Prosesi Keberangkatan Haji

Setelah penantian panjang, akhirnya hari yang ditunggu-tunggupun tiba, maka saya dan istripun bersiap-siap meninggalkan rumah. Malam menjelang keberangkatan, kami usahakan melaksanakan sholat sunnah hajat untuk meminta kemudahan dan keselamatan kepada Allah serta menitipkan anak keluarga kepada Allah.

 ”Ya Allah, hamba pasrah padaMu, esok hamba tinggalkan anak-anak dan keluarga hamba dengan keridhoan dan rahmatMu. Hamba titipkan anak dan keluarga hamba. Jagalah mereka, bimbing mereka, berikan hidayah kepada mereka dan jadikan mereka anak yang sholeh yang mencintaiMu dan setia kepada Rasullullah SAW”.

Dari rumah kita lakukan pemotongan kuku dan mengusapkan wewangian ke tubuh serta mempersiapkan kain ihram di koper yang akan disimpan di kabin pesawat agar prosesi ihram dapat dilaksanakan dengan lebih praktis.

Sebelum berangkat meninggalkan rumah, kami laksanakan shalat sunnat safar untuk meminta keselamatan kepada Allah Swt serta pamitan kepada tetangga dan sanak famili; dengan anggapan bahwa kami pergi untuk tidak kembali.

Perjalanan Menuju Arab Saudi.

Alhamdulillah, kami berangkat tepat waktu tanpa ada keterlambatan dan hambatan berarti menggunakan pesawat Boeing 747 Garuda langsung menuju ke Jeddah. Ada beberapa alternatif perjalanan pesawat haji dari Indonesia Ke Arab Saudi, ada yang menuju Jedah dan ada juga yang ke Madinah. Perjalanan dengan pesawat terbang kurang lebih memakan waktu 9 sampai 10 jam. Kami manfaatkan waktu tersebut dengan istirahat secukupnya, memperbanyak berdzikir dan memantapkan kembali manasik haji.

Melaksanakan Ihram.

Pertunjukan Haji/umrah berawal di Miqat, tempat kita harus melaksanakan ihram sebagai tahap pertama pelaksanaan umrah/haji dengan mengganti pakaian dunia dengan kain ihram yang hanya terdiri dari 2 lembar kain yang tidak berjahit.

Ketika diinformasikan oleh Pilot bahwa kita sudah memasuki Yalamlam, saya memulai berganti pakaian ihram disertai dengan niat umrah yang disunnahkan dilafazkan dengan tegas dan dzahar. Khusus untuk kaum wanita, pakaian ihram  sudah dipakai sejak dari rumah sehingga di Miqat hanya berniat saja.

Kami tiba di Jeddah pada saat malam sekitar jam 21.00, perbedaan waktu 4 jam antara Indonesia dan Jeddah, cmembuat saya kehilangan orientasi waktu. Keluar dari Pesawat, kita mengantri untuk pemeriksaan passport dan imigrasi satu per satu di dalam gedung kedatangan. Setelah selesai pemeriksaan passport kemudian kita diarahkan keluar gedung dan beristirahat di karpet-karpet yang di gelar di pelataran Bandara. Di sini kami diminta menunggu dan beristirahat. Tidak ada kepastian berapa lama kami harus menunggu sebelum berangkat ke Mekah. Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk membersihkan diri, mandi ihram dan shalat sunnat ihram. Toilet yang tersedia cukup bersih dan air dari kran cukup deras dan hangat.

Dengan berihram kita memulai Kontrak dengan Allah untuk mengharamkan segala ketentuan selama haji/umrah. Bila melanggar maka kita akan terkena dam. Sejak saat itu kita lupakan segala sesuatu yang akan mengingatkan kepada dunia dan kita tanggalkan segala yang membedakan kita dari orang lain, yaitu:

  1. wewangian agar tidak mengingatkan masa lalu yang menyenangkan
  2. penutup wajah dan kepala
  3. memakai makeup dan perhiasan
  4. memotong rambut & kuku
  5. menikah, bercinta dan kegiatan yang menimbulkan syahwat
  6. menyakiti hewan atau serangga
  7. mengganggu tanaman
  8. membawa senjata
  9. memakai kaus kaki & sepatu/sandal yang menutup tumit
  10. mengeluarkan darah.

Pemakaian baju ihram berwarna putih menandai pelepasan topeng dan predikat palsu berupa pangkat dan status social guna menggapai kesempurnaan sebagai perlambang kesejatian dengan menampilkan wujud baru, seperti bayi yang baru lahir dari gua garbaning ibu.

Pakaian selain berfungsi menutup tubuh dan aurat juga melambangkan status dan perbedaan sehingga menciptakan batasan-batasan di antara manusia. Di Miqat kita tinggalkan batasan tersebut dengan pakaian ihram yang bentuk dan warnanya sama sehingga setiap manusia menjadi satu tanpa ada perbedaan kedudukan dan kelas sosial. Semua egoisme dan keangkuhan terkubur di Miqot.

Pemakaian Pakaian ihram yang wajib dikenakan jamaah haji barulah bermakna bila setiap jamaah haji bisa menangkap makna yang tersembunyi di balik itu. Dengan cara ini ibadah haji dipahami sebagai gerakan kemanusiaan yang menandai berkibarnya kesamaan derajat umat manusia sejalan dengan doktrin monotheisme yang diwariskan Nabi Ibrahim AS, bapak agama-agama langit (Yahudi, Kristen dan Islam).

