Manasik Haji Rasulullah

Manasik haji harus sesuai dengan tuntunan Rasululullah SAW agar tidak tertolak dan tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan Allah dan RasulNya. Apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya lakukanlah dan apa yang dilarang jangan dilakukan. Karena itu penting mempelajari manasik rasulullah agar ibadah haji kita tidak tertolak.

Sayangnya banyak jemaah haji yang tidak dibekali dengan ilmu yang memadai sehingga dalam melaksanakan ibadah terkesan ikut-ikutan. Memang ada bimbingan manasik haji sebelum berangkat, namun waktunya terlalu singkat untuk memberikan bekal memadai. Pembimbing haji (muthawif) juga disediakan, namun banyaknya jamaah maka tentunya ada berbagai keterbatasan.

Di samping memahami manasik haji, kita perlu membekali diri dengan berbagai pemahaman tentang latar belakang sejarah dan pemaknaan dari setiap ibadah haji sehingga kita dapat meresapi setiap langkah dan selalu terhubung dengan jejak para pendahulu dalam beribadah kepada Allah swt. Hal yang perlu dilakukan sebagai persiapan adalah mempelajari makna dan manasik haji, menghafalkan beberapa doa-doa penting, mempelajari sejarah Islam dan mempelajari shalat jenazah.

Rukun haji adalah Perbuatan yang menjadikan sahnya haji atau umrah serta tidak dapat diganti dengan dam (denda) sekalipun. Perbedaan rukun haji dan umrah adalah sebagai berikut:

Rukun Haji Rukun Umrah
1. Ihram 1. Ihram
2. Wukuf di Arafah  
3. Thawaf Ifadah 2. Thawaf
4. Sa’i 3. Sa’i
5. Tahalul 4. Tahalul
6. Tertib 5. Tertib

 

Jika salah satu rukun haji tidak dilaksanakan maka tidak dapat diganti dengan Dam serta hajinya tidak sah sehingga harus mengulang lagi tahun depan. Sementara jika rukun umrah kurang maka dapat mengulang dengan kembali berihram di miqat.

Wajib Haji atau Umrah adalah ritual ibadah yang harus dilakukan, namun jika tidak dilakukan karena udzur maka haji atau umrahnya tetap sah namun wajib membayar dam. Jika tidak ada udzur yang dapat dipertanggungjawabkan maka ia berdosa. Perbedaan kegiatan yang termasuk wajib umrah dan wajib haji adalah sebagai berikut:

Wajib Haji

Wajib Umrah

Ihram dari Miqat Ihram dari miqat
Mabit di Muzdalifah  
Melontar Jumrah Aqobah 10 Dzulhijah  
Mabit di Mina 11,12 atau s.d. 13 Dzulhijah  
Melontar 3 jumrah selama hari tasyrik  
Menjauhi larangan ihram Menjauhi larangan ihram

 

Allah dan Rasullullah saw memberikan 3 alternatif pilihan untuk melakukan Haji yaitu secara tamattu, Ifrad atau Qiran.  Bila menyaksikan jumlah jamaah haji yang dari waktu ke waktu semakin membludak, kita menyadari bahwa adanya alternatif tersebut sangat membantu agar tidak terjadi penumpukan aktivitas yang menyebabkankepadatan manusia yang dapat menyebabkan kecelakaan.

Haji Tamattu dilakukan apabila ihram untuk umrah dilaksanakan terlebih dahulu sebelum ihram untuk haji. Umumnya jamaah Indonesia yang datang awal ke Mekah melaksanakan haji tamattu dengan pertimbangan kemudahan. Setelah selesai thawaf dan sa’i umrah, jamaah haji dapat langsung tahallul sehingga bebas dari larangan ihram. Tamattu sendiri secara harfiah berarti bersenang-senang karena pelaksanaannya relatif lebih mudah dan longgar tanpa harus terus menerus menggunakan pakaian ihram. Bagi yang melaksanakan haji tamattu maka wajib membayar Dam nusuk berupa seekor domba di Mina. Dam ini bukan disebabkan adanya pelanggaran ihram atau meninggalkan wajib haji namun merupakan rangkaian dari prosesi haji.

 

Haji Ifrad artinya haji dan umrah dilaksanakan secara terpisah pada satu musim haji dengan mendahulukan ihram untuk haji kemudian setelah selesai prosesi haji, melaksanakan ihram untuk umrah dari miqat terdekat (Tan’im atau ji’ranah). Haji Ifrad dilaksanakan oleh jamaah yang datang ke Mekah pada saat sekitar 8 Dzulhijah. Bagi yang melaksanakan Haji Ifrad tidak dikenakan Dam. Haji Ifrad jarang dipilih karena cukup berat mengingat jamaah haji harus tetap berpakaian ihram sejak datang di Mekah sampai selesai ibadah haji.

