Hakikat Manusia

Dalam diri manusia ada dua unsur entitas yang saling bertentangan satu sama lainnya namun kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan yang jika dipisah akan merubah eksistensi kemanusiaan itu sendiri.   

Unsur Bumi : Raga

Raga adalah wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. RAGA  bersifat fana sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi. Raga Manusia disusun berdasarkan unsur material bumi (air, tanah, udara, api) yang akan terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan). Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari; daging, tulang, sungsum dan darah. Unsur udara akan berproses melalui kegiatan bernafas, berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad dan, energi. 

Unsur Tuhan: Ruh

Unsur Tuhan bersifat kekal yang dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni roh. Karakter roh berkiblat kepada kesucian Tuhan. Namun memang Sangat sedikit kita memahami tentang ruh ini,

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. 17:85

 Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. 32:7-9

 

Dalam tubuh manusia terdapat dua unsur yakni unsur bumi (RAGA) dan unsur Tuhan (RUH). Di antara kedua unsur tersebut terdapat “bahan penyambung”, yaitu  jiwa  atau nafs yang berfungsi sebagai “lem perekat” antara roh dengan RAGA.  

Setiap bayi lahir ibarat kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” duniawi. Nafs inilah yang diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di RAGA dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada ROH. Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan duniawi. Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa pedoman hidup dan berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya kebenaran dari Tuhan.  

Nafs atau jiwa yang tunduk kepada roh suci akan menghasilkan nafsu positif atau nafs al-muthmainah. Jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negative yang terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur), Nafsu amarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan emosi contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji).

Dua kutub nafsu yang bertentangan tersebut ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita ingin melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu.

 Manusia Bebas Memilih

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya “(91:7-10)

Pada setiap bayi lahir,Tuhan telah menciptakan Nafs dalam keadaan suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci atau ingin berkiblat kepada Raga (unsur duniawi). Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran maka akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal, bahkan bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia.

 “Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi atau penundukan unsur “Tuhan” terhadap unsur bumi.  

Puasa adalah bentuk latihan agar seseorang jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Puasa merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Maka apa yang disebut sebagai Jihad sesungguhnya adalah perang tanding dalam kalbu antara tentara nafsu positif melawan tentara nafsu negatif.

Target Utama dalam “Berjihad” 

Hai jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, QS 89:27-30

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah.  Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbit Tuhan,  

Setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Yang Mahasuci.

“tidak ada suatu jiwa pun (diri) melainkan ada penjaganya.” 86:4

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam jihad antara kekuatan nafsu positif melawan nafsu negatif. Perang berlangsung di medan perang Kalbu. Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran. Kemenangan Nafsu positif tidak mudah. Sekalipun kalah Nafsu negatif selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, hawa nafsu negatif akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah.

Dengan tersusunnya manusia atas tiga substansi utama tersebut maka wajarlah jika Islam kemudian memberikan bimbingan yang terkait dengan masing-masing bagian tersebut. Untuk hal-hal yang terkait dengan jasmani/ragawi diberikan bimbingan melalui Rukun Islam yang keseluruhan bagiannya banyak melibatkan aktivitas fisik. Sedangkan Rukun Iman membimbing manusia untuk hal-hal yang terkait dengan aktivitas mental/jiwa seseorang. Kemudian keseluruhan hal tersebut dipadukan dan dilebur melalui ihsan yang merupakan ruh dari segenap inti kehidupan manusia.

Untuk mencapai derajat manusia yang paripurna diperlukan pelatihan yang berkesinambungan dari mulai pengkondisian fisik supaya dapat memberikan dampak pada mental dengan dihidupkan oleh aspek kesadaran ruhaniyah yang memadukan keseluruhan bagian diri manusia.

Derajat manusia tertinggi yang di dalam Islam dikenal sebagai kaum mukhlish. Para mukhlish ini sudah mencapai derajat keikhlasan yang luar biasa hingga ego dalam dirinya sudah berubah kepada kesatuan ruhaniyahnya dengan Sang Ilah. Atau dengan kata lain mereka sudah tidak lagi memiliki ego dalam dirinya. Bagi mereka apapun yang terkait dengan Sang Maha Pencipta adalah ego mereka, bukan diri mereka sendiri lagi.

Namun untuk mencapai kondisi mental seperti itu dilalui melalui jalan yang panjang. Dimulai dari menjadi seorang Muslim kemudian menjadi seorang muttaqien (yang bertakwa) sampai meraih kemampuan lepas dari segala hal termasuk dirinya sendiri kecuali Alloh SWT sebagai seorang mukhlish.

Pos ini dipublikasikan di Personal Development, Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Hakikat Manusia

  1. Ping balik: Mengenal hakekat manusia | Blognya Denmas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s