Kesamaan baju ihram yang serba putih menyindir siapa saja yang masih mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan klasifikasi status sosial. Manusia dipandang berharga bukan diukur dari seberapa banyak uang yang ia parkir di bank. Atau seberapa megah istana yang ia bangun. Baju ihram menyimbolkan berdiri tegaknya konsepsi “kita” dan tumbangnya egosentrisme sektoral dan arogansi kekuatan.

Dengan mengenakan kain kafan berwarna putih, semua manusia tidak peduli ras, bangsa maupun golongan bergerak bagai partikel kecil dengan tidak ada perbedaan, melebur menjadi satu Ummah menuju Allah. Sejak itu kalimah talbiyah berkumandang tiada henti. Langit dan bumipun hadir di Miqat menjadi saksi bagi sosok manusia yang dilahirkan kembali.

Tentang Miqat

 

Perintah Haji merupakan ibadah yang terikat pada ketentuan waktu dan tempat yang dibatasi oleh 2 jenis miqat yaitu:

 

  1. Miqat Zamani, yaitu batas waktu niat berhaji sesuai perhitungan bulan yang dimulai dari bulan Syawal hingga tanggal 9 bulan Dzulhijah sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah 197: ”(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

 

  1. Miqat Makani, yaitu batas tempat untuk mulai melakukan ihram sebagai tanda mengharamkan diri dari perbuatan yang membatalkan ihram. Miqat Makani berbeda tergantung arah datangnya jamaah haji ke Mekah.

 

Batas miqat makani ditentukan oleh Rasulullah yaitu :

 

  1. Qarnul Manazil, bagi jamah yang berasal dari Bahrain/Qatar/Emirat Arab.
  2. Yalamlam, bagi yang berasal dari Yaman
  3. Dzatu Iraq, Bagi yang berasal dari Iraq.
  4. Dzulhulaifah (Bir Ali) bagi yang berasal dari Madinah.
  5. Juhfah bagi yang berasal dari Mesir.

 

Bagi yang yang sudah berada di Tanah haram Mekah, jika ingin melakukan umrah harus keluar tanah haram dan berihram dari miqat yang telah ditentukan Rasululllah yaitu: Ji’ranah (20 km dari Masjidl haram), Tan’im (7 km), Hudaibiyah (20 km). Sedangkan untuk yang akan berhaji, miqatnya adalah dari rumah masing-masing.

 

Jamaah haji Indonesia yang menggunakan pesawat terbang, miqatnya adalah di Yalamlam sekitar ½ jam sebelum mendarat di Jeddah. Beberapa kajian ulama membolehkan untuk melaksanakan ihram di Jeddah. Apabila kita melewati miqat tanpa berihram maka ketentuan damnya adalah seekor kambing.

 

Dengan mengenakan pakaian ihram dan lisan mengucapkan talbiyah, jamaah haji melanjutkan perjalanan dengan bis dari Jeddah menuju tanah suci Mekah di tengah suasana malam.  Bis yang digunakan termasuk bis yang masih bagus, ber-AC dan juga ada Toiletnya. Bis yang bertoilet ini terasa sangat bermanfaat kelak saat bermacet-macet dari Arafah menuju ke Mina.

 

Memasuki Tanah Suci Mekah

 

 

 

Untuk memasuki tanah suci Mekah, terdapat beberapa cek point yang harus dilalui  untuk meyakinkan bahwa orang yang masuk ke wilayah Mekah adalah Muslim. Hal ini terkait dengan ketentuan Rasulullah yang saat Futuh Mekah tahun 9 H telah menetapkan Makah dan Madinah sebagai tanah suci yang tidak boleh dimasuki oleh non muslim sesuai firman Allah:

 

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä $yJ¯RÎ) šcqä.Ύô³ßJø9$# Ó§pgwU Ÿxsù (#qç/tø)tƒ y‰Éfó¡yJø9$# tP#tysø9$# y‰÷èt/ öNÎgÏB$tã #x‹»yd 4 ÷bÎ)ur óOçFøÿÅz \’s#øŠtã t$öq|¡sù ãNä3‹ÏZøóムª!$# `ÏB ÿ¾Ï&Î#ôÒsù bÎ) uä!$x© 4 žcÎ) ©!$# íOŠÎ=tæ ÒOŠÅ6ym ÇËÑÈ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

Semakin mendekat ke tanah Mekah suasana menjadi semakin syahdu dengan lantunan istighfar. Para jamaah merasakan getaran hati semakin keras untuk segera menuju Masjidil Haram dan menemui Kabah yang selama ini diidam-idamkan dan menjadi pusat arah Shalat.

 

”Ya Allah, tanah ini tanah HaramMu dan tempat amanmu. Seiring hamba datang, sudilah kau hindarkan daging, darah, rambut dan kulitku dari SiksaMu. Selamatkan diriku dari SiksaMu di hari kau bangkitkan HambaMu. Jadikan aku orang yang dekat dan selalu taat kepadaMu.”

 

Alhamdulillah, jika seharusnya kami mendapatkan jatah satu kamar untuk empat orang,  ternyata kami mendapatkan jatah satu kamar berdua dengan istri. Dengan biaya lebih ringan kami mendapat fasilitas yang lebih baik. Subhanallah ……Di tempat inilah kami tinggal selama 5 hari depan untuk melaksanakan Umrah dan kegiatan lain.

