Mengenal Syetan, Musuh Terbesar Manusia

Asal usul Syaithon

 2.34, 7.11, 15.31, 17.61, 18.50, 20.116, 38.71, 2.36, 4.117, 24.21 7.27

Kedudukan Syaithon

Syaithon adalah sosok yang diidentifikasikan oleh Allah sebagai musuh yang nyata bagi manusia sejak awal penciptaan manusia. Posisi sebagai  musuh yang nyata ini perlu mendapat penekanan karena dengan kelihaiannya maka Syaithon bisa masuk ke dalam berbagai posisi sehingga manusia sering tidak memahami bahwa dia sedang berhadaan dengan syaithon.

Yang memproklamasikan permusuhan antara manusia dan Syaithon adalah Syaithon sendiri karena perasaan ujub dan takaburnya saat Allah akan menciptakan manusia dari tanah dan sekalian makhluk diperintahkan untuk sujud kepada Adam. Dengan kelihaiannya Syaithon bisa bertindak seolah-olah sebagai teman dan sahabat yang memberikan nasihat-nasihat baik. Bahkan akibat kelihaian Syaithonlah maka Adam menjadi terlempar dari Syurga.

2:30-39

38:71-85

7:11-25

18:50 4:38 35:6 17:53 36:60

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang kafir. (7:27)

Jenis Syaithon

Menurut informasi Al qur’an ada dua jenis Syaithon yaitu : Jin dan Manusia.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) [499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (6:112-113)

Dalam Bentuk Jin, Syeitan menggoda melalui iming-iming dan Membisikkan perkataan yang indah (Zukhrufal qauli) yang selaras dengan keinginan manusia seperti kesejahteraan, kemakmuran, keadilan dsb.  Perkataan yang indah itu tak lain merupakan (gururhon) tipuan yang tanpa disadari hanyalah menjanjikan harapan kosong dan kebohongan semata.

Dalam bentuk Manusia, Allah menyebut mereka sebagai Akabiro mujrimiha (Pembesar yang jahat) Yang termasuk dalam kategori ini adalah Para pembesar, raja, pimpinan yang melakukan tipu daya di seluruh negeri. “Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (6:123)

  1. Pandangannya cenderung mulai diarahkan dan memberi kesempatan kepada bisikan itu supaya masuk ke dalam hatinya sehingga toleransinya semakin kedua.
  2. Merasa senang pada bisikan tersebut sehingga sesuai dn cocok dengan keinginannya
  3. Mengerjakan apa yang diinginkan oleh syaiton sehingga tingkah laku, sikap dan gaya serta orientasi hidup menjadi tidak berbeda dengan apa yang dipertontonkan oleh masyrakat syaithon dan merasa tentram di dalamnya.

Cara lain adalah dengan Menyebarkan permusuhan dan kebencian                               5.94

Pengkhianatan, Janji Palsu dan Cuci Tangan  Syaithon

Syaithon dan para pemimpin kaum kafirin yang menjadi kaki tangannya akan berlepas tangan bila dimintai pertanggung jawaban, terutama pada saat kelak di akhirat. “Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri:  “Sesungguhnya kami adalah  pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?” (40:47)

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”. (40:48)

Dan  mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang  yang  lemah  kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?  Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita  mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali  kita   tidak  mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (14:21)

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun  telah  menjanjikan  kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak  dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. (14:22)

Dan mereka berkata:”Aduhai celakalah kita!” Inilah hari pembalasan. Inilah hari keputusan  yang kamu selalu mendustakannya . (kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya: “Kenapa kamu tidak tolong menolong ?” Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri. Sebahagian dan mereka menghadap kepada sebahagian yang lain berbantah-bantahan. Pengikut-pengikut  mereka  berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): “Sesungguhnya kamulah yang datang kepada  kami  dan kanan [1277]. Pemimpin-pemimpin mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah yang tidak beriman”. Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melampaui batas. Maka pastilah putusan (azab) Tuhan kita menimpa atas kita; sesungguhnya kita akan merasakan (azab itu). Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. (37:20-34)

Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (8:48)

“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun  telah  menjanjikan  kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak  dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” 14:22

Syaithon selalu menjanjikan kemuliaan                                   22.52

10:7-8

Yang Terhindar Dari Bujuk Rayu Syaithon

Syaithon tidak mempunyai  kekuasaan tehadap orang beriman           16.99

Cara Kerja Syaithon

Cara kerja Syaithon untuk menggelincirkan manusia menuju lembah kehinaan sangat dahsyat dan luar biasa. Tidak jemu-jemunya Syaithon membujuk rayu dan atau memaksa manusia untuk mengikuti jejaknya.   Syetan menyerang manusia menggunakan panah-panah yang beracun, apabila panah pertama meleset, maka panah berikutnya akan menyusul, sehingga sangat sulit berkelit.

