Persiapan Berhaji

Setiap muslim selalu mendambakan untuk menyempurnakan rukun Islamnya dengan melaksanakan ibadah haji. Hal ini karena ibadah haji sering dianggap sebagai puncak pencapaian spiritual seseorang, walaupun ibadah sholat, zakat dan puasanya mungkin belum sempurna.

Bagi mukmin yang beruntung dapat melaksanakan ibadah haji, peluang ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya karena tidak semua orang dapat meraihnya dan mungkin kesempatannya hanya sekali tidak akan terulang lagi.

Pelaksanaan haji cukup memakan waktu dan biaya. Karena itu diperlukan persiapan matang untuk mendapatkan manfaat optimal dari pelaksanaan haji.   Namun demikian Allah mengingatkan bahwa perbekalan Taqwa adalah yang utama. Firman Allah “Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah Taqwa”.

Bagaimana rasanya jika kita dipanggil oleh orang yang dianggap penting di lingkungan kita? Kita tentu akan berupaya untuk memenuhi panggilan tersebut dengan segala daya upaya. Jika tak punya ongkos atau pakaian yang layak, akan diupayakan meminjamnya kepada orang lain. Kalau tempatnya jauh, kita akan memaksakan diri naik taksi, kapal laut atau pesawat terbang.  Mengapa ? Karena kita merasa terhormat dipanggil oleh orang penting.

Haji adalah panggilan Allah kepada ummat manusia yang hanya terdengar oleh ruh orang yang dipilih Allah swt.  Tidak ada yang lebih terhormat, kecuali dipanggil Allah untuk bermunajat dan berdo’a dengan mendapat ‘upah’ berupa pahala, rahmat dan ampunanNya.

Sayangnya, Si miskin enggan menjawab panggilan tersebut dengan dalih tak punya uang. Si kaya tak bersegera merespon panggilan tersebut dengan dalih waktunya belum tepat.  Yang muda mengulur waktu dengan dalih masih ada hari esok. Yang tua merasa malas karena sayang dengan harta yang sudah terlanjur ditumpuk. Sesungguhnya panggilan berhaji bukan untuk si kaya, si miskin, yang tua atau yang muda, tetapi panggilan untuk semua manusia beriman. Banyak diantara kita yang mengaku “belum mampu” namun bisa menabung untuk memiliki asesoris dunia yang nilainya bisa lebih dari biaya haji.

 Kesiapan Motivasi

 

Sebelum berangkat haji, kita harus “menggugat” dulu niat, perangkat dan perilaku jiwa kita. Sudah benarkah niat kita? Halalkah uang yang kita gunakan untuk membiayai keberangkatan kita? Jiwa mana yang kita bawa? Jiwa yang hendak bertekuk lutut dan mengakui kehinaan di hadapan Tuhan, ataukah jiwa yang hendak ‘memperalat’ Tuhan demi status baru sebagai manusia yang gila hormat dan sanjungan? Ataukah sekadar memperpanjang gelar yang kita sandang? Selami jiwa kita dan bunuhlah tikus busuk yang ada di dalamnya. Selami pula hakikat haji untuk kemudian kita biarkan keagungan-Nya bersemayam dalam jiwa kita, dan memancar jauh ke dalam relung kehidupan sebagaimana dijalankan oleh nabi Ibrahim as.

 

Banyak sekali jamaah yang berangkat bukanlah tergolong orang yang “mampu” secara finansial. Ada banyak jamaah yang memiliki pekerjaan yang bila dilihat dari kacamata logika kita, tidaklah akan mampu membiayai ibadahnya. Ternyata orang tidak mampu tadi memiliki niat dan tekad yang kuat untuk menunaikan ibadah haji. Niat inilah tampaknya yang menjadi titik mulai segalanya. Saat niat dilantunkan, mulai saat itulah rezeki seakan datang mengalir… dari pintu-pintu dan dari arah yang mereka tidak duga sebelumnya.
Banyak juga orang yang mampu secara keuangan, ketika ditanya kapan  menunaikan haji? Jawabannya merasa belum siap. Jawaban demikian adalah jawaban yang sangat melemahkan, baik dari sisi spirit internal diri orang yang bersangkutan, maupun melemahkan dari sisi “kebulatan tekad dan niat” orang tersebut dihadapan Allah SWT.