 

Ketika pertama kali datang ke Mekah, Haji ifrad disunatkan melaksanakan Thawaf Qudum sebagai thawaf selamat datang. Setelah Thawaf qudum boleh langsung sa’i tapi tidak tahalul. Setelah itu maka jamaah haji menunggu pelaksanaan haji sambil tetap dalam keadaan ihram. Tahalul dilakukan setelah selesai thawaf ifadhah dan sa’i haji pada hari tasyrik.  Selesai Haji,  jamaah harus bersiap melaksanakan ibadah umrah dengan melakukan ihram kembali hingga selesai ibadah umrahnya.

 

Haji Qiran dilaksanakan dengan melakukan ihram untuk haji dan umrah sekaligus dengan niat Labbaik allohumma Hajjan waumratan. Dengan demikian seluruh pekerjaan umrah sudah tercakup dalam pekerjaan haji. Haji Qiran wajib membayar dam nusuk berupa seekor Kambing.

 

Dari ketiga alternatif tersebut tidak ada yang lebih afdhol mengenai cara melaksanakan Haji, melainkan sekedar cara untuk memudahkan pelaksanaan ibadah haji itu sendiri.

 

Selain Rukun dan wajib haji, ada banyak kegiatan yang termasuk sunnah haji dan umrah, antara lain:

  1. Mandi Ihram
  2. Shalat dua rakaat
  3. Shalat sunnah thawaf di maqam ibrahim dan Hijir Ismail
  4. Mencium hajar aswad
  5. Bertalbiyah
  6. Mabit di Mina sebelum Wukuf di Arafah. (tanazul)

Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan ibadah Haji yang benar, kita perlu mempelajari manasik haji Rasulullah SAW sesuai riwayat  Jabir bin Abdullah.  

“Saat Rasulullah SAW telah tinggal di kota Madinah selama sembilan tahun, diumumkan kepada manusia bahwasanya Rasulullah Saw akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ke sepuluh Hijriyah. Maka para Sahabat berdatangan ke kota Madinah, berharap akan mengikuti tata cara haji Rasulullah SAW dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzul Hulaifah. Di sana Asma’ binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar, maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW untuk bertanya apa yang harus diperbuatnya, beliaupun bersabda: “Mandilah dan tutuplah tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah!”. Kemudian Rasulullah SAW melaksanakan shalat di masjid.

A. Rasulullah Berihram.

Kemudian beliau menaiki Unta beliau (Al Qashwa’) hingga setelah berada di tengah padang pasir terbuka, beliau berihram dengan mengucapkan niat berhaji “Labbaik allohumma Hajjan”.

Maka aku melihat sepanjang mata memandang, para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan, berada di depan, di sisi kiri, di sisi kanan dan di belakang dengan Rasulullah SAW berada di tengah-tengah kami. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah”:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ

Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah, maka Rasulullah SAW tidak membantah mereka sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah SAW terus menetapi talbiyahnya. Saat itu kami tidak berniat kecuali haji, karena saat itu kami tidak mengetahui umrah.

 

B. Memasuki Kota Makkah dan Thawaf

“Tatkala kami telah sampai di Baitullah, beliau mengusap Hajar Aswad, lalu thawaf dengan berlari-lari kecil pada tiga putaran dan berjalan seperti biasa pada empat putaran berikutnya. Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim As dan membaca QS Al Baqarah 125: “Wattakhidzuu mimmaqaami Ibraahiim mushala”.

Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca Al Kaafiruun pada rakaat pertama  dan Al Ikhlas pada rakaat kedua. Setelah shalat, beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya di atas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.

C. Berdiri di Atas Bukit Shafa dan Marwah

Kemudian beliau menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca QS Al Baqarah 158: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”

Lalu beliau menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arah Ka’bah. Maka beliaupun   mengucapkan: ”Tiada Ilah yang haq kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Ilah yang haq, kecuali Dia yang Maha esa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan yang bersekutu dengan sendirian.”

Lalu beliau berdo’a, mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali. Kemudian beliau turun dari bukit Shafa menuju ke bukit Marwah. Ketika kedua kakinya menginjak ditengah lembah, beliau berlari, sedangkan ketika kedua kakinya mulai mendaki, beliau berjalan seperti biasa.  Saat tiba di Marwah, beliau menaikinya hingga melihat Baitullah, dan beliau melakukan apa yang beliau lakukan di Shafa.