 

Hotel Sheraton berlokasi di kawasan pasar Seng dekat pintu Marwah. Dari Jendela Hotel kita dapat melihat pelataran Masjidil Haram dan juga Kabah. Hotel ini berbintang 4 dan berlantai 14 bersatu dengan pusat perbelanjaan di bawahnya. Untuk menuju Masjidil Haram cukup berjalan kaki  5 menit melewati pasar seng. Di lantai 14 terdapat mushala yang dindingnya berkaca menghadap ke Masjidil Haram. Jika malam, kita bisa menyaksikan gemerlap cahaya masjid.

   

Memasuki Masjidil Haram

Kota Mekah ibarat cawan raksasa yang dikeliling oleh gunung-gunung. Setiap jalan dan lorong mengalir ke Masjidil Haram dengan Kabah sebagai pusatnya. Manusia membanjiri Masjidil Haram dari segala penjuru, sehingga kita akan merasakan diri kita ibarat setetes air di samudera luas. Setelah beristirahat sejenak di penginapan, malam itu juga sekitar jam 23.00 kami langsung melaksanakan ibadah umrah yaitu Thawaf, sa’I dan tahalul. Dari kejauhan Masjidil Haram menampakkan kemegahannya dengan berhiaskan cahaya lampu yang terang benderang. Walaupun saat itu menjelang tengah malam namun suasana masjid yang terang benderang dan ramainya para jamaah membuatnya nampak seolah-olah seperti  bada magrib atau isya. Saya mencoba menenangkanlah hati seraya bermunajat:  Allohumma Antas salam waminkas salam wailaika yauddus salam fahayyina robbana bis salam wa adkhilna jannata daaros salam.

 

Karena lokasi Hotel Sheraton berada di dekat Pintu Marwah, kami masuk dari pintu Marwah berbaur dengan orang-orang yang telah selesai melaksanakan Sa’I. Kami masuk dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu seraya mengucapkan: Allohummaf tafli abwaba rohmatika. Bismillaahi walhamdulillaahi wash sholaatu was salaamu ala rasuulillah.

 

Masjidil Haram mempunyai banyak pintu yang diberi nomor dan nama. Jumlah pintu seluruhnya ada 49 yang terdiri dari 5 pintu utama dan 44 pintu biasa. Pintu masuk Utama ke masjidil Haram adalah: Pintu Fahd, Pintu Umrah, Pintu Abdul Aziz, Pintu Fatah, Pintu Babus salam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mendekati Kabah pertama kali

 

Setiap langkah menuju Kabah semakin menggetarkan jiwa, bercampur aduk antara harap dan takut. Pandangan matapun menyapu seluruh penjuru masjid mencari-cari dimana Kabah berada.  Akhirnya setelah melalui koridor-koridor masjid, Kabahpun terbentang di hadapan kami. Matapun tidak berkedip menatapnya.  Keheningan muncul sesaat.  Apa yang terlihat adalah sosok bangunan kubus sederhana berwarna hitam. Inikah sosok yang selama ini menjadi fokus pusat pandangan dalam shalat ? Tidak ada kemewahan dan kemegahan yang disandangnya. Kamipun berdoa:

 

Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa pada Bait ini. Dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan. Terima kasih kami padamu. Telah kau berikan kesempatan pada hambaMu yang lemah untuk berkunjung ke rumahMu. Ya Allah, aku datang dengan membawa seluruh dosa, kemunafikan dan kefasikan. Ampunilah dosa-dosaku, terimalah taubatku. Muliakan orang yang datang ke rumahMu ini”.

Semula saya berharap akan menangis haru ketika pertama kali menatap Kabah, namun ternyata hal itu tidak terjadi.  Ada apa dengan diri saya? Apa yang menghalangi saya untuk menangis di hadapan Allah, jangan-jangan karena hati saya yang penuh dosa …. Awalnya kami masih thawaf bersama rombongan KBIH yang dibimbing oleh muthawif. Namun karena suasana thawaf yang hiruk pikuk, akhirnya kami terlepas dari rombongan dan sayapun melakukan thawaf berdua bersama istri.

Di tengah ribuan manusia, terasa diri ini kecil di hadapan Allah. Sepanjang thawaf, saya mencoba berbicara kepada Zat yang menyuruh saya ke sini. Berbagai wajah ada di situ, yang pucat pasi, takut, cemas, berkeringat, yang sikut menyikut dan dorong mendorong. Ada yang berdo’a berombongan dengan suara keras sambil menenteng-nenteng buku catatan tapi ada juga yang sambil bercanda bahkan menelpon menggunakan Handphone sambil thawaf.
Saya terus berusaha masuk ke dalam pusaran arus manusia sehingga semakin tersedot oleh tarikan ke arah kabah yang semakin padat. Akhirnya ketika saya membaca kalimat Laa ilaha illa anta asytaghfiruka inni kuntu minadz dzoolimiin, Saya tak kuasa menahan uraian air mata yang tercurah mengenangkan dosa yang telah dilakukan dan banyaknya nikmat yang telah Allah anugrahkan namun masih tersia-siakan. Apalagi memikirkan masih sedikitnya bekal yang saya miliki jika harus menghadap kepadaNya.  Terbersit pula raya syukur bahwa saya ternyata termasuk salah satu hamba yang diijinkan untuk berkunjung ke Rumah Sucinya seperti yang dilakukan para nabi dan rasul terdahulu.

