapat dampratan dari sekretaris bos, ?Stop calling Fred?, karena membombardir CIO AMD Fred Mapp dengan ponsel Nokia-nya, misalnya, Sudha menurut tetapi tak mundur begitu saja. Sudha minta sales rep SAP yang berhasil menjual perangkat lunak ke bisnis AMD di Jerman buat membujuk kontak bisnisnya untuk menerima Sudha ketika melakukan kunjungan kerja ke Amerika. Melalui jalan memutar ini, dia berhasil menghubungi Mapp. Dan, ketika CIO AMD ini akhirnya bertemu dengan Sudha, dia langsung suka dengan cara sang Ratu Sales mendengarkan kebutuhannya.

 

Mapp juga suka dengan antusisme Sudha. ?Dia itu seperti sebuah bola energi,? pujinya. ?Dan dia tidak oversell, dia tidak langsung ngomong malah mendengarkan dan mencatat omonganku. Ketika dia mengatakan akan melakukan follow-up untuk beberapa hal, dia betul-betul melakukannya.?

 

Dengan pendekatan seperti ini, Sudha berhasil membuat AMD berpaling dari Oracle dan meneken kontrak senilai US juta dengan SAP. ?Aku akan melakukan apa saja buat Sudha,? ujar Mapp.

 

Optimisme, kesediaan untuk mendengar dan memenuhi kebutuhan pelanggan, antusiasme, kerja keras yang pantang menyerah ? itulah rahasia Sudha meraih sukses di dunia TI yang dikuasai pria. Sebagai ratu sales, dia memang tak mendapat fee selangit seperti Oprah atau Dr. Barnard. Persentase komisi Sudha tetap sama. Kendati demikian, karena mampu mendatangkan fulus dalam jumlah besar ke brankas perusahaan, nominal kompensasi yang diterimanya juga besar. Pada 2000, dengan kompensasi US0 ribu lebih, Sudha menduduki peringkat ke-2 dari 300 sales rep SAP di Amerika…

 

Boks:

Kiat Sukses Para Maestro

 

Untuk meraih sukses, para maestro di berbagai bidang memiliki kiat yang kurang-lebih sama. Inilah dia:

        Berani mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Keberanian Christiaan Barnard meenmpatkan ?mati batang otak? sebagai definisi mati ? sesuatu yang ditolak di banyak negara ? memungkinkan dokter bedah jantung ini melakukan terobosan besar. Demikian juga keberanian Russell Simmons untuk membidik audiens terbatas dengan gaya milik sendiri, hip-hop seperti yang dijalani orang sehari-hari, membuatnya berhasil membuat kategori musik dan fashion baru, yang bahkan melebar ke bisnis lain.

        Jujur untuk meraih trust. Kejujuran Oprah Winfrey menyatakan opini dan isi hatinya ― bahkanmembongkar masa lalunya yang kelam ― membuat sang Ratu Talk Show kalangan perempuan sebagai orang yang memberi pencerahan kepada mereka. Kepercayaan ini membuat The Oprah Winfrey Show mampu berkibar ke puncak peringkat hanya dalam tempo sebulan dan mempertahankan posisi terhormat tersebut selama belasan tahun sampai saat ini. Oprah juga tak merasa perlu memoles penampilannya secara berlebihan, misalnya dengan operasi kosmetik, walau wajah dan fisiknya tak cantik. Akan halnya Barnard. Jujur menjalani filosofi hidupnya yang gandrung perempuan cantik, dokter yang dijuluki Paris Match sebagai one of the world’s great lover ini dipercaya sebagai pakar gaya hidup yang dapat memperpanjang umur setelah tak bisa lagi berpraktek sebagai ahli bedah jantung. Banyak orang rela bayar mahal untuk mendengar nasehat sang maestro walau resep yang dipraktekkannya sendiri itu sudah mereka hapal: ?Banyak makan sayur, istirahat, hidup santai, dan… melakukan aktivitas seksual.?

        Selalu optimistis, bahkan di saat yang paling tak memungkinkan. Gelas Sudha Shah, ibaratnya, tak pernah separuh penuh tetapi selalu luber. Setiap tahun harus membuktikan mampu mencetak penjualan, dia tak jera dengan penolakan. Selalu dicarinya jalan buat memenangkan hati (calon) pelanggan. ?Kalau Anda beli sekarang, Anda akan punya sistem yang siap lari kencang begitu perekonomian membaik nanti,? ujarnya selalu. Dengan optimismenya, Sudha membuktikan diri mampu menjadi yang terbaik di dunia yang dikuasai kaum pria.

        Menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan (calon) pelanggan. Sudha tak langsung bicara, tetapi mau mendengarkan dan mencatat apa maunya pelanggan. Dia selalu siap memberikan solusi, termasuk mengupayakan trial kepada calon pembeli ‘suatu hal yang sebelumnya tak lazim di SAP. Simmons memberi perhatian kepada pelanggan dengan menyediakan produk bermutu dengan harga yang tetap menarik buat kalangan bawah.

        Menyemai bakat di lahan yang subur. Wade Robson mungkin seorang jenius, Tetapi, kalau dia tak menyemaikan bakat kreatifnya di pusat industri entertainmen global seperti Los Angeles, belum tentu pria Australia ini bisa menjadi maestro tingkat dunia. Juga, apa yang bisa dilakukan seorang Ratu Sales semacam Sudha di negeri asalnya, Nepal, yang terbelakang? Bahkan Oprah, kalau tetap di daerah terbelakang semacam Kosciuko, Mississippi, atau setelah sukses di Nashville, Tennessee, tak pindah ke kota metropolitan semacam Chicago, Illinois, yang menjadi markas talk show nomer satu di Amerika, sulit untuk menasional ? apalagi mendunia.

        Menempatkan orang yang tepat, dengan loyalitas tinggi, di tempat yang tepat. Dengan berkembangnyausaha, tak mungkin melakukan sendiri segalanya. Itulahyang mendorong Oprah menempatkan eksekutif yang andal sebagai COO yang menangani operasional Harpo sehari-hari. Sementara itu, tahu bahwa dirinya tak pintar, Simmons sejak awal mempercayakan operasional Rush Communications kepada sekelompok kecil mitra dan karyawan pintar yang terpercaya. ?Semua orang di sekelilingku lebih pintar dariku,? ujarnya bangga. ?Sehingga aku nggak usah mikir yang berat-berat dan nggak perlu khawatir apa pun.?

?         Berupaya untuk zuhud. ?Laba itu ibarat oksigen,? tulis Arie de Geus dalam Living Company, ?ia penting bagi kehidupan perusahaan tetapi bukan tujuan utama.? Para maestro seperti Oprah dan Simmons ― yang notabene jantung perusaaan mereka sendiri ― banyak yang menerapkan filosofi ini dalam kehidupan pribadinya. Oprah menyumbangkan 10% pendapatannya untuk amal. Demikian pula Simmons yang bangga dengan rumahnya yang bak istana, mendermakan sejumlah besar kekayaannya untuk kaum dhuafa. Agaknya kebaikan yang mereka lakukan telah membuat mereka lebih tenang dan yakin dalam melakukan bisnis.

 

 

 

Sampingan | Pos ini dipublikasikan di Motivasi, Personal Development dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s