D. Perintah Nabi SAW Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.

Pada akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda: “Hai sekalian manusia, seandainya aku mengetahui  apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan membawa binatang hadyu, dan akan kujadikan hajiku ini sebagai umrah, maka barangsiapa di antara kalian yang tidak menyertakan binatang hadyu bersamanya hendaklah ia bertahallul dan menjadikan amalannya berupa thawaf dan sa’i sebagai umrah.”

Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang berada di kaki bukit Marwah bertanya: “Ya Rasulullah, Apakah umrah di bulan Haji khusus untuk tahun ini  saja ataukah untuk selamanya? Rasulullah berkata: ‘Umrah telah masuk dalam haji’ (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”

Pada hari ke 7 Dzulhijah Rasulullah menyampaikan Khutbah Pertama di lembah Bathha sebelah Timur Baitullah yang isinya:

“Wahai ummat manusia, pelajarilah cara melaksanakan manasik haji dariku, karena mungkin kalian tidak akan menemuiku lagi setelah tahun ini. Demi Allah, wahai sekalian manusia Apakah kalian mengetahui aku? Sungguh kalian telah mengetahui bahwasanya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti. Laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul. Akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya. Seandainya dahulu aku mengetahui dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”

Maka bertahallullah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah, kecuali Nabi SAW dan mereka yang telah membawa binatang hadyu. Rasulullah tinggal di Mekah selama 4 hari.  Dengan demikian Rasulullah melaksanakan Haji Ifrad bersama 100 lebih sahabat sedangkan yang lain atas petunjuk Rasulullah melakukan Haji Tamattu.

F. Kedatangan ‘Ali bin Abi Thalib Dari Negeri Yaman.

Ali bin Abi Thalib tiba dari Yaman dengan membawa sejumlah unta, lalu ia mendapati Fathimah termasuk yang bertahallul, memakai pakaian yang dicelup dan memakai celak mata, maka ‘Ali mengingkari hal itu. Fathimah berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan ayahku untuk bertahallul.”

Ali berkata: “Maka aku pergi kepada Rasulullah SAW, dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah SAW tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah, maka beliau berkata: ” Dia (Fathimah) benar, dia benar!. Dan beliau berkata kepada ‘Ali: ‘Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?’ ‘Ali berkata:  “Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang RasulMu berihram dengannya.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”

G. Menuju Mina Pada Hari Tarwiyah.

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijah), jama’ah haji berangkat menuju Mina. Mereka berihram haji dengan mengucapkan: ”Labbaik Allohumma Hajjan”. Kemudian Rasulullah SAW menemui ‘Aisyah RA yang sedang menangis, maka beliau berkata: “Apakah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” Aisyah berkata: “Aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf di Baitullah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda: “Sesungguhnya haidh itu adalah perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah, lalu hajilah dan lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat ”

Kemudian Rasulullah SAW mengendarai untanya untuk berangkat ke Mina. Beliau melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh. Beliau menunggu disana hingga matahari terbit, lalu menyuruh mendirikan kemah dari bulu unta untuk berteduh ketika wuquf di Namirah.

H. Berangkat Menuju ‘Arafah.

Lalu berangkatlah Rasulullah SAW dan orang-orang Quraisy. Namun beliau berhenti di Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah. Di situlah beliau turun, sebagaimana yang dilakukan orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi padang ‘Arafah, dan beliau jumpai kemah beliau telah dibangun di Namirah, lalu beliau turun di tempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah untuk menyampaikan khutbah.

I. Khutbah Rasulullah SAW di Arafah.

“Sesungguhnya darah dan harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan di bawah kedua telapak kakiku ini. Darah-darah di zaman Jahiliyyah diletakkan (dibatalkan dari tuntutan) dan darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan di kalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan. Bertakwalah kamu kepada Allah dalam (memperlakukan) para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorangpun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki dan pakaian dengan cara yang baik.”

“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? Para Sahabat berkata: “Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasihati ummat”. Lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuknya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat: ‘Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah”.

J. Menjama Shalat di ‘Arafah.

Kemudian Bilal mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu Rasulullah Saw melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki berada didepannya, beliau menghadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari terbenam dan hilangnya mega kuning.

K. Bertolak Dari ‘Arafah.

Rasulullah Saw bertolak dari ‘Arafah dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kekang unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya seraya bersabda:

أَيُّهَاالنَّاسُ السَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ!

“Wahai sekalian manusia tenanglah, tenanglah!”

L. Menginap di Muzdalifah.

Sesampainya di Muzdalifah, beliau melaksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.

M. Wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah)

Kemudian Rasulullah SAW naik al-Qashwa’ hingga tiba di Masy’aril Haram, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksanakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata: “Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

N. Bertolak dari Muzdalifah untuk Melempar Jumratul ‘Aqabah.

Sebelum matahari terbit, beliau bertolak dari Muzdalifah ke Mina. Beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas hingga beliau tiba di lembah “Muhassir” dan sedikit mempercepat gerak untanya.

Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir pada setiap lontaran yang batunya sebesar batu ketapel, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:

لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُج بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”

O. Menyembelih Binatang Hadyu dan Mencukur Gundul Rambut Kepala

Lalu beliau berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau, kemudian sisanya diserahkan kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Binatang kurban yang selebihnya disembelih oleh ‘Ali dan digabungkan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.

Rasulullah SAW lalu mencukur rambut kepalanya sampai bersih, dan duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijah). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu pekerjaan yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “Tidak mengapa, tidak mengapa.”

Pada hari Nahar, Rasulullah berkhutbah yang berisi pelajaran amaliyah pada hari tasyriq dan penegasan tentang kehormatan tanah haram dan bulan haji. Khutbah keempat Rasulullah disampaikan pada tangga 12 Dzulhijah setelah Dzuhur bertepatan dengan turunnya ayat terakhir al Quran yaitu Al Maidah :3

tPöqu‹ø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3ø‹n=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊu‘ur ãNä3s9 zN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ 4ø

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agamamu.

P. Menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah.

Selanjutnya Rasulullah SAW mengendarai untanya ke Baitullah untuk melaksanakan thawaf ifadhah dan shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam, lalu berkata: “Timbalah zam-zam itu wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya (aku tidak merasa khawatir) kamu akan dikalahkan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka menyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”

Kronologis  pelaksanaaan haji Rasulullah selengkapnya adalah sbb:

 

8 Dzulhijah (hari pertama)

  1. Berihram dari Miqat.
  2. Berangkat menuju Mina melaksanakan Mabit atau Tarwiyah dan melaksanakan lima sholat secara qashar tanpa jama’ selama di Mina. Jika situasi tidak memungkinkan boleh langsung ke Arafah.

 

 

9 Dzulhijah (hari kedua)

  1. Menuju Arafah untuk melaksanakan Wukuf sebagai rukun haji mulai dari Bada dzuhur sampai Magrib.
  2. Selama wukuf melakukan kegiatan mendengarkan khutbah wukuf, berdoa, dzikir, membaca qur’an dan bertaubat.
  3. Shalat dzuhur dan ashar dilaksanakan secara jama taqdim dan qashar.

 

 

 

 

10 Dzulhijah (malam)

  1. Berangkat menuju Muzdalifah untuk Mabit.
  2. Shalat magrib dan isya dijama takhir dan qasar.
  3. Mengumpulkan batu kerikil untuk jumrah sebanyak 49 atau 70 butir.
  4. Shalat subuh menuju masy’aril Haram.
  5. Berangkat ke Mina

 

 

 

10 Dzulhijah (hari ketiga)

  1. Melontar Jumrah Aqobah (Waktu Dluha)
  2. Tahalul awal dan berganti pakaian.
  3. Berkurban
  4. Menuju Mekah untuk thawaf ifadah dan sai.
  5. Setelah Thawaf dan sai,  tahalul tsani.
  6. Sebelum Magrib segera menuju Mina untuk Mabit.

 

11 & 12  (Nafar awal) atau 13 Dzulhijah (Nafar tsani/akhir)

 

  1. Bermalam di Mina.
  2. Melontar 3 jumrah setiap hari bada zawal.
  3. Shalat diqashar tanpa dijama’.
  4. Thawaf Ifadhah dan Sai ke Mekah bagi yang belum.
  5. Melaksanakan umrah bagi yang melaksanakan Ifrad.
  6. Bagi yang melaksanakan nafar awal, pulang ke Mekah sebelum Magrib.

 

Thawaf Wada

 

Dilaksanakan menjelang kepulangan ke tanah air. Thawaf wada’ dapat digabung dengan Thawaf ifadhah, jika setelah ifadhah langsung pulang ke tanah air.

 

Skema perjalanan Rasulullah SAW jika digambarkan sebagai berikut:

 

 

Ibadah haji penuh dengan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang merupakan suatu tamsil bahwa hidup ini penuh dengan pergerakan dari satu alam ke alam lain: Alam Ruhà Alam Rahim à Alam Dunia à Alam Barzah à Alam Makhsyar à Alam Akhirat (syurga atau neraka).

Pos ini dipublikasikan di Haji, Ibadah, Religi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s