Adapun panah-panah godaan syetan tersebut adalah sebagai berikut:

PANAH PERTAMA: NILAI KETAATAN YANG MEMUDAR DAN MELEMAH

Seringkali kita melihat seseorang yang meningkat nilai ketaatannya kepada ajaran agama, namun begitu tidak kelihatan beberapa waktu saja, kita dikejutkan dengan ketaatannya yang jauh menurun. Lihatlah keadaan kaum muslimin di awal bulan Ramadhan yang penuh dengan ibadah dan ketaatan, kemudian bandingkan dengan keadaan mereka be-berapa hari atau beberapa bulan setelah Ramadhan berlalu, kita akan dapat melihat perbedaan yang amat mencolok.

Memudar dan melemahnya nilai ketaatan adalah dengan meninggalkan ketaatan itu sendiri atau tidak mempertahankan keutuhan nilai-nilai agama di dalam diri berupa amal-amal shalih, akhirnya jatuh kepada perkara haram.

Fenomena yang dapat kita saksikan di tengah-tengah kaum muslimin berkaitan dengan masalah ini, sebagai berikut:

  1. Tidak Hati-hati Berbicara dan Berjanji

    Banyak kita jumpai seseorang yang membuat janji kepada saudaranya sesama muslim, namun ia tidak menaruh perhatian terhadap janjinya itu, bahkan sering kali ia langgar atau terlambat menepatinya. Lebih parah lagi kadang kala ia malah meniatkan melanggar perjanjian itu tanpa mempedulikan akibatnya dan tanpa memperhitungkan pahala yang bakal diperoleh dari menepati janji. Ketika kaum muslimin meremehkan masalah ini, musuh-musuh Islam justru mencaploknya. Sehingga sangat disayangkan bila mereka mengambil intinya sementara kaum muslimin kebagian kulitnya saja.

  2. Terburu-buru Memvonis Tanpa Cek dan Ricek (Tabayyun)

    Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang tidak fair dalam memvonis orang. Mereka membuat-buat tuduhan lalu menjatuhkan vonis secara keji. Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala beriku: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6).

    “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)

  3. Mendengarkan Isu dan Kabar Dusta.

    Sekarang ini banyak kita temui orang yang suka mendengar kiri kanan, suka mendengar isu-isu dari setiap orang. Kemudian ia menyebarkan seluruh yang didengarkannya tanpa rasa takut dan bersalah. Kadang-kala sebuah berita dusta yang bersifat adu domba disampaikan kepada seseorang, lalu ia sebarkan berita itu seolah-olah sebuah kebenaran yang nyata.

  4. Pilah-pilih Amal Ketaatan
    Yaitu memilih amalan-amalan ketaatan yang sesuai dengan dorongan hawa nafsunya saja. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang bijaksana adalah yang mengoreksi dirinya dan segera beramal sebagai bekal untuk hari Akhirat. Dan orang yang lemah adalah yang selalu memperturutkan hawa nafsu, di samping itu ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

    Oleh sebab itu pula, sebagian orang hanya mengikuti kebenaran yang sejalan dengan hawa nafsunya. Kalau tidak sejalan, maka ia akan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tempat bersandar. Sebagian ulama salaf ada yang berkata: “Hawa nafsu dapat menjadi ilah yang disembah-sembah. Kemudian ia membaca ayat: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya.” (Al-Jatsiyah: 23)

  5. Menelantarkan Urusan Keluarga

    Tidak memperhatikan pertumbuhan keluarga dan anak-anak sampai kepada kondisi yang diharapkan. Seringkali kita temui orang-orang yang sibuk dengan karirnya, sementara keluarga dan anak-anaknya tenggelam dalam perbuatan dosa. Namun meskipun demikian, hatinya tidak tergerak untuk merubahnya. Kadangkala ia memergoki dengan mata kepalanya sendiri kemungkaran itu, tetapi ia diam seribu bahasa. Begitulah akibatnya jika sudah terlalu banyak berbuat dosa, kesadaran pun sulit tergugah.

  6. Tidak Teguh Menghadapi Problematika Kehidupan, Cobaan dan Musibah. Gemerlap kehidupan dunia kerapkali menyesatkan banyak manusia. Sedikit demi sedikit ia terseret ke dalam perbuatan haram. Gemerlap dunia itu sangat kuat pengaruhnya dalam menurunkan nilai ketaatan seseorang, atau bahkan dapat menghilangkan nilai ketaatan itu dalam dirinya. Seseorang yang keluar dari rumahnya demi mencari sesuap nasi, berbagai usaha pun dicobanya. Namun akhirnya ia terjerumus dalam praktek riba, hingga jadilah ia orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya.
  7. Mengabaikan Hak-hak Persaudaraan.