 

Tidak ada orang yang akan siap 100% menghadapi penunaian ibadah haji. Ibadah ini adalah ibadah yang multi dimensi. Akan sangat sulit pula bagi manusia untuk mempersiapkan secara sempurna dalam semua aspek. Ada aspek fisik, aspek pengetahuan agama, aspek psikologis, aspek penyiapan keluarga yang ditinggal, aspek pekerjaan yang ditinggal, dll.

Proses persiapan ini secara otomatis biasanya akan terpicu sendiri saat kita mulai berniat dan saat kita mendapat kepastian tanggal keberangkatan.. Yakinlah  bahwa proses ibadah haji adalah merupakan proses “menyempurnakan” diri kita sendiri menjadi insan yang benar-benar Islami.

 

Niat dan kemauan adalah yang terpenting dalam merealisasikan keinginan berhaji. Lakukanlah pencanangan program haji dengan merencanakan target waktu melaksanakan ibadah haji, walaupun secara materi belum berkecukupan.  Adakah keinginan dalam hati rasa rindu dan impian untuk pergi ke baitulloh dan bersimpuh di Masjidil Haram yang nilainya seratus ribu kali dibandingkan mesjid lain?  Bagaimana keinginan tersebut bisa terwujud jika kita tidak benar-benar sangat menginginkannya? Bayangkanlah dalam pikiran dan imajinasi kita, nikmatnya memandang Kabah yang dirindukan.

 

Penulis merasakan panggilan tersebut saat mendengar lantunan Talbiyah dalam suatu perjalanan. Saat itu hati bergetar dipenuhi rasa haru dan air matapun terurai dilanda kerinduan untuk berkunjung ke Baitullah .

 

Dengan adanya Niat dan ketergerakan hati untuk menunaikan ibadah haji maka Allah akan memberikan kemudahan dan seluruh alam semesta akan mendukung niat tersebut.

 

Melaksanakan Ibadah haji sepertinya berat dan sulit baik dari sisi dana yang harus dialokasikan, kekuatan fisik yang harus disiapkan, ujian yang harus dilalui, dan iklim ekstrim yang harus dihadapi.  Belum lagi  urusan bisnis, keluarga  dan lain-lain yang berat rasanya untuk ditinggalkan.

 

Jika sudah bulat niat untuk memenuhi panggilan Allah, seyogyanya kita mengupayakannya. Selebihnya pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Insya Allah, kita akan mendapatkan jalan dari yang tidak terduga.  Allah sebagai pengundang tidak akan menyengsarakan kita. Dialah  yang akan menjaga bisnis dan keluarga kita. Tidak sedikit orang yang secara fisik dan materi tidak mungkin bisa berangkat Haji, namun atas ijin Allah dan kemauan yang kuat di dalam diri ternyata  dapat melaksanakannya. Apapun motivasi kita, yang penting jangan lepas dari keikhlasan dalam memenuhi undangan Allah tersebut.

 

Ibadah haji merupakan momen yang sangat baik untuk mensyukuri nikmat dan kasih sayang Allah serta memohonkan ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan karena kelalaian dan kebodohan diri. Dosa yang menumpuk terasa menghimpit hati sehingga kita memerlukan waktu untuk mencurahkan isi hati dan meminta pengampunan dari Sang Maha Pengampun. Saat melakukan ibadah haji inilah seseorang mendapatkan kesempatan untuk melakukan introspeksi dan mendapat pencerahan dalam menjawab berbagai persoalan hidup dan mempersiapkan diri menghadapi fase hidup selanjutnya.

 

Penulis mencanangkan program ibadah Haji tahun 1997 saat usia 31 tahun dengan niat akan melaksanakannya pada usia 40 tahun. Alhamdulillah niat tersebut terwujud sepuluh tahun kemudian pada tahun 2007 pada usia 41 tahun.