 

Ingatan melayang kepada kedua orang tua yang telah membesarkan saya dan telah mengenalkan saya kepada Al Islam. Betapa saya telah banyak menyusahkan mereka sementara jasanya belum bisa saya balas dan tidak akan pernah bisa terbalaskan.  Sayapun memintakan doa kepada Allah agar memberikan keduanya kebaikan di dunia dan akhirat serta melindunginya dari berbagai marabahaya. Isak Tangis semakin tak terbendung manakala membayangkan wajah anak-anak yang telah diamanah Allah kepada saya dan istri. Kami panjatkan doa meminta kekuatan kepada Allah agar kami mampu membimbing mereka agar menjadi anak-anak yang shaleh yang akan menjadi tabungan kami kelak di hari tua. Apalagi ketika mendoakan khusus untuk anak perempuan kami yang butuh penanganan khusus. Semoga kami sabar menerima ujian dan cobaan.

 

TENTANG KABAH

 

Ka’bah adalah pusat ritual haji yang menyimbolkan kehadiran Tuhan di muka bumi, meski Dia tidak bersemayam di dalam Kabah.

 

Dinamakan Kabah yang artinya Kubus sesuai dengan bentuknya yang sederhana. Namun dibalik kesederhanaannya terpancar wibawa yang abadi sepanjang masa.  Kabah ditutupi dengan Kiswah yang terbuat dari kain sutra hitam dan dihias dengan kaligrafi AL Qur’an yang disulam dengan benang emas. Dengan bentuk kubus, Kabah menghadap ke segala arah tapi tidak menghadap apapun, karena Kabah bukanlah TUJUAN, ia hanyalah simbol pedoman arah yang mengarahkan shalat pada satu titik.

 

Kabah merupakan Bangunan pertama yang didirikan di muka bumi oleh malaikat untuk digunakan sebagai tempat ibadah sesuai firman Allah dalam Ali Imran : 96

” ¨bÎ) tA¨rr& ;MøŠt/ yìÅÊãr Ĩ$¨Y=Ï9 “Ï%©#s9 sp©3t6Î/ %Z.u‘$t7ãB “Y‰èdur tûüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÒÏÈ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

 

Hal ini membantah pernyataan Ahli kitab bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun adalah Baitul Maqdis. Kabah menjadi tempat thawaf Malaikat di bumi seperti halnya Baitul Makmur yang selalu dithawafi oleh 70.000 malaikat.  Setelah Nabi Adam diturunkan di bumi, Malaikat Jibril mengajarkan thawaf kepada Adam yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Idris dan Nabi Nuh.

 

Sejak didirikan oleh Malaikat, kemudian diperbaiki oleh Nabi Adam. Kabah telah beberapa kali mengalami renovasi. Ketika Banjir Besar melanda bumi pada jaman nabi Nuh, bangunan Kabah ikut hancur. Nabi Ibrahim dan Ismail kemudian mendapat tugas dari Allah untuk meninggikannya.

 

Dengan menggunakan tangannya sendiri mereka bekerja mendirikan kembali Kabah yang hancur tersebut.  Kaum Quraisypun beberapa kali melakukan renovasi, karena Kabah berada di lembah rawan banjir.

 

Kabah terdiri dari empat sudut yaitu :

  • Menghadap Timur : Rukun Aswad, adalah sudut kabah tempat Hajar Aswad yang menjadi titik awal orang melakukan Thawaf.
  • Menghadap Selatan : Rukun Yamani, adalah sudut Kabah yang menghadap ke Negeri Yaman.
  • Menghadap Utara : Rukun Iraqi, adalah sudut Kabah yang menghadap ke negeri Iraq.
  • Menghadap Barat Laut: Rukun Syami, adalah sudut Kabah yang menghadap ke negeri Syam.

 

Hajar aswad, adalah batu hitam yang terletak di sebelah timur yaitu pojok rukun Aswad yang terbuat dari batu permata Syurga. Konon, dahulunya Hajar Aswad berwarna putih cemerlang, namun karena dosa-dosa manusia maka batu tersebut menjadi hitam.

 

Hajar Aswad bukanlah satu batu utuh melainkan terdiri dari 8 keping batu yang diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam tersebut sudah licin karena telah diusap dan dicium oleh sekian banyak manusia yang datang berhaji dan berumrah sejak nabi Adam.

 

Saat Nabi Ibrahim membangun Kabah, ada satu bagian yang belum terpasang batunya. Ismail pergi mencari batu untuk dipasangkan. Namun ketika ia datang didapati di tempat tersebut telah terpasang Hajar Aswad. Ketika Ismail menanyakan siapa yang membawa batu tersebut, Ibrahim menjawab ”Yang membawanya kepadaku adalah orang yang tidak tergantung kepada usahamu, Jibril telah membawanya dari langit”.

 

Riwayat lain menyebutkan bahwa Hajar Aswad ditemukan oleh Ismail saat akan mencari batu untuk menutup dinding Kabah yang masih kurang. Batu tersebut ternyata adalah batu yang sedang dicari-cari Ibrahim sehingga dengan ditemukannya Batu tersebut, Ibrahim sangat suka cita dan menciumnya berkali-kali. Sebelum ditempatkan di pojokan Kabah, keduanya menggotong batu tersebut dan memutari Kabah sebanyak tujuh putaran.