    Terkadang seseorang mengabaikan hak-hak tersebut, seakan-akan hak-hak persaudaran itu semata-mata ada jika menguntungkannya saja. Sering kita temui sebagian orang yang melihat saudaranya me-lakukan perbuatan maksiat dan dosa, namun ia bersikap acuh tak acuh saja. Atau ada seorang saudaranya seiman yang meminta nasihat dan pengarahan darinya, atau meminta bantuannya untuk menghilangkan kesulitan, atau kepentingan-kepentingan lainnya, namun ia tidak merespon hal itu sedikitpun, apalagi membantu melepas-kan saudaranya itu dari kesulitan! Tentu saja sikap semacam ini dapat mencederai nilai ketaatan. Semakin banyak hak persaudaraan yang kita abaikan, semakin lemah pula nilai ketaatan kita.

PANAH KEDUA: PENYAKIT UJUB

Seorang yang ujub akan tertimpa dua kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di mata manusia. Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Imam Syafi’i pun  berkata”Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri secara berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjatuhkan mar-tabatnya.”

Orang yang terkena penyakit ujub akan memandang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan menganggapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits: “Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terka-dang padam bila dihembus angin ujub!

Sebab-Sebab Ujub

1. Faktor Lingkungan dan Keturunan.

Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.

2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan

Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.

3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub

Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda: “Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.

4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun; “Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al-Qashash: 78)

5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan
Belum Terbina Dengan Sempurna

Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali.  Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali

Bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang berse-pakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrok-annya.

6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)

Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh men-jadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang dituju-kan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:

Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya. Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina. Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua. Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala? Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.

Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.

7. Berbangga Dengan Keturunan

Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan.

8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka.” (HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

9. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, awal hadits berbunyi: “Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

Dampak ujub

  1. Jatuh dalam jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.
  2. Dijauhkan dari pertolongan ilahi. Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman: “Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69)
  3. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan. Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: ‘Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Siapakah yang mampu lari dari hari kematian? Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan? Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya. Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?
  4. Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86). Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah ‘Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu’

Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan: “Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri. Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain./

PANAH KETIGA: SANJUNGAN YANG MENGHANYUTKAN

Imam Ats-Tsauri menuturkan: “Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindarilah sifat senang disanjung orang.” Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan selalu mengingatnya-pent). Dalam sebuah hadits disebutkan: “Barangsiapa yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Ats-Tsauri berkata: Dalam kategori ini: Engkau menginginkan mereka memuliakanmu dan senang jika engkau mendapat kehormatan dan kedudukan di hati mereka. Menurut hemat saya korban panah macam ini banyak sekali tapi mereka bermacam-macam bentuknya, yang sebagian tidak begitu tampak karena sebagian orang memahami pujian hanya dari satu sisi saja dan melupakan sisi yang lain, di antaranya juga ada yang datang dari sisi senang dipuji oleh orang lain lewat perkataan. Dan banyak orang ingin membaca kehebatan bola ghoh orang yang memujinya samapi-sampai ada yang menunjukkan bahwa pujian-pujian itu adalah memang bukti nyata keadaan orang yang dipujinya seolah-olah dia mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang laki-laki yang berdiri di depan Musailamah Alkadzab yang mengaku-aku sebagai nabi, Musailamah berkata kepadanya: “Aku lebih tahu apa yang ada dalam hatimu!” Orang itu berkata kepadanya: “Aku juga tahu apa yang ada di dalam hatimu!” “Apa itu!” sergah Musailamah. Orang itu menjawab: “Demi Allah, aku tahu sebenarnya engkau menyadari bahwa sesungguh-nya aku mengetahui engkau adalah seorang pendusta!”

Hendaknya seseorang menyederhanakan bahasa dan tutur katanya. Jangan sampai lisannya menjadi batu sandungan bagi dirinya, sebab dosa yang dituai lisan pada umumnya dari hal semacam ini. Seandainya orang yang senang dipuji selalu ingat (bahaya yang timbul dibalik pujian), niscaya ia menyadari bahwa dialah yang paling mengetahui akan kelemahan dirinya sendirinya. Namun manusia itu selalu lupa, mudah terpedaya dan suka berpaling dari nasihat orang lain yang mengajarkan kepadanya etika pergaulan dan nilai-nilai agama.