 

 

Kesiapan Finansial.

 

Persiapan finansial diperlukan karena kita akan melaksanakan perjalanan jauh selama beberapa hari yang membutuhkan bekal finansial dari sumber yang halal untuk transportasi dan akomodasi serta bekal bagi keluarga yang ditinggalkan.

 

Sisihkan sebagian dana yang ada untuk ditabung sebagai ONH yang mempermudah kita untuk menyisihkan sebagian rizki untuk keperluan naik haji. Jangan pesimis dengan kecilnya dana yang bisa kita alokasikan. Siapa saja atas kehendak Allah bisa menunaikan ibadah haji, tidak harus kaya.

 

Jangan dilupakan bekal finansial untuk keluarga yang ditinggalkan agar jangan  terbengkalai. Hendaklah menyelesaikan urusan duniawi yang menyangkut utang piutang, bisnis maupun sengketa. Tuliskan surat wasiat sebagai langkah persiapan menghadapi kematian dan menjamin kesucian pribadi dan finansial dalam menghadapi perpisahan dengan dunia karena kita tidak pernah tahu apakah kita bisa kembali lagi ke tanah air. Jangan sampai urusan dunia mengganggu pikiran dan membebani keluarga yang ditinggalkan.

 

Walaupun kesiapan finansial ini adalah utama, namun ternyata ada yang  berangkat haji tanpa mengeluarkan biaya melalui jalan yang tidak terduga atas ijin Allah.  Ketergerakan hati dalam diri untuk menunaikan ibadah haji akan memberikan kemudahan untuk mencapainya. Di Tanah suci banyak dijumpai orang-orang sederhana yang dengan tekad besar dan bekal seadanya akhirnya sampai di tanah suci dan melaksanakan ibadah haji seperti yang dicita-citakan.

 

Seseorang yang melaksanakan haji dengan uang yang halal, ketika melantunkan talbiah maka langit akan berseru: Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau karena bekalmu halal, kendaraanmu halal dan hajimu diterima. (HR Tabrani & abu Hurairah). Sebaliknya jika hajinya berasal dari nafkah haram maka langit berseru: Ditolak panggilanmu dan celakalah engkau karena bekalmu haram dan kendaraanmu haram. Hajimu ditolak, tidak diterima.

 

Kesiapan Fisik.

 

Seluruh rangkaian ibadah haji dan umrah merupakan kegiatan fisik melelahkan. Ada 3 sampai 4 juta jemaah haji yang berkumpul di satu titik, bergerak pada waktu yang sama menuju titik lainnya secara serempak sehingga segala sesuatu menjadi serba terbatas dan harus berdesakan. Dalam kondisi itu diperlukan kondisi fisik yang prima dan daya tahan menghadapi situasi serba darurat.

 

Karena banyaknya kegiatan fisik tersebut maka sebaiknya haji dilaksanakan pada usia yang tidak terlalu tua dan dalam kondisi sehat, hingga semua ritual dapat dilaksanakan dengan sempurna.  Setelah pulang berhaji, Insya Allah masih banyak waktu dan kesempatan untuk beribadah menabung kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Cepat cepatlah kalian menunaikan haji-yakni haji wajib-karena sesungguhnya seseorang diantara kamu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya” (Hadits).
Walaupun demikian, bagi yang berusia lanjut, cacat fisik atau sakit janganlah terlalu khawatir. Banyak  fasilitas yang memungkinkan jamaah haji dapat melakukan ritual haji dalam kondisi keterbatasan fisik. Bahkan dalam fiqih haji diberikan keringanan bagi yang tidak mampu melakukan suatu ritual tertentu dapat digantikan orang lain atau dengan membayar Dam.

