Aqidah

Aqidah adalah thabi’ah bukan ilmu, sebab, hatilah yang dapat menangkap pengetahuan samawi dan  memancarkan  dorongan-dorongan luhur; Akal hanyalah gambaran pemikiran yang  serba  terbatas dan dengan akal semata orang tidak cukup untuk mengetahui haqiqat luhur aqidah.

Aqidah adalah ikatan paling kuat yang mengikat  antara pejuang dan tujuannya dengan orang-orang yang  sefaham dengannya. ” Tidak ada ikatan yang paling kuat  selain ikatan Aqidah dan tidak ada Aqidah yang paling kuat selain Islam,” demikian Imam Hasan al-Banna menyatakan.

Islam adalah dien para Rasul yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Karakter dan tujuan Islam  dapat diungkapkan dalam dua kata: tawhid dan wihdah atau iman dan ishlah. Pengertian ini dapat kita tangkap dari sabda Rasulullah SAW ketika beliau ditanya  seorang Arab Badawi: “Tunjukkan aku pada sesuatu didalam Islam yang aku tidak akan menanyakan didalamnya kepada siapapun setelah engkau.” Rasulullah SAW bersabda, “Katakan:  Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamalah”.

Islam yang hanif datang dengan membawa sistem sosial yang sempurna yang mengatur milik pribadi, kehidupan keluarga, hubungan kemasyarakatan, dasar-dasar  kenegaraan, faktor-faktor kesatuan dan politik dunia. Sistem tersebut melahirkan dasar-dasar kerohanian yang di dalamnya menyatu nilai-nilai luhur dan kenyataan yang berhubungan erat dengan manusia sehingga sangat sesuai dengan jiwa manusia yang sesungguhnya. Allah berfirman: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’matNya bagimu supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Ma’idah: 6)

Islam menegakkan Dawlah ideal yang kukuh ibarat satu bangunan yang  kukuh  tinggi yang tegak diatas fondasi yang kuat, empat tembok, atap dan pagar. Pondasinya ialah Ma’rifatullah dan Tawhid. Temboknya yang empat terdiri atas:

1. Ibadah

Ibadah adalah  tujuan  diciptakan manusia dan sebab eksistensinya. Firman Allah: “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar  mereka beribadat kepada-Ku” (QS. al-Dzariyat: 56).

Terutama shalat sebagai mi’raj seorang  Muslim  kepada Rabbnya dan merupakan tiang Islam pertama. Dengan shalat manusia dapat berhubungan dengan Rabbnya.Ia adalah perjalanan spiritual yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

2. Ilmu

Islam mendorong manusia supaya menuntut  dan mendalami ilmu pengetahuan. Atas dasar ilmu manusia  mendapatkan keutamaan dan keistimewaan. Allah berfirman: “Allah meninggikan orang-orang beriman dari kamu seka lian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa  dera jat.” (QS. al-mujadalah: 11)

Dengan ilmu orang dapat meraih dunia dan akhirat sekaligus sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i “Barangsiapa menghendaki dunia,maka ia harus dengan Ilmu dan barangsiapa menghendaki akhirat, maka ia harus dengan ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka ia harus dengan ilmu.”

3. Ukhuwwah

Ia adalah ikatan yang paling kuat yang mengikat seluruh kaum Mu’minin dan menjaga mereka dari keterpecahbelahan serta menyatukan hati mereka. Dengan ukhuwwah, kaum Mu’minin menjadi seperti bangunan yang tersusun rapih antara satu sama lainnya saling menguatkan. Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang Mu’min itu bersaudara.” ( QS. al-Hujurat: 10)

4. Tasyri’

Tasyri’ adalah dasar-dasar yang harus diiltizami ummat dan diikuti manhajnya.Tasyri’lah yang memelihara eksistensi ummat dan menentukan arah serta meluruskan jalan nya. Firman Allah: “Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas satu syari’at dari urusan (dien) itu, maka ikutilah syariat  itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang  yang tidak mengetahui.” (QS. al-Jatsiyah: 18)

Atap yang menjadikan tembok yang empat ini  kukuh  adalah hukum (pemerintahan). Ia adalah kekuatan pelaksana dan pengarah. Di dalam sebuah atsar dikatakan: “Sesungguhnya Allah memberi dengan  kekuasaan  apa-apa yang tidak diberikan dengan Qur’an.”

Dalam sebuah hadits dinyatakan: “Ikatan Islam akan terurai satu demi satu,  pertamanya dengan menetang hukum (pemerintahan) dan akhirnya (meninggalkan) shalat.”

Hasan Bishri berkata: “Jika da’wah ini (kewajiban) bagiku, niscaya  ia (juga kewajiban) bagi penguasa. Sebab, Allah memperbaiki banyak akhlaq dengan perbaikannya.” Sedangkan pagar yang melindungi bangunan Islam  adalah Jihad. Ia merupakan penjaga terpercaya yang dapat melindunginya. Firman Allah: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang  itu salah satu yang kamu benci.” (QS. al-Baqarah: 216)

“Sesungguhnya orang-orang Mu’min itu ialah orang  yang beriman dengan Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka dijalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang  benar.” (QS. al-Hujurat:15)

Para  imperialis dan  antek-anteknya berusaha keras meruntuhkan da’wah Islam. Mereka meruntuhkan Ibadah dengan cara  mendirikan dan menggalakkan perjudian, permainan dan kebejatan. Mereka mencoba meruntuhkan Ilmu dengan  cara  merusak sistem pendidikan dan pengajaran serta terlalu mementingkan kulit dan mengabaikan intinya. Mereka menghancurkan ukhuwwah dengan cara menumbuhkan partai-partai politik. Mereka memerangi hukum Islam dengan  cara  menerapkan undang-undang buatan manusia.

Orang Kafir memerangi  seluruh  aspek Islam sampai Islam hanya menjadi acara ritual dimasjid masjid dan dijadikan alat melegimitasi program-program penguasa. Para penguasa kaum Muslimin dewasa ini merendahkan Islam. Mereka menipu orang-orang awam dan melempar Islam dari kekuatan politik dan perundang-undangan

Bahkan ada diantara orang-orang yang  disebut  sebagai cendekiawan Muslim yang begitu bersemangat meruntuhkan beberapa aspek Islam, seperti dikatakan bahwa Islam tidak mempunyai konsep tentang  masalah- masalah  sosial dan lain semacamnya.

Islam diperangi dari dalam dari luar. Namun Islam, sebagai kekuatan al-Haq, akan menang sebagaimana pernah menang terhadap rongrongan Abu Jahal dan Ibnu Ubay. Islam akan menang menghadapi serbuan musuh dan tipu daya Munafiqin dari dalam. Islam akan kembali  sebagai sesuatu yang asing seperti ia pertama kali datang.

Berbahagialah orang-orang yang termasuk Ghuruba, sebagaimana diisyaratkan Rasulullah SAW dalam  haditsnya. Siapa Ghuruba termaksud? ialah  para  pejuang Aqidah disepanjang masa dan disetiap generasi.  Mereka adalah Haqiqat yang senantiasa diperangi para  pembela kesesatan dan Nur yang selalu dirongrong para  pembela kegelapan. Firman Allah: “Mereka itulah orang-orang yang diberi  petunjuk  oleh  Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”(QS.al-An’am:90)

Pos ini dipublikasikan di Aqidah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s