 

Ketika Banjir melanda Mekah sehingga kabah memerlukan renovasi, Muhammad SAW mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Kaum Quraisy bertengkar karena masing-masing merasa dirinya yang paling berhak untuk menyimpan Hajar Aswad di tempatnya. Ketika diputuskan bahwa yang berhak adalah orang yang datang paling pagi ke Masjidil Haram ternyata Muhammad yang datang pertama kali. Muhammad yang saat itu berusia 35 tahun membentangkan kain sorban dan meminta utusan dari masing-masing kabilah untuk memegang ujung kain dan bersama-sama menggotong hajar Aswad ke tempatnya. Akhirnya perselisihan tersebut dapat diakhiri berkat kebijakan seorang calon rasul.

 

Hajar Aswad mempunyai berbagai keistimewaan, antara lain ia dapat terapung di atas air dan tidak panas karena api. Walaupun masyarakat Jahiliyah menempatkan banyak berhala di dalam Kabah, namun Hajar Aswad tidak pernah disembah oleh orang Musyrik.

 

Multazam, adalah Tempat sempit di dinding Timur antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah yang merupakan tempat utama dan makbul untuk munajat, mencurahkan isi hati, dan berserah diri kepada Allah setelah melaksanakan thawaf.  Munajat di Multazam dapat dilaksanakan dengan merapatkan badan di Multazam atau  dengan mengambil jarak di depan Multazam.

Pintu Kabah (Multazam)

 

Ketika Adam melaksanakan Thawaf pertama kali, beliau melaksanakan shalat di depan pintu Kabah kemudian berdiri di Multazam lalu berdoa :

 

Ya Allah yang memelihara Baitil Attiq, merdekakan kami, bapak kami, ibu kami , sudara kami, dan anak kami dari belenggu api neraka.Wahai yang Maha Pemurah, maha Muia, Maha Utama, yang maha Pemberi kebaikan. Jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, jauh dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. Ya Allah aku ini HambaMu dan anak Hambamu yang sedang berdiri di bawah rumahMu di Multazam. Aku menghadap dan bersimpuh di hadapanMu. Aku mengharapkan rahmatMu, takut akan siksamu. Wahai Pemberi kebajikan, Aku memohon padamu terimalah DzikirKu, hilangkan dosaku, lancarkan urusanky, sucikan hatiku, sinari kuburku, ampuni dosaku dan aku mohon kepadaMu berikanlah derjat tinggi di surga, (HR Imam hambali).

 

Maqam Ibrahim, adalah batu bekas telapak kaki ibrahim yang menjadi tempat berpijak Ibrahim ketika membina Kabah. Nabi Ismail a.s. meletakkannya agar Nabi Ibrahim a.s. dapat naik lebih tinggi di atas batu tersebut. Batu tersebut dapat naik turun secara otomotis mengikuti keinginan Ibrahim ketika meninggikan Kabah.

 

Saat ini batu tersebut diletakkan di dalam cungkup kristal bersepuh emas. Allah menjadikan jejak kaki Ibrahim sebagai suatu hal yang patut diperingati dan diambil pelajaran oleh anak cucunya. Maqam Ibrahim adalah tempat untuk melaksanakan shalat sunat setelah melaksanakan Thawaf. Awalnya Maqam Ibrahim ini menempel di dinding Kabah, kemudian dipindahkan oleh Khalifah Umar dengan pertimbangan untuk memudahkan orang yang Thawaf dan yang akan Shalat di belakangnya.

 

 

 

Sebagaimana halnya hajar aswad, maqam Ibrahim dijamin tidak akan pernah disembah oleh orang Musyrik sejak jaman dahulu sampai kiamat. Padahal mereka menyembah batu dan berhala lain yang ada di Kabah sebelum dihancurkan Rasulullah SAW.

 

Hijr Ismail,  merupakan Bagian dari Ka’bah yang terletak di antara Rukun Syami dan Rukun Iraqi yang ditandai dengan tembok berbentuk setengah lingkaran. Hijir Ismail adalah bangsal bekas bangsal nabi Ismail dan Siti Hajar saat ditinggalkan oleh Ibrahim berdua di tengah padang pasir yang tandus. Sebagian dari Hijir Ismail adalah Bagian dari Bangunan Kabah yang pada saat dibangun oleh orang Quraisy kekurangan dana hingga mereka mengurangi ukuran bangunan Kabah.

 

Ketika Nabi Ibrahim a.s. membangun Kabah, tingginya hanya sembilan hasta yaitu sepertiga tinggi sekarang. Begitu juga beliau mendirikan bangunan Kakbah di atas fondasi ditambah enam hasta yang sekarang masuk Hijir Ismail. Ketika pembangunan dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. lima hasta ini masuk bagian dari Kakbah. Hijir Ismail yang dulu dengan yang sekarang dapat dibedakan dengan mudah sekali, yaitu bahwa tembok yang lurus pada Hijir Ismail sekarang, yang sejajar menghadap ke arah Utara Kabah adalah masuk bagian Kabah yang dahulu dibangun Nabi Ibrahim a.s.