Di antara tanda-tanda orang munafik adalah senang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, benci celaan atas kejelekan yang ada pada dirinya, dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangan-nya. Segeralah introspeksi dirimu wahai saudaraku! Sekiranya seseorang datang secara pribadi berkata: “Saya melihat kekuranganmu ini dan ini”, apakah wajah-mu lantas memerah lalu engkau memakinya, engkau tetap tidak bergeming dari kekurangan itu! Bahkan mengomel sambil berkomat-kamit mengucapkan laa haula wala quwwata illa billah! Ataukah engkau berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kekuranganku”

Engkau akan dapati orang tersebut menjadi korban sanjungan menghanyutkan itu. Seandainya seseorang menyanjungnya, hatinya langsung berbunga-bunga, girang-gembira dan tenggelam dalam khayalan-khayalan indah. Mengapa? Sebab dirinya akan terbuai dengan sanjungan itu. Namun jika datang orang lain yang mena-sihatinya, sikapnya langsung berubah aneh, dadanya menjadi sempit, langsung ditimpalinya dengan omelan panjang, dan keluar kata-kata keji lagi kasar dari lisan-nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menutupi kesalahan-kesalahan kita, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar. Setiap orang tentu lebih tahu tentang rahasia dirinya sendiri daripada orang lain. Pujian orang lain kepada kita hanyalah jaring-jaring godaan yang dilemparkan setan untuk menjerat diri kita.

Jenis pujian lainnya adalah memuji diri sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Sebagian orang sengaja memuji diri sendiri di hadapan orang banyak. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:  “Janganlah kamu menganggap diri kamu suci” (An-Najm: 32)

Betapa bahagia orang yang dapat menjaga diri dari panah-panah setan tersebut. Selalu mengoreksi dan menyadari kekurangan dirinya. Lalu menyadari bahwa seberapapun banyak amal yang dikerjakannya, tetap kecil dibandingkan dengan kewajiban bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat yang telah tercurah kepadanya. Hendaklah selalu kita ingat salah satu dari tujuh orang yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu seorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan seperti orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuk beramal shalih, yang tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang saja. Manfaat amalnya dapat dirasakan segenap kaum muslimin, namun mereka tidak mengetahui orang yang melakukannya.

Dalam suatu kisah disebutkan ketika Maslamah bin Abdulmalik kesulitan merebut sebuah benteng yang tengah dikepungnya. Benteng itu sangat kokoh sehingga sulit ditaklukkan. Maslamah berkata kepada pasukannya: “Siapakah yang berani masuk menerobos lewat jendela itu, untuk membuka pintu benteng dari dalam?” Maka majulah seorang yang bertutup muka, ia segera menerobos jendela itu dan membuka pintu benteng dari dalam. Begitu pintu terbuka pasukan kaum muslimin segera menyerbu masuk ke dalam benteng, dan terjadilah pertempuran yang sengit. Akhirnya pasukan kaum muslimin dapat menaklukkan musuh.

Selesai peperangan, Maslamah duduk-duduk bersama segenap pasukannya. Ia berkata: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun segenap pasukan diam membisu! Maslamah berseru sekali lagi: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun mereka masih saja diam. Akhirnya Maslamah berkata: “Demi Allah, wahai orang yang bertutup muka, silakan datang menemuiku siang atau malam hari!” Pada malam harinya tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan tenda Maslamah, Maslamah bertanya: “Apakah engkau orang yang bertutup muka itu?” Orang itu menjawab: “Orang yang bertutup muka itu membuat beberapa persyaratan kepada kalian.” “Apa itu?” tanya Maslamah. “Ia mensyaratkan agar kalian tidak bertanya tentang namanya dan nama ayahnya, dan kalian jangan memberinya hadiah serta jangan laporkan namanya kepada khalifah” jawab orang itu. “Kami penuhi syarat-syaratnya!” balas Maslamah. Orang itu berkata: “Akulah orang yang bertutup muka itu!”

  1. Kekuasaan dan kelemahan Syaithon                                       16:99-100

Syaithon tidak dapat menolong manusia                                  25:28-29

Menahan godaan Syaithon                                                       7.200

Kewajiban seorang mukmin terhadap bisikan syetain tersebut adalah dengan memohon perlindungan kepada Allah dari segala pengaruh, godaan dan bisikan syaithon. Selain itu harus ditanamkan kebencian ketidak sukaan atas ajakan Syaithon tersebut dengan melaknat Syaithon beserta pengikutnya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail. Perintah Allah untuk menjauhi Syaithon adalah dengan :

Meninggalkan apa yang mereka ada-adakan

Jangan terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir. Jangan menujukan kedua mata pada apa yang telah Allah berikan kepada mereka karena itu hanya merupakan bunga kehidupan semata.

Berlindung kepada Allah dari  bisikan-bisikan  yang menggoda dari golongan Jin dan Manusia. Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak [260] di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (3:196-197)

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan  kepada  golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (20:131)

Hal ini dimaksudkan agar mukminin tidak terpikat oleh pengaruh dan ajakan kesengan hidup syaithon yang pada gilirannya akan melemahkan iman kepada Allah, lemah dalam berjuang di jalan Allah dan akirnya keluar dari sabilillah.

Pos ini dipublikasikan di Aqidah, Religi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s