 

Iklim dan kondisi alam di Arab Saudi jauh berbeda dengan di tanah air kita. Bila musim panas, suhunya sangat tinggi bahkan bisa mencapai 50 derajat Celcius, dan musim dingin sangat dingin hingga mencapai 5 derajat. Bukan hanya itu, perbedaan suhu siang dan malampun sangat ekstrim sehingga diperlukan daya tahan tubuh kuat untuk beradaptasi terhadap perbedaan suhu dan kelembaban. Beberapa penyakit yang perlu diantisipasi selama di tanah suci antara lain flu, demam, Batuk, sariawan, sakit gigi, dehidrasi/gangguan kulit, sakit perut dll.

 

Oleh karena itu para jamaah haji harus melakukan persiapan fisik yang memadai sebelum berangkat ke tanah suci, antara lain:

  1. Olah raga yang teratur berupa jalan kaki/aerobic. Selama di tanah suci kita akan banyak berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
  2. Makanan bergizi yang mencukupi.
  3. Berjalan di terik matahari.
  4. Immunisasi (meningitis & influenza)
  5. Periksa gigi terutama yang berlubang harus segera ditambal.
  6. General check-up.
  7. Konsultasi khusus bagi yang termasuk RISTI (jantung, asma, diabetes)

 

Siapkan juga obat-obatan yang biasa digunakan di tanah air, karena obat yang tersedia di Arab Saudi berbeda merek maupun komposisinya.

 

 

Kesiapan Mental spiritual

 

Meninggalkan rumah dan mengunjungi Baitullah di tanah suci bukanlah kunjungan biasa. Di sana kita akan menjumpai Allah Yang Maha Kuasa untuk menemukan jati diri kita. Selain kesiapan fisik, yang lebih dominan adalah diperlukan kesiapan mental spiritual, karena kelemahan fisik akan dapat ditutupi oleh kekuatan mental spiritual.

 

Bila kita telah mendapat kepastian untuk berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun ini, mulailah bertobat kepada Allah serta munajat semoga Allah memberikan keridhoan atas kedatangan kita ke Baitullah melalui Shalat-shalat  malam. Akuilah kehinaan dan kelemahan diri kita. Biarkan air mata menetes di malam-malam hari dengan menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan.

 

”Ya Allah, inilah aku hambaMu yang lemah, datang kepadamu dengan dosa yang tak terhitung memohon ampunanMu, bersimpuh sujud di hadapanMu. Bertaubat kepadaMu. Sudilah kau ampuni dosaku, terimalah taubatku. Bimbinglah ke jalanMu. Ridhoi hamba datang ke rumahMu dan menziarahi kekasihku Muhammad saw”.

 

Datangilah orang tua, keluarga, sahabat dan handai taulan untuk meminta maaf dan ridho mereka. Bereskan semua nazar, zakat, kembalikan hak orang yang pernah didzolimi. Kumpulkan anak yatim dan fakir miskin. Jadikanlah doa mereka mengiringi langkah kita ke Baitullah.

 

Yang pertama harus disiapkan adalah niat dan jiwa yang ikhlas untuk mengharapkan ridoNya semata.  Hindari Rafats, Fusuq dan Jidal. Rafats adalah Perkataan dan perbuatan yg tidak berguna dan kotor, antara lain sombong, Takabur, Mengumpat, Menghina. Fusuq adalah perbuatan melanggar ketaatan kepada Allah antara lain Menipu, Pemalas, boros, Dengki, dan Zalim.  Jidal adalah perdebatan dan pertengkaran yg bertentangan dengan akhlak mulia sehingga menyebabkan permusuhan, kemarahan dll. Sabda Rasulullah SAW Barangsiapa yang ber-haji karena Allah, lalu ia tidak Rafats, fusuq, dan jidal maka ia telah kembali seperti hari dilahirkan ibundanya” (Al Hadits)

 

Siapkan persediaan sabar tanpa batas. Ujian kesabaraan sudah dimulai ketika kita berniat untuk berangkat haji. Semua urusan membutuhkan kesabaran, mulai dari mendaftar, pemeriksaan kesehatan, menunggu panggilan dll.  Di tanah suci, kesabaran kita lebih diuji lagi. Dalam situasi penuh manusia harus hidup bersama beberapa waktu, ada saja yang dapat membuat kita marah karena perbedaan adat, tabiat dan kebiasaaan. Di sini kita juga diuji dengan kemampuan untuk toleran terhadap orang lain. Perbedaan kebiasaan dan adat istiadat serta cara ibadah yang sifatnya khilafiah kalau tidak disikapi dengan lapang dada dapat menyebabkan kita naik darah dan emosi.