 

Ketika bangsa Quraisy merenovasi Kabah, mereka mengurangi dinding Kabah bagian Utara ke Selatan seluas enam hasta dan menjadikannya bagian dari Hijir Ismail. Pada masa pembangunan Ibnu Zubair, ia mengembalikan luas yang lima hasta tersebut ke dalam bagian Kakbah seperti yang dibangun Nabi Ibrahim a.s. dan bahkan memasukkan Hijir Ismail ke dalam bagian Kakbah.  Hajjaj bin Yusuf mengembalikan kembali bentuk Kakbah seperti yang ada sekarang.

 

Shalat di Hijir Ismail setara dengan keutamaan shalat di dalam Kabah. Oleh karena itu Hijir Ismail adalah satu tempat yang mustajab untuk melakukan shalat sunat, berdoa dan berzikir. Shalat sunat tersebut termasuk shalat sunat mutlak yang dapat dilakukan sepanjang hari kecuali saat shalat fardhu. Rasulullah bersabda kepada Abu Hurairah ”Wahai Abu Hurairah, sebetulnya di Pintu Hijr Ismail ada malaikat yang selalu mengatakan kepada setiap orang yang masuk dan shalat dua rakaat  di Hijr ’kau telah diampuni dosamu, mulailah dengan amalan baru’”.

 

 

Prosesi  Umrah

 

Umrah dilaksanakan sebelum atau sesudah haji. Apabila dilaksanakan sebelum haji maka kita melaksanakan Haji Tamattu dan bila dilaksanakan sesudah haji maka kita mengerjakan Haji Ifrad sementara jika dilakukan secara bersamaan disebut Haji Qiran. Umrah dilakukan dengan melaksanakan Ihram, Thawaf, Sa’i dan diakhiri dengan tahallul.

 

Thawaf.

 

Thawaf ialah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali berlawanan arah dengan jarum jam. Saat kita melakukan thawaf seolah-olah kita sedang shalat, karena itu untuk melaksanakan Thawaf haruslah suci dari hadats besar maupun kecil. Bila ketika thawaf batal wudhunya maka Wajib berwudhu, kemudian melanjutkan dari tempat di mana ia batal (tidak mengulangi dari awal).

 

Thawaf dilakukan dengan menghadap ke kanan sehingga Ka’bah selalu berada di sebelah kiri kita.  Hitungan Thawaf dimulai dan diakhiri pada arah sejajar dengan Hajar Aswad yang ditandai oleh lampu hijau.  Pada saat berada pada titik antara hajar aswad dengan lampu hijau maka hadapkan sepenuh badan ke Ka’bah dan lakukan isti’lam yaitu melambaikan tangan kanan sambil mengecupnya dengan membaca :

 

بِسْمِ اللهِ اَللهُ اَكْبَرُ

 

Ketika thawaf kita harus masuk dan lenyap dalam gelombang manusia yang bergemuruh berputar. Seluruh manusia bagaikan sungai yang bergemuruh mengelilingi Kabah siang ataupun malam. Laki, perempuan dan semua golongan manusia bersatu dalam satu arus pusaran mengumandangkan doa berharap atas kemaha besaran dan kasih sayang Allah atas dirinya.

 

 

Disinilah kita bersatu dengan manusia lain untuk memasuki sistem kosmos alam semesta. Kabah ibarat Matahari yang menjadi pusat putaran sedangkan manusia ibarat planet yang berjalan di orbitnya dalam sistem tata surya.

 

Thawaf melambangkan proses perjuangan mencapai tujuan dan mengingatkan kita terhadap system sunnatullah yang berlaku di alam semesta.  Ketika Thawaf, kita harus berputar mengikuti ketentuan yang berlaku tanpa harus bertabrakan dengan orang lain. Mengapa planet dan bintang di alam semesta tidak saling bertabrakan ? Karena mereka mengikuti sunnatullah dengan berjalan di orbitnya masing-masing. Begitu juga dalam kehidupan, kita harus mengikuti sunnatullah agar selaras dan tidak menabrak orang lain.

 

Bagi laki-laki disunahkan pada tiga putaran pertama thawaf dilakukan dengan berlari-lari kecil (Raml) sementara sisa empat putaran berjalan biasa sementara bagi wanita tidak perlu melakukan Raml.   Di setiap putaran thawaf kita bebas berdoa apapun.  DEPAG telah menyediakan buku panduan doa yang dibaca untuk setiap putaran 1 sampai 7.  Sibukkan diri dengan tasbih, tahmid, tahlil serta bermunajat dan berdialog denganNya. Setiap sampai di rukun Yamani berdo’alah :

 

رَبَّنَا آتِنَافِى الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَفِى الاَخِرَةِ حَسَنَةٌ وَقِنَا عَذَابَ النّار

 

Ya Allah berikanlah kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di akhirat, dan hindarkan kami dari siksa neraka.

 

Setelah sampai di Hajar Aswad lakukan seperti pada permulaan yaitu melakukan isti’lam dan membaca  Bismillahi Allahu Akbar dan seterusnya. Saat mengangkat  tangan dan mengecup ke arah hajar aswad rasakan seolah-olah kita menjabat tangan Allah dan  berbaiat kepadaNya.

 

Saat thawaf, panjatkanlah segala pujian atas keberuntungan kita bisa mengunjungi rumahNya. Tetaplah fokus kepada Kabah dan bersikaplah merendahkan diri. Jangan terpengaruh oleh kegiatan orang di sekitar kita yang tidak memberikan penghormatan semestinya terhadap Kabah.

 

Setiap kali melintasi Maqam Ibrahim, bacalah :

 

@è%ur Éb>§‘ ÓÍ_ù=Åz÷Šr& Ÿ@yzô‰ãB 5-ô‰Ï¹ ÓÍ_ô_̍÷zr&ur yltøƒèC 5-ô‰Ï¹ @yèô_$#ur ’Ík< `ÏB y7Rà$©! $YZ»sÜù=ߙ #ZŽÅÁ¯R ÇÑÉÈ   ö@è%ur uä!%y` ‘,ysø9$# t,ydy—ur ã@ÏÜ»t6ø9$# 4 ¨bÎ) Ÿ@ÏÜ»t7ø9$# tb%x. $]%qèdy— ÇÑÊÈ

“Ya Tuhanku, masukkan aku secara masuk yang benar, dan keluarkan pula secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisiMu kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil pasti lenyap”.(QS Al-Isra : 80-81)

 

Apabila adzan berkumandang sebagai tanda datangnya waktu sholat wajib berjamaah, thawaf harus dihentikan untuk mengikuti sholat berjamaah dan putaran thawaf yang masih tersisa diteruskan setelah selesai sholat.

 

Bila tujuh putaran Thawaf sudah selesai, berdirilah di Multazam. Berdoalah di tempat ini, ikrarkan janji kepada Allah untuk memegang teguh segala PerintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Mintalah bimbingan agar kita tidak jatuh ke jurang kemaksiatan serta mintalah kekuatan untuk istiqamah di jalan yang diridhoiNya.  Kita akan menyaksikan manusia berdoa dalam berbagai bahasa dan ekspresi meminta kepada Allah. Begitu banyak yang meminta dan begitu banyak permintaan manusia, kita bayangkan betapa sibuk aparat Allah melayani manusia dan semua makhlukNya. Jangan sia-siakan kesempatan berharga ini hanya sekedar minta hal-hal yang bersifat duniawi belaka.

 

Namun Allah adalah Zat yang Maha Kuasa dan Maha Mendengar, yang selalu memberikan solusi, yang selalu menerima siapapun yang mendatanginya, yang sabar dan mengasihi walaupun sering dikhianati dan dipersekutukan dengan yang lain. Puas bermunajat di Multazam lalu berjalan ke belakang Maqam Ibrahim mencari tempat untuk shalat dua rakaat.

 

وَاتَّخِـذُوْا مِنْ مَقَامِ إبْرَاهِيْمَ مُصَلّى

“…Dan jadikanlah oleh kalian sebagian dari Maqam Ibrahim itu tempat sholat…“(QS Al-Baqarah 125)

Di belakang maqam Ibrahim, shalatlah dua rakaat. Pada Rakaat pertama Bacalah Al-Kafirun sementara pada Rakaat kedua surat Al-Ikhlas. Selesai shalat sunat duduklah di pelataran sambil menatap Kabah. Jangan biarkan hati diam, teruslah bertafakur atas nikmat dan kebesaran Allah seraya berdialog denganNya.  Sambil Beristirahat kita dapat meminum air zamzam yang tersedia di beberapa pelosok.

 

Sebelum minum zamzam bacalah doa :

Allohumma inna nas’aluka ilman naafi’an, warizqan waasi’an, wa dzanban maghfuroo, wasifaan min kulli daa’in wa saqomin, birahmatika ya arhamar rahimin.

“Ya Allah limpahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, rizki yang luas, dosa yang diampuni dan obat dari segala hal dan penyakit, dengan rahmatMu yang Maha Pengasih”

 

 

Prosesi Sa’i

 

Setelah hilang letih dari melaksanakan thawaf, kami melangkahkan kaki menuju ke Bukit Safa untuk melaksanakan Sa’i yaitu berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah sebanyak 7 kali yang berakhir di bukit Marwah.  Saat ini bukit Safa dan Marwa berada di dalam lingkungan Masjidil haram. Jarak antara keduanya sekitar 400 m dengan sedikit tanjakan di Safa dan Marwa.  Dasar lembah yang sejajar Mekah antara kedua bukit ditandai dengan lampu hijau.

 

Saat kami tiba di masjidil Haram untuk umrah, pemerintah Saudi masih sedang merampungkan lokasi tambahan baru untuk sa’I yang letaknya sejajar dengan lokasi lama. Saat kami datang lagi pada saat pelaksaan Haji, lokasi baru ternyata sudah selesai dan sudah bis digunakan. Dengan demikian untuk melakukan Sa’I ada beberapa pilihan : di lokasi lama lantai dasar antara safa dan marwah, di lantai atas atau di lokasi baru. Saat sa’I di lokasi lama kita akan merasakan naik turun antara dua lembah safa dan marwa, sedangkan di lokasi baru dan di lantai atas, tidak terlalu terasa naik turun antara kedua lembah tersebut. Sesampainya di kaki bukit Shafa, bacalah :

 

إنَّ الصَّـفَاوَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ

 

“ Sesungguhnya Shofa dan Marwah itu adalah di antara syiar-syiar Allah “.

 

Naiklah sedikit di atas bukit Shafa, lalu berdiri menghadap Ka’bah sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi sehingga ketiak terbuka, lalu ucapkan :

                اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اَكْبَرُ, لاَاِلــهَ اِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ,

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ , لاَاِلــهَ اِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ ,

أَنْجَزَ وَعْدَهْ , وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَه

 

Pada setiap putaran perjalanan silakan berdoa apapun yang kita inginkan, namun sebagai pedoman kita dapat menggunakan doa yang bisa dibaca dari tuntunan doa dan dzikir.

 

Pada saat memasuki daerah lembah yang ditandai lampu hijau Bagi laki-laki disunatkan lari-lari kecil antara dua pilar hijau, sedangkan bagi wanita tidak disunatkan. Bacalah doa :

Robbigh fir, warham, wa’fu. Watakarram, watajawwaj, amma ta’lam. Innaka ta’lam malaa ta’lam innaka antallahil aazzul akram.

 

Tuhanku, ampunilah, kasihanilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya engkau mengetahui apa yang aku tidak ketahui. Sesungguhnya engkau ya Allah yang Maha Mulia dan Maha Pemurah.

 

Hentikan sa’i bila datang waktu salat wajib, lakukan shalat secara berjamaah dan kekurangan sa’i dilanjutkan setelah selesai salat. Jamaah haji yang melakukan sa’i tidak wajib suci dari hadas besar atau kecil.

 

Saat melaksanakan Sa’i kita berperan menjadi Hajar yang melambangkan proses pencarian dan perjuangan untuk mendapatkan kehidupan.  Ketika Hajar mendapati anaknya menangis kehausan. Ditinggalkan di lembah gersang tidak membuatnya duduk termangu, dia pasrah terhadap kehendak Allah. Ia tidak menunggu keajaiban dari langit, melainkan bangkit dan berlari untuk mencari air kehidupan walaupun secara logika tidak ada harapan sama sekali. Dia berjalan bolak balik antara Safa dan Marwah sampai 7 kali dengan penuh tawakal dan kepasrahan seraya membesarkan dan mentauhidkan Allah.

 

Usahanya sia-sia hingga ia kembali kepada anaknya. Namun ia terkejut ketika didapatinya di kaki Ismail muncullah mukzijat Allah berupa air yang memancar dari celah bebatuan di padang pasir tandus. Sehingga secara refleks Hajar mengumpulkan air tersebut sambil berseru ”zamzam..zamzam”, yang artinya berkumpullah, berkumpullah.

 

Dengan Sa’i, Allah mengajarkan agar Manusia mau berupaya dan bekerja keras, soal hasil Allah yang akan menentukan. Hasil yang diperoleh manusia sebenarnya bukan mutlak karena kepandaian dan upaya manusia semata tetapi karena pemberian Allah. Tamsil ini disampaikan Allah dengan memunculkan air zamzam justru di dekat Kabah, walaupun Siti Hajar mencarinya antara Shafa dan Marwah.  Perjuangan, kepasrahan dan doa Siti Hajar dikabulkan Allah dengan memancarnya air zamzam yang tidak pernah kering hingga saat ini.

 

Sa’i mengingatkan kita atas perjuangan orang tua khususnya ibu kita yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kita dengan penuh perjuangan. Saat minum air zamzam kita akan menyadari besarnya karunia Allah bagi hambaNya sehingga patutlah kita mensyukurinya.

 

Pelajaran ini disampaikan oleh Hajar, sesosok perempuan berkulit hitam….. Dia  memasrahkan diri mengikuti kehendakNya yang mutlak dan mempercayakan hidupnya kepada Allah di padang pasir dan lembah tandus Mekah. Kekuatan Imannya mengalahkan rasio dan logika.  Menemukan air bukan dengan cinta ataupun usaha melainkan setelah berusaha. Meskipun tidak mendapatkan yang engkau cari, berusahalah semampumu. Cobalah tujuh kali, dalam garis lurus yang membawa kita dari Shafa ke Marwa.

Itulah Sa’i… Perjuangan tiada kenal lelah untuk mendapatkan kehidupan.

 

Tahalul

 

Selesai melakukan sa’i di bukit Marwa kita sudah dapat bertahalul dengan mencukur atau menggunting rambut baik sebagian maupun seluruhnya. Selesailah ibadah Umrah dan kita boleh melepas pakaian ihram dan menggantinya dengan pakaian biasa.

 

Menunggu waktu pelaksanaan ibadah Haji.

 

Selesai melaksanakan umrah, kami mempunyi waktu untuk menunggu prosesi haji yang akan dilaksanakan tanggal 8 Dzulhijah. Waktu yang tersedia diisi dengan berbagai kegiatan antara lain melaksanakan umrah kembali, sholat di Masjidil Haram, atau berziarah ke tempat-tempat di Mekah maupun di Madinah.

 

Ibadah di masjidil Haram nilainya seratus ribu kali lipat dibandingkan di masjid lain. Allah melimpahkan rahmatnya sebanyak 120 rahmat dengan rincian: 60 rahmat bagi yang thawaf, 40 rahmat bagi yang shalat dan  20 rahmat bagi yang memandang Ka’bah.  Shalat fardhu di Masjidil Haram jangan dijama’ dan diqasar.  Keberangkatan kita menuju Rumah Allah adalah keberangkatan menuju Rumah tempat asal muasal kita, sehingga di Masjidil Haram kita tidak dalam keadaan safar.  Allah telah menjamin Masjidil haram sebagai tanah yang aman sehingga tidak perlu ada alasan rasa takut yang menjadi dalil kita melaksanakan jama’ & qasar.

Pos ini dipublikasikan di Haji, Ibadah, Religi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s