 

Bila selama ini kita lebih mengedepankan pola pikir akal logika, maka selama di tanah suci harus didukung oleh kekuatan hati.  Dalam kondisi kepadatan manusia yang luar biasa dan kondisi darurat, akal logika sering tidak mampu menjelaskan dan menyelesaikan apa yang kita hadapi sehingga terkalahkan oleh emosi. Oleh karena itu diperlukan kekuatan mental spiritual dan kesabaran untuk meredam emosi ketika apa yang sudah direncanakan tidak berjalan.

 

Kesiapan Ilmu.

 

Sangat disayangkan ternyata banyak kaum muslimin  yang berangkat ibadah haji tanpa Ilmu yang memadai. Umumnya mengharapkan bahwa nanti selama melaksanakan Haji di Makah akan dibimbing oleh Muthawif.  Bahkan buku bimbingan manasik yang diberikan dari DEPAG secara Cuma-cumapun belum tentu dibaca. Akhirnya banyak jemaah haji yang melaksanakan ritual haji sekedar ikut-ikutan saja.

 

Pembimbing atau muthawif  memang ditugaskan untuk membimbing jamaah haji agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan benar. Namun demikian mereka tidak mungkin terus-menerus membimbing kita satu per satu, karena seorang muthawif bisa jadi harus membimbing 50 orang bahkan seratus orang. Apalagi dalam kondisi padat, mungkin saja kita terlepas dari rombongan sehingga tidak bisa mengikuti Muthawwif.  Jika kita memahami ilmunya maka jika suatu saat kita terpisah, kita masih tetap bisa melakukan ritual peribadatan secara mandiri.

 

Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada para jamaah untuk membaca buku manasik haji dari DEPAG dan mengikuti latihan manasik haji sebagai gladi sebelum pelaksanaan sesungguhnya dimulai.

 

Beberapa ilmu yang perlu dipelajari antara lain:

  1. Cara menggunakan Kain Ihram
  2. Cara berthawaf
  3. Cara sa’i
  4. Cara melontar jumrah
  5. Doa-doa selama thawaf, Sa’i, wukuf, melontar jumrah dll.
  6. Shalat-shalat sunnat : Dhuha, Tahajud, Hajat dll
  7. Doa-doa: Menaiki kendaraan, memasuki masjid, keluar masjid dll.

 

Cara menggunakan kain ihram perlu dipelajari dengan seksama termasuk praktiknya. Sunnah bagi orang yang ihram adalah menjadikan selendang pada kedua pundak dan kedua ujungnya di dada. Pada saat ingin thawaf, maka tengah selendangnya di bawa ketiak kanan dan kedua ujung selendang pada pundaknya yang kiri dan membuka pundaknya yang kanan.

 

Sesungguhnya yang sesuai Sunnah Nabi Saw adalah menutupi kedua pundak dengan selendang ketika sedang ihram kecuali dalam thawaf qudum seperti telah disebutkan. Dan jika seseorang meletakkan selendangnya tidak menutup kedua pundaknya pada waktu dia duduk atau ketika makan atau ketika berbincang-bincang bersama kawan-kawannya maka tidak mengapa. Tapi yang sesuai sunnah jika dia memakai selendang maka dengan menutup kedua pundak dan ujung-ujung selendang berada pada dadanya.

 

 

Kesiapan Perbekalan

 

Perlengkapan yang diperlukan masing-masing orang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Umumnya Paket Haji Reguler memakan waktu hingga 40 hari sedangkan Paket Haji khusus sekitar 20 sd 30 hari.

 

Secara umum diperlukan kesiapan perlengkapan antara lain:

  • 1 Tas koper besar, sebaiknya diberi tanda khusus yang mudah dilihat dari jauh dan dari berbagai arah (gunakan stiker, label nama, pita khusus dll)
  • 1 Tas koper kecil yang akan dibawa ke kabin.
  • Tas ransel, tas pinggang, tas untuk sandal & perlengkapan shalat ke masjid, kantung obat-obatan, kantung perlengkapan mandi, kantung untuk batu,
  • Baju secukupnya untuk selama di Saudi antara lain:
    • Kain ihram (2 stel).
    • Baju koko untuk ke masjid 3 buah,
    • baju sehari-hari, baju hangat.Baju tidur
    • Kaos singlet/oblong/Tshirt
    • Celana dalam
    • Celana pendek
    • Sarung
    • Celana Panjang 2- 3 buah
    • Jaket 1 buah
    • Kaos kaki 3 pasang
    • Disposible Panties 2 Pack
  • Perlengkapan mandi
  • Sandal + sepatu yang nyaman untuk berjalan yang tidak menutup tumit.
  • Perlengkapan shalat dan cadangannya.
  • Obat-obatan pribadi
  • Peralatan Pendukung Harian
    • Tempat air untuk dibawa saat kita keluar dari pondokan,
    • Gantungan baju yang bahan kawat biar tidak terlalu berat
    • Deterjen untuk cuci baju, dan cabun cair untuk cuci piring
    • Gunting Kecil harus masuk koper
    • Tali buat gantungan baju
    • Tas Ransel, untuk ke Arafah dan mina
    • alat cukur
    • Senter + Batere cadangan
    • Kaca mata hitam + talinya
    • Payung kecil (optional)
    • Water heater yang portable untuk memasak air (cari yang 350 watt aja)

 

Berangkat sendiri atau dengan pasangan ?

 

Alangkah nikmatnya bila Ibadah haji dapat dilaksanakan oleh pasangan suami-istri karena banyak hikmah yang akan diperoleh berupa latihan kekompakan dan kerjasama sehingga meningkatkan cinta kasih antara keduanya. Suasana ibadah haji berbeda dengan suasana keseharian di tanah air.  Ada pasangan yang selama di tanah air jarang bersama-sama, namun selama di tanah suci mengharuskan mereka sering bersama-sama.  Perbedaan kondisi ini di satu sisi bisa positif bisa juga sebaliknya. Tidak menutup kemungkinan adanya pasangan suami istri yang mengalami perselisihan atau ketidakharmonisan saat melaksanakan ibadah haji bersama. Naudzu billaahi min dzalik.

 

Beberapa tips persiapan suami-istri yang akan melaksanakan haji, yaitu:

  • lakukan pendekatan dengan berbicara dari hati ke hati.
  • Tingkatkan saling pemahaman antara suami-istri
  • Buat kesepakatan-kesepatan terhadap hal-hal tertentu.
  • Berusaha saling menolong namun juga berusaha mandiri.
  • Tidak memancing pembicaraan yang dapat menyulut emosi pasangan.
  • Saling menyemangati dan saling menasihati jika dalam kondisi down.

 

Kebersamaan dalam ibadah haji akan dapat meningkatkan keharmonisan rumah tangga karena selama kurang lebih satu bulan hidup bersama di tanah suci yang diridhoi Allah. Namun perlu berhati-hati karena dalam kondisi ihram, dam akibat berhubungan suami istri sangat berat. Apabila ada kondisi yang dapat menimbulkan perselisihan antara suami istri, segeralah temukan solusinya dengan berdiskusi bersama. Hati-hati terhadap masuknya pihak ketiga yang dapat memperkeruh suasana. Ingatlah bahwa Syetan selalu menggoda kita untuk menjadikan amal ibadah kita tercemar sehingga ditolak oleh Allah.

 

 

Pos ini dipublikasikan di Haji, Ibadah